Dari sekian dapur pengelola Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Jayapura, Dapur SPPG Asei Besar di Distrik Sentani Timur memilih sekolah–sekolah di wilayah pesisir Danau Sentani menjadi sasaran pelayanannya. Anak–anak sekolah selalu gembira menyambut MBG datang.

suaraperempuanpapua.com – LAIN di kota, lain pula di kampung. Kehadiran Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat berbeda. Di kota sibuk menuntut MBG ditutup karena banyak anak menderita keracunan. Sementara anak–anak sekolah di kampung menunggu kapan MBG datang. Sejak awal berdirinya, Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Asei Besar di Distrik Sentani Timur memilih sekolah–sekolah di pinggiran Danau Sentani menjadi sasaran pelayanan.
Kehadiran MBG bagi anak sekolah di kampung–kampung sebagai upaya mengurangi penyakit turunan, yaitu pergi ke sekolah tanpa makan pagi. Kehidupan di kampung, sebelum matahari terbit, bapa dan mama sudah pergi melaut, ke kebun, tanpa menyiapkan makanan untuk anak–anak makan pagi sebelum berangkat sekolah. Memberi uang untuk jajan di sekolah juga tidak. Pagi anak ke sekolah dalam keadaan perut kosong. Belajar di sekolah tidak bersemangat, loyo, lesu karena lapar dan siang anak lari pulang ke rumah.
Keadaan itulah MBG hadir, yang menjadi sasaran pelayanan Dapur SPPG Asei Besar untuk melayani anak sekolah di pesisir Danau Sentani.
Pelayanan MBG oleh Dapur Asei Besar pada hari pertama, 30 September 2025, hanya bisa mampu memberi makan 1.600 dari 2.500 penerima manfaat, dan sebanyak 400 anak tidak terlayani. Dan semua penerima manfaat dapat terlayani mulai hari kedua dan selanjutnya.
Ketua Yayasan Teker Harapan Papua, Hesti Kere mengatakan pelayanan MBG pada hari pertama tidak bisa terlayani semua, karena pada hari pertama itu, ibu–ibu di dapur baru belajar memasak makanan untuk makan orang banyak dalam jumlah ribuan. Tenaga dapur baru belajar penyesuaian diri. Dapur Asei Besar tidak hanya memiliki tenaga masak di dapur, tetapi juga punya seorang chef, tenaga ahli yang mengerti tentang keamanan pangan yang berhak menentukan makanan layak dikelola atau tidak? Misalnya, ikan datang, tidak boleh ditahan sampai berapa lama, karena nanti busuk atau gatal.
Maka sebelum dimasak, chef yang akan menentukan makanan ini layak dimasak dan yang ini tidak karena sudah rusak. Proses makanan sudah dipersiapkan mulai dari penyiapan bahan baku makanan sampai dimasak dan disajikan. “Saya beruntung sudah punya Chef sebelum Badan Gizi Nasional mewajibkan setiap dapur harus miliki chef”.
Chef yang dimiliki Dapur SPPG Asei Besar adalah chef yang bersertifikat Hazard Analysis Critical Control Point (HCCP), yaitu bukti resmi bahwa seorang chef paham cara mengontrol bahaya biologi, kimia dan fisik pada makanan. Tugas chef harus sudah tiba di tempat lebih awal sebelum bahan baku mulai diproses. “Kita mulai proses masak pukul 1–2 dini hari, dan siangnya didistribusikan anak–anak sekolah penerima manfaat.”

Dapur SPPG Asei Besar khusus melayani anak sekolah di wilayah Danau Sentani di 26 kampung. “Sebanyak 70 persen pelayanan kita ada di wilayah tepi Danau Sentani. Mulai dari Kampung Simforo/Babrongko sampai ke Kampung Puay/Yokiwa. Setiap kampung yang ada sekolah, kita layani,” ujar Hesti Kere.
Sementara penerima manfaat untuk Balita, ibu menyusui dan ibu hamil (B3) hanya dilayani di wilayah darat, kalau B3 di wilayah tepi Danau Sentani belum dilayani. Mengingat jumlah penerima manfaat Dapur Asei Besar banyak, maka Hesti berencana bangun satu dapur lagi khusus untuk khusus melayani B3. Sekarang dapurnya sedang dipersiapkan.
Secara jumlah, penerima manfaat yang dilayani Dapur Asei Besar sudah cukup. “Bahkan ada sekolah yang saya belum layani. Makanya, saya harus mendirikan satu dapur lagi.” Sekolah–sekolah di wilayah Kampung Harapan tidak dilayani oleh Dapur Asei Besar. Sebab itu dilayani oleh dapur lain. “Saya hanya layani di wilayah danau dan beberapa sekolah di darat. Seperti SMP Kristen Baik Hawai,” ujar Hesti.
Untuk melayani MBG di wilayah Danau Sentani, Dapur Asei Besar memiliki beberapa unit sarana transportasi danau, yaitu satu kapal dengan kapasitas muat 800 ompreng. Ditambah tiga unit speedboat dengan kapasitas angkut: 350 ompreng, 300 ompreng, dan 200 ompreng, yang biasa angkut sampai di tempat tujuan. Sementara di darat dilayani oleh sebuah mobil box.
Walau makanan diangkut menggunakan kapal dan speedboat di tengah ombak danau yang tinggi, cuaca hujan atau cuaca ekstrim, namun makanan dihantar dengan aman sampai di tempat tujuan dan siap santap. Sebab tiga speedboat itu sudah dimodifikasi khusus untuk hantar makanan. Ompreng tidak kemasukkan air danau maupun air hujan.
“Walau terjadi cuaca ekstrim di Danau Sentani, kita tidak pernah alpa satu hari pun untuk tidak memberi makan kepada anak–anak. Motoris–motoris saya tidak pernah alpa memberikan makanan kepada anak–anak. Motoris–motoris saya adalah handal. Mereka adalah relawan kami yang setiap hari membelah Danau Sentani menuju sekolah–sekolah,” ujar Hesti Kere yang ditemui di rumahnya di tepi Danai Sentani.
Sebelum membuka dapur SPPG, Hesti Kere mendirikan Yayasan Teker Harapan Papua sebagai lembaga yang memayungi Dapur SPPG Asei Besar untuk mengelola MBG di Sentani Timur Kabupaten Jayapura. Yayasan Teker dedikasikan Hesti khusus untuk mengenang ayahnya, Theo Kere yang telah tiada.
Paskalis Keagop
