Itulah moto panggilan hidup yang dipilih Pastor Yohanes Jonga dalam berkarya selama 25 tahun di Tanah Papua.
suaraperempuanpapua.com – MISA 25 Tahun Imamat Pastor Yohanes Jonga Projo dipimpin oleh Uskup Jayapura Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You Pr. di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Koya Barat, pada Minggu 25 Oktober 2026.
Perayaan 25 Tahun Imamat Pastor John Jonga ini dihadiri ribuan umat Katolik dari Dekenat Keerom dan umat dari beberapa paroki di wilayah Keuskupan Jayapura.
Selain umat Katolik, dihadiri juga para undangan perwakilan pemerintah Kabupaten Keerom, Pemerintah Kota Jayapura dan Pemerintah Provinsi Papua.
Uskup Jayapura Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You Pr. dalam kotbahnya mengatakan kita hadir tidak hanya merayakan hari Tuhan pada hari Minggu, tetapi juga kita hadir merayakan 25 Tahun Imamat Pastor Yohanes Jonga. Perayaan 25 Tahun Imamat ini mestinya dirayakan pada 14 Oktober, namun karena satu dan hal lain sehingga baru dirayakan pada hari ini, Minggu 25 Oktober 2026.

“John Jonga suka bergaul dengan sembarang orang. Tidak hanya memilih orang besar saja, tapi juga orang–orang kecil, pejabat, kaya atau miskin. Dia memilih semua orang sebagai sahabatnya. John tidak tinggal di kota, tapi dia memilih tinggal di Koya dengan orang-orang Papua sebagai sahabatnya,” ujar Uskup Jayapura Mgr. Yanuarius You.
Yohanes Jonga mulai berkarya sebagai Imam Projo di Tanah Papua setelah ditahbiskan menjadi Pastor pada 14 Oktober 2001 di Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi APO oleh Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, dengan moto tahbisannya, “Kamu adalah Sahabat–Ku (Yoh 15:14), dan masa karya Imamatnya telah memasuki 25 tahun pada 14 Oktober 2026.
Selama 25 tahun bertugas sebagai Imam, tidak hanya bertugas di satu paroki, tapi bertugas berpindah–pindah dari satu paroki ke paroki lain di wilayah Keuskupan Jayapura. Seperti Paroki St. Mikhael Waris, di Wamena dan Yahukimo.
Pastor kelahiran Nunur-Mbengan-Manggarai Timur Flores Nusa Tenggara Timur ini, menginjak Tanah Papua pada 1986 di Paroki Santo Stefanus Kimbia Lembah Baliem Wamena, dan berpindah–pindah tempat tugas. Pastor John yang lebih dikenal aktivis lembaga swadaya masyarakat ketimbang Imam Katolik itu selalu bertugas di wilayah–wilayah yang kebanyakan orang menyebutnya “daerah merah”.
Tapi John Jonga tidak pernah takut dan selalu bersuara lantang atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Tanah Papua tanpa memandang siapa pelaku.

Uskup Jayapura Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You Pr, mengatakan selama masa tugasnya sebagai Imam, John Jonga bertugas di tempat terpencil dan hidup bersama orang Papua dengan penuh tantangan dan keterbatasan sebagai sahabat”nya untuk menunjukan jalan yang benar kepada sesama manusia di bidang hak asasi manusia, dan perjuangan tentang kesetaraan gender. Akhirnya, Uskup Jayapura Mgr. Leo Laba Ladjar menjuluki John Jonga dengan Pastor Perempuan, bukan Pastor Bencong.
“John Jonga berjuang di bidang penegakan HAM dan kesetaraan gender dengan suara lantang tiak hanya berkata–kata, tetapi juga melalui tulisan. Semangat perjuangannya terus berjalan sampai hari ini di tengah orang–orang kecil, orang–orang Papua sebagai sahabatnya.”
“Saya baru tahu bagaimana merasakan bagaimana perjuangan Pastor John Jonga dalam memperjuangkan hak–hak orang kecil, bukan hanya orang Papua, tapi juga hak semua orang dari berbagai suku yang datang hidup di Tanah Papua. Kita sebagai sahabat Yesus, kita harus hidup saling mengasihi di antara kita sebagai sesama manusia. Allah meminta kita untuk saling mengasihi kepada sesama, orang–orang miskin, orang–orang kecil dan orang–orang sengsara dan orang–orang difabel,” ujar Monsenyur Yanuarius You.
Uskup Jayapura menambahkan, 25 tahun pelayanan Pastor John Jonga adalah bukti bahwa firman Allah benar–benar hidup di tengah–tengah kita. Yesus mengatakan, “inilah perintah-Ku kepadamu agar kamu saling mengasihi. Itulah yang dibuktikan John Jonga selama 25 tahun hidup sebagai Imam di Tanah Papua.
Paskalis Keagop (Koya Barat)


