KERACUNAN MBG DEPAPRE AKIBAT BASI ATAWA HAL LAIN?

Matias Swabra dan ibunya dari Kampung Kendate Distrik Depapre Kabupaten Jayapura yang menjadi korban keracunan MBG dirawat di RSUD Yowari Sentani. Foto: Suara Perempuan Papua.

Kasus keracunan MBG Depapre, apakah akibat konsumsi makanan basi atau karena ha lain? atau akibat makanan telah mengandung Bakteri Escherichia Coli? Polisi dan hasil pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik yang akan mengungkapkannya.

suaraperempuanpapua.com – SEBANYAK 527 orang keracunan setelah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Depapre yang dikelola oleh Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, yang dipimpin oleh Edison Awoitauw, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Jayapura.

Korban keracunan setelah mengkonsumsi MBG pada Selasa 4 Agustus 2026 itu terdiri atas Balita, anak usia PAUD–TK, SD, SMP, SMA, dan ibu menyusui. Usia mereka mulai dari anak usia dua tahun lima bulan hingga orang dewasa usia 60 tahun menjadi korban setelah mengkonsumsi MBG yang diproduksi Dapur SPPG Waiya, Distrik Depapre.

Menu makanan yang disajikan hari itu terdiri atas: nasi, telur, tempe, sayur jagung dan pakcoy, serta buah semangka. Menu utama keracunan adalah tempe bacem.

Setelah makan, penerima manfaat mengalami gejala sakit perut, mual, muntah, diare, demam, kejang perut, dan badan lemas. Para korban keracunan yang berasal dari berbagai kampung di Distrik Depapre, Yokari dan Ravenirara mulai dilarikan ke Puskesmas Depapre untuk mendapat pertolongan medis.

Namun Puskesmas Depapre pun kewalahan menangani pasien yang jumlahnya terus bertambah, yang tak seimbang dengan fasilitas medis yang tersedia. Mobil ambulance dari Puskesmas lain dan rumah sakit di Jayapura digerakkan mondar–mandir sepanjang hari tanpa henti menjemput pasien dari Depapre menuju Puskesmas dan rumah sakit di Jayapura. Korban keracunan MBG terus bertambah sejak Selasa 4 Agustus hingga Jumat 7 Agustus 2026 pukul 16.30 sore.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Mayjend TNI Trenggono dan Wakil Menteri Dalam Negeri RI Ribka Haluk bersama Bupati Jayapura Yunus Wonda saat berkunjung ke RSUD Yowari Sentani Kabupaten Jayapura melihat kondisi pasien korban keracunan MBG Depaprep, Kamis 6 Agustus 2026. Foto: Kompas.com/Findi Rakmeni.

Sebanyak 527 pasien korban keracunan MBG Depapre dirawat di empat Puskesmas dan lima rumah sakit di Jayapura. Empat Puskesmas perawat korban keracunan MBG adalah  Puskesmas Depapre, Puskesmas Sentani, Puskesmas Komba, dan Puskesmas Kampung Harapan. Sementara lima rumah sakit perawat korban MBG yaitu RS Yowari Sentani, RS Dian Harapan Waena, RS Kementerian Kesehatan Padangbulan Abepura, RS Abepura, dan RSUD Dok 2 Jayapura. Jumlah pasien yang dirawat di Puskesmas dan rumah sakit berbeda.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berry I. S. Wopari, mengatakan dari kondisi seluruh pasien keracunan MBG Depapre yang dirawat di seluruh fasilitas kesehatan itu, tidak ada korban yang berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.

Akibat jumlah korban keracunan MBG yang mencapai 527 orang itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Mayor Jenderal TNI Trenggono dan Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk pun bergerak cepat turun memeriksa Dapur SPPG Depapre dan menemukan berbagai hal yang diduga menjadi penyebab keracunan bagi penerima manfaat, yaitu mulai dari aspek kebersihan hingga fasilitas pendukung dapur yang belum memenuhi standar serta beberapa hal lainnya, diantaranya:

  1. Proses pengolahan makanan menyalahi jadwal.
  2. Makanan dimasak terlalu cepat dari jam penyajian, sehingga kondisi hidangan mengalami penurunan kualitas sebelum disantap.
  3. Proses memasaknya terlalu cepat dimulai pukul 7 malam di hari sebelumnya Senin 3 Agustus, dan makanan diterima penerima manfaat di hari berikutnya, Selasa 4 Agustus pukul 11 siang. Akhirnya makanan alami penurunan kualitas.

Menurut Trenggono, makanan yang diolah belasan jam sebelum dibagikan, membuat masakan dalam kondisi rusak saat sampai ke tangan siswa. Setelah melihat kondisi para pasien dan berkunjung ke Depapre melihat kondisi dapur SPPG, Trenggono menemukan sejumlah kelemahan dalam pengelolaan operasional dapur, yaitu:

  1. Dapur tidak sesuai standar operasional prosedur.
  2. Dapur MBG tidak higienis.
  3. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak memenuhi ketentuan, dan
  4. Pengelola SPPG ditegur tidak siapkan makanan yang baik.

Dan sebagai sanksinya, Badan Gizi Nasional memberhentikan sementara operasional dapur, sembari menunggu hasil penyidikan polisi dan pemeriksaan sampel makanan dari Laboratorium Forensik Polda Papua untuk menentukan apakah dapur bisa ditutup permanen, serta jika ada kelalaian lain, maka pengelola bisa dipidana. Aparat kepolisian pun bergerak cepat melakukan pemeriksaan terhadap dua lokasi penting, yaitu dapur MBG dan rumah koordinator program MBG. Upaya yang dilakukan polisi untuk mengungkap penyebab keracunan MBG diantaranya:

  1. Mendokumentasikan
  2. Memeriksa sejumlah titik mulai dari proses pengolahan hingga penyimpanan makanan.
  3. Mengamankan barang bukti.
  4. Ada enam barang bukti: sayur, tempe kecap, sisa makanan dalam keranjang, buah semangka, minyak sisa penggorengan, dan tiga porsi makanan MBG yang belum didistribusikan.
  5. Seluruh sampel telah diserahkan ke Laboratorium Forensik Polda Papua untuk dilakukan pengujian guna mengetahui penyebab keracunan makanan MBG.
  6. Sebanyak 30 orang diperiksa polisi, terdiri dari saksi dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG.
  7. Mendalami kronologi kejadian, prosedur pengolahan makanan, hingga mekanisme pendistribusiannya.
  8. Jabatan kepala SPPG Depapre dicopot

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG Depapre di Jayapura, menunjukkan makanan telah terkontaminasi mikroorganisme berbahaya, yaitu Bakteri Escherichia Coli, bukan hanya pada semangka tapi juga pada beberapa makanan lain. “Laporannya sudah ada, hasil laboratoriumnya juga sudah ada. Jadi, memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya,” ujar Budi di Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026 malam.

Makanan bergizi gratis yang disiapkan di Aula SMK Negeri 1 Hawai Sentani Kabupaten Jayapura untuk disantap siswa dan guru, pada Kamis 6 Agustus 2026. Foto: Suara Perempuan Papua.

Data Kasus Keracunan MBG Depapre, Selasa 4 Agustus 2026:

  1. Pengelola dapur MBG, Yayasan Kasih Iman Samuel Papua, beralamat di Jalan Waiya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura
  2. Menu makanan yang dimasak: nasi, telur, tempe, sayur jagung dan pakcoy, serta buah semangka.
  3. Makanan dimasak hari Senin 3 Agustus pukul 7 malam, dan didistribusikan ke penerima manfaat, Selasa 4 Agustus pukul 11 siang.
  4. Ada yang langsung makan di sekolah, dan ada pula yang bawa pulang makan di rumah pukul 3 sore dan pukul 4 sore.
  5. Jumlah ompreng makanan yang didistribusikan: 2.200.
  6. Korban keracunan MBG sebanyak 527 orang mayoritas anak–anak usia SD dan SMP.
  7. Gejala sakit: sakit perut, mual, muntah, diare, demam, kejang perut, dan badan lemas.

Kelemahan Dapur SPPG Yayasan Kasih Iman Samuel Papua Depapre:

  1. Dapur tidak sesuai standar operasional prosedur.
  2. Dapur MBG tidak higienis.
  3. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak memenuhi ketentuan.
  4. Pengelola SPPG ditegur tidak siapkan makanan yang baik.
  5. Sebagai sanksi, operasional dapur dihentikan sementara, dan bisa dihentikan permanen berdasarkan hasil penyidikan polisi dan pemeriksaan sampel makanan di Laboratprium Forensik Polda Papua, dan jika ada kelalaian lain, maka pengelola bisa dipidana.
  6. Sebanyak 30 orang diperiksa polisi

Penyebab Keracunan MBG Depapre Menurut Badan Gizi Nasional:

  1. Proses pengolahan makanan menyalahi jadwal.
  2. Makanan dimasak terlalu cepat dari jam penyajian sehingga kondisi hidangan alami penurunan kualitas sebelum disantap.
  3. Proses memasaknya terlalu cepat dimulai pukul 7 malam di hari sebelumnya, dan makanan diterima penerima manfaat pukul 11 siang di hari berikutnya. Akhirnya makanan alami penurunan kualitas.
  4. Makanan yang diolah belasan jam sebelum dibagikan membuat masakan dalam kondisi rusak saat sampai ke tangan siswa.
  5. Menu utama keracunan: tempe bacem.

Kasus keracunan MBG yang Dikerjakan Polisi:

  1. Polisi periksa dua lokasi penting, yaitu dapur MBG dan rumah koordinator program MBG.
  2. Mendokumentasikan
  3. Memeriksa sejumlah titik mulai dari proses pengolahan hingga penyimpanan makanan.
  4. Memeriksa dan mengamankan enam barang bukti: sayur, tempe kecap, sisa makanan dalam keranjang, buah semangka, minyak sisa penggorengan, dan tiga porsi makanan MBG yang belum didistribusikan.
  5. Seluruh sampel telah diserahkan ke Laboratorium Forensik Polda Papua
  6. Sebanyak 30 orang diperiksa polisi, terdiri dari saksi dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program MBG.
  7. Mendalami kronologi kejadian, prosedur pengolahan makanan, hingga mekanisme pendistribusiannya.
  8. Jabatan kepala SPPG Depapre dicopot.
  9. Penyebab keracunan MBG Depapre menurut Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan RI, yaitu akibat Bakteri Escherichia Coli, dan masak terlalu dini.

Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menegaskan, kasus ini harus menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi nasional terhadap sistem pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG. Evaluasi tidak hanya di satu lokasi, tapi harus di seluruh wilayah untuk memperkuat pengawasan, meningkatkan kapasitas pengelola SPPG, serta memastikan standar keamanan pangan diterapkan secara disiplin di seluruh Indonesia.(*

Paskalis Keagop