Untuk pertama kalinya saya mengikuti rute distribusi MBG dari Dapur SPPG Asei Besar di Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura. Rute perjalanan hari itu menuju 15 sekolah di sebelah barat pesisir Danau Sentani. Lama perjalanan pergi dan pulang selama tujuh jam dengan menantang ombak Danau Sentani.

suaraperempuanpapua.com – SECARA umum sifat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengelola Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat tertutup. Pihak lain tidak boleh tahu. Termasuk penerima manfaat pun hanya tahu saja terima makanan dan makan.
Dalam keadaan itu, selalu timbul rasa penasaran saya, “kenapa dapur MBG itu tertutup sekali untuk orang lain tahu? Kenapa pengelolaan MBG itu dirahasiakan? Ada apa dengan MBG? Sepertinya prosesnya dirahasiakan dan masyarakat hanya disuruh makan. Kapan saya bisa masuk ke dapur pengelola MBG?” Beberapa pertanyaan itu selalu menimbulkan rasa penasaran saya.
Bermula dari rasa ingin tahu itu, saya pun mencoba melobi pemilik Dapur SPPG Asei Besar yang mengelola MBG. Ternyata, permohonan saya diterima untuk berkunjung ke areal di luar dapur, tidak masuk ke dalam dapur dan diperbolehkan ikut bersama relawan distribusi MBG ke sekolah–sekolah. Saya senang sekali, paling tidak bisa sedikit menjawab rasa ingin tahu saya selama ini.
Dan perjalanan saya yang pertama mengikuti rute distribusi MBG ke arah barat Danau Sentani dilakukan pada Senin 24 Agustus 2026 pukul 08.15 pagi berangkat dari Pelabuhan Keluarga Theo Kere di Khalkote menggunakan speedboat bermesin Yamaha 40 PK.

Relawan Dapur SPPG Asei Besar yang biasa distribusi MBG ke arah barat Danau Sentani sebanyak tiga orang, yaitu Markus Rumbiak, Paul Pepuho dan Yulianus Pallo. Tapi pada Senin 24 Agustus itu, Paul Pepuho tidak masuk kerja, sehingga hanya Markus dan Yulianus saja yang mendistribusikan MBG ke sekolah–sekolah. Saya cuma pengikut, yang tidak ikut bekerja.
Setiap hari speedboat MBG arah barat Danau Sentani selalu muat 891 ompreng untuk anak–anak yang bersekolah di: delapan pendidikan anak usia dini (Paud), enam sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP). Ke-15 sekolah ini menerima jumlah ompreng sesuai jumlah siswa dan guru.
Setiap sekolah yang kita tuju, relawan angkut makanan dari dalam speedboat ke atas jembatan dan dihantar ke sekolah. Setelah menyerahkan makanan, relawan serahkan surat berita acara bukti menerima makanan untuk ditandatangani guru penerima MBG sekolah dan distempel. Beban angkut MBG ini bisa sedikit meringankan jika ada sekolah yang dijemput langsung oleh guru dan murid di pelabuhan.
Saat pulang pekerjaan relawan sedikit diperingan, karena setiap sekolah setelah makan, omprengnya sudah dirapikan dan ditaruh di pelabuhan. Sehingga relawan datang tinggal dimuat ke dalam speedboat. Tugas relawan hantar MBG dan jemput ompreng pulang ke dapur terutama di aliran sungai dan laut terlihat ringan, tapi jika dikerjakan lumayan berat dan melelahkan. Lain dengan distribusi MBG di darat menggunakan mobil lebih mudah karena MBG dihantar langsung masuk di halaman sekolah.
Keikutsertaan saya distribusi MBG pada Senin 24 Agustus tidak ikut angkat makanan dari pelabuhan ke sekolah, tapi saya hanya ingin tahu bagaimana reaksi anak sekolah dan guru saat menerima MBG. Apakah mereka antusias dan senang menerima MBG atau tidak? Ternyata semua guru yang saya temui di 15 sekolah arah barat Danau Sentani menyatakan sangat senang dengan MBG datang ke sekolah.

Menurut para guru itu, adanya MBG mendorong anak–anak rajin masuk sekolah, minat belajar baik, ada anak yang sekolah di kampung lain terpaksa kembali ke kampung asalnya karena ada MBG. Guru–guru juga menyatakan makanannya enak, menunya selalu beda setiap hari dan selama ini tidak pernah ada keluhan sakit perut atau mual dari anak–anak setelah konsumsi makanan.
Guru dari 15 sekolah penerima MBG dari Dapur SPPG Asei Besar juga menyatakan pernah berkunjung ke dapur Asei Besar, melihat keadaan dapur, berdialog dengan pengelola dapur, dapurnya bersih dan memenuhi standar.
Ke-15 sekolah yang menjadi penerima manfaat MBG dari Dapur SPPG Asei Besar menyebar di beberapa kampung yaitu Kampung: Putali, Kensio, Abar, Kameyakha, Ebung Fa, Homfolo, Simporo, dan Babrongko. Ada kampung yang miliki Paud dan SD, ada yang cuma miliki SD serta ada kampung yang miliki Paud, SD dan SMP.
Saat berangkat dari pelabuhan pribadi Keluarga Theo Kere pukul 8.15 pagi, cuaca sangat cerah dan air danau teduh, speedboat laju dengan aman melayani MBG di 15 titik hingga tiba sekolah tujuan akhir, yakni SD YPK Syalom Siba Kampung Adat Babrong pukul 12.00 siang.
Saat pulang ombak danau sangat tinggi, sehingga kecepatan speedboat bermesin Yamaha 40 PK yang dikemudikan Yulianus Pallo diperlambat karena terombang–ambing ombak tinggi di atas permukaan Danau Sentani membawa pulang ompreng tak berisi dan tiba di pelabuhan pribadi keluarga Theo Kere pukul 15.12 sore. Ompreng pergi dengan berisi makanan, dan pulang kosong ke Dapur SPPG Asei Besar Sentani Timur.
Paskalis Keagop
