Manuel Adelbert Mangadil adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan Papua yang dilupakan Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Mangadil adalah orang pribumi pertama yang menggantikan Pendeta Izaak Samuel Kijne menjadi Direktur Normaal School Miei. Tapi ditawan tentara Jepang dan dipenggal kepalanya di Manokwari dan jasadnya dibawa ke Pantai dan dibuang ke laut. Namanya pun hilang dalam catatan sejarah Papua.
suaraperempuanpapua.com – TAK banyak orang yang tahu nama Manuel Adelbert Mangadil. Dia salah satu tokoh penting dalam peradaban orang Papua yang namanya hilang dalam sejarah. Manuel Adelbert Mangadil adalah orang pribumi kedua yang menjadi Direktur Normaal School Miei menggantikan Pendeta Izaak Samuel Kijne. Sekira 1932, Mangadil bersama dua temannya dikirim Pemerintah Belanda pergi sekolah di H.I.K Solo. Setelah lulus, tiga sekawan ini pulang ke Sangir-Talaud. H.I.K Solo di Jawa Tengah adalah sekolah calon direktur.
Setelah lulus, Mangadil bersama dua temannya pulang ke Sangir-Talaud, Sulawesi Utara. Setibanya di kampung halaman, ketiga pemuda itu mendapat tawaran dari Kantor Badan Zending Utrecht di Belanda untuk bertugas di Nieuw Guinea, tapi dua orang menolak. Hanya Manuel Adelbert Mangadil yang menerima tawaran Zending untuk bertugas di Nieuw Guinea.
Saat menerima tawaran tugas ke Nieuw Guinea itu, kedua orangtua Mangadil menolak anaknya untuk bertugas ke Nieuw Guinea. Karena, dia adalah satu–satunya anak laki-laki dalam rumah yang menjadi tumpuan keluarga Mangadil di kampungnya, yang baru selesai pendidikan tinggi di Solo dan baru menikah.
Di Sangir-Talaud, orangtua Manuel Adelbert Mangadil adalah keluarga terpandang, karena mereka tergolong garis keturunan raja–raja. Tingkat pendidikan, strata dalam masyarakat dan anak laki–laki satu–satunya dalam keluarga menjadi alasan utama orangtua untuk tidak merestui anak mereka untuk bertugas ke Nieuw Guinea.
Orangtua Mangadil takut karena kondisi Nieuw Guinea saat itu tidak aman. Kondisi kehidupan masyarakatnya masih primitif, masih hidup telanjang dan masih makan daging manusia. Setiap saat terjadi perang suku, dan tidak ada sarana dan prasarana komunikasi dan transportasi untuk mengadakan interaksi dengan dunia luar. Kondisi Nieuw Guinea yang tidak tentu itu membuat keluarga Mangadil sangat khawatir dengan keselamatan anak mereka untuk bertugas ke Nieuw Guinea.
Namun, atas kerinduan, cinta yang besar dan rasa ingin tahu kondisi masyarakat Nieuw Guinea, maka Manuel Adelbert Mangadil menerima tawaran Zending tanpa pertimbangan apapun dan berangkat ke Miei bersama kedua orangtua, istrinya, Blandina Kansil Mangadil dan anak laki-laki pertama mereka bernama Bertje Mangadil.
Keluarga Manuel Adelbert Mangadil tiba di Miei, Wandamen (kini Kabupaten Teluk Wondama) pada 1936 menjadi Guru Normaal School Miei. Empat tahun kemudian, Mangadil diangkat jadi Direktur menggantikan Pendeta Izaak Samuel Kijne yang saat itu pergi cuti ke Malang.

Tiga tahun kemudian, anak kedua Mangadil lahir di Miei, pada 13 Januari 1943. Anak kedua yang perempuan itu diberi nama Vasthie Mangadil. Jadi, Mangadil memiliki dua anak: seorang anak laki-laki bernama Bertje Mangadil lahir di Sangir-Talaud, dan seorang anak perempuan bernama Vasthie Mangadil lahir di Miei, Wandamen.
Beberapa saat kemudian, Pendeta Izaak Kijne pergi cuti di Malang, Jawa Tengah, tapi ditangkap tentara Jepang dan dipenjarakan di Sibolga, Sumatera Utara. Beberapa saat sebelum pecah perang dunia kedua, Pendeta Izaak Samuel Kijne dibebaskan dan pergi cuti di Belanda.
Di jaman Pemerintahan Belanda, hanya orang–orang Belanda, keturunan bangsawan serta orang–orang yang telah mendapat pengakuan kewarganegaraan Belanda saja yang bisa menjadi Direktur di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Zending di Nieuw Guinea maupun di wilayah kekuasaan Belanda lainnya.
Dalam sejarah sekolah pendidikan guru di Nieuw Guinea, mulai dari: Mansinam, Miei, Yoka dan Serui, hanya orang Belanda dengan nama–nama seperti Izaak Samuel Kijne, Geissler, Ottow, Goosner yang lebih dominan dalam kepemimpinan sekolah–sekolah milik Zending.
Manuel Adelbert Mangadil menjadi satu–satunya orang pribumi pertama yang menjadi Direktur Normaal School Miei menggantikan Pendeta Izaak Samuel Kijne. Mangadil dipercaya Badan Zending Utrecht Belanda menduduki kursi Direktur karena dia lulusan sekola calon direktur, H. I. K. Solo, Jawa Tengah. Di jaman Belanda, setiap lulusan dari H. I. K. menjadi Direktur di lembaga manapun.
Manuel Adelbert Mangadil bertugas di Miei sejak 1940 sampai 20 Mei 1944. Masa pengabdiannya sebagai guru di Normaal School Miei memang terbilang singkat. Namun tidak bisa dianggap enteng. Sebab dalam jangka waktu yang singkat itu sudah banyak berperan penting dalam pembangunan pendidikan di Nieuw Guinea. Banyak anak didiknya yang kemudian menjadi tokoh–tokoh penting dalam pembangunan pendidikan, pemerintahan, politik dan Pekabaran Injil di Tanah Papua.
Di masa kepemimpinan Manuel Adelbert Mangadil, Normaal School Miei telah meluluskan tiga angkatan sebelum dia ditangkap dan dibunuh tentara Jepang dengan tuduhan menyimpan radio sebagai alat untuk mempermudah komunikasi dengan pihak Belanda.
Setelah Direktur Normaal School Miei, Manuel Adelbert Mangadil terbunuh, sekolah guru pun ditutup. Sekira lima tahun tanpa proses belajar mengajar di Normaal School Miei, karena terjadi perang dunia kedua yang membuat situasi kehidupan menjadi kacau.
Walau Manuel Adelbert Mangadil telah berjasa dalam pembangunan sumberdaya manusia di Papua, tapi namanya tak pernah disebutkan dalam sejarah Pekabaran Injil dan sejarah Pendidikan Zending di Tanah Papua.
Hari ini, Senin 26 Oktober 2026, Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke 70. Dan nama tokoh yang disebutkan dalam HUT GKI ke 70 ini pun hanya seperti, Pdt. Izaak Samuel Kijne, Pdt. Yohanes Gossner, O. G. Heldring, Carl Willem Ottow, Johann Gotlib Geissler, Pdt. Johanes Rauws, J. L. Van Hasselt, F. J. L. Van, L. Bijkerk, Gossal dan lainnya.

Jika kita mempelajari perayaan hari sejarah Pekabaran Injil dan sejarah pendidikan di Tanah Papua, sangat identik dengan mengenang jasa para tokoh orang Eropa yang membawa Injil dan membuka sekolah–sekolah perintis di Nieuw Guinea. Sementara kaum pribumi yang ikut berperan dalam memperlancar karya Pekabaran Injil orang–orang Eropa itu kurang mendapat tempat dalam catatan sejarah Zending di Tanah Papua.
Manuel Adelbert Mangadil bisa menjadi salah satu contoh. Namanya tak pernah disebutkan dalam sejarah Sinode GKI Papua, dan mungkin masih ada banyak nama tokoh sejarah pendidikan Papua lain yang belum pernah diungkap dalam catatan sejarah Papua.
Tokoh pendidikan yang sangat dominan dalam buka tutupnya sekolah yang dimulai dari Mansinam, Miei, Yoka, Serui dan Abepura adalah Pdt. Izaak Samuel Kijne. Namun di masa dominasi kepemimpinan para Zendeling Eropa itulah, Badan Zending Utrecht mengangkat Manuel Adelbert Mangadil menjadi Direktur Normaal School Miei melalui sebuah surat keputusan menggantikan Pdt. Izaak Samuel Kijne.
Manuel Adelbert Mangadil menjadi Direktur Sekolah Pendidikan Guru Miei selama tiga tahun. Pada 1944 sekolah guru khusus orang asli Papua itu ditutup karena perang dunia kedua dan direkturnya dibunuh Jepang. Usai masa perang, Kijne pulang cuti dari Belanda ke Nieuw Guinea dan buka sekolah guru di Yoka pada 1948 sebagai kelanjutan dari Miei.
Beberapa guru Normaal School Miei, seperti Gossal, Isak Samuel Kijne, dan siswa lulusan dari Miei seperti Tom Wospakrik mengajar sekolah guru yang dibuka di Yoka. Kijne menjadi pimpinannya.
Mantan Ketua Sinode GKI di Tanah Papua periode 1971–1977, Pdt. Willem Maloali yang ditemui di Argapura, Rabu 20 Januari 2010 mengatakan dalam sejarah pekabaran Injil di Papua, Sinode GKI hanya ingat sejarah sejak 26 Oktober 1956 sampai sekarang.
Sedangkan peristiwa sebelum 1956 tidak diingat gereja. Ada rentang waktu panjang yang hilang. Sejarah zending tidak banyak tercatat dalam sejarah Sinode GKI di Tanah Papua. Karena saat itu terjadi perang, banyak orang lari menyelamatkan diri ke hutan atau ke tempat lain meninggalkan rumah dan harta benda. Kondisi ini membuat banyak catatan sejarah yang disimpan perorangan maupun lembaga rusak dan hilang.
“Termasuk nama Manuel Adelbert Mangadil tidak tercatat dalam sejarah Sinode GKI di Tanah Papua,” ujar Willem Maloali yang ditemui di Argapura, Rabu 20 Januari 2010 lalu.
Paskalis Keagop

