MAKANAN BERGIZI YANG BERACUN

Dua murid SD Negeri 2 Merauke angkat MBG bawa ke dalam ruang kelas makan bersama lalu pulang sekolah. Guru tak pernah tahu makanan itu datang dari dapur mana? dan tidak pernah buka ompreng lihat makanan yang ada di dalam. Gambar diambil 17 November 2025. Foto: Paskalis Keagop/Suara Perempuan Papua.

Kenapa makanan yang bergizi menjadi razun? Jawabannya bukan sekedar makanan basi atau kesalahan prosedur!

suaraperempuanpapua.com – DI dunia ini sudah biasa menyelenggarakan pesta–pesta besar berskala internasional, nasional, daerah dan kesukuan dengan menghadirkan ratusan ribu orang. Dan banyak orang yang hadir itu harus dikasih makan sebanyak tiga kali sehari selama acara itu berlangsung.

Katakanlah pesta olahraga sedunia: olimpiade, piala dunia sepakbola, konferensi tingkat dunia, Asian Games, Sea Games, pekan olahraga nasional serta pesta–pesta besar tingkat provinsi, kabupaten dan kesukuan.

Banyak orang yang datang itu, bukan hanya hadir ikut acara. Tetapi mereka harus dikasih makan. Untuk kasih makan ratusan ribu orang yang hadir itu, panitia harus siapkan jumlah makanan mentah yang tidak sedikit. Makanan yang disiapkan pun bukan sembarang makanan. Makanan pilihan dengan tenaga masak pilihan yang bersertifikasi HCCP, Hazard Analysis Critical Control Point sebagai bukti resmi bahwa seorang chef paham cara mengontrol bahaya biologi, kimia dan fisik pada makanan.

Tenaga masak di dapur umum menguras pikiran dan tenaganya yang tak sedikit dengan meniadakan jam tidur malamnya untuk bagaimana makanan yang akan dimasak dan dikasih makan kepada banyak orang ini harus: bersih, sehat, kenyang, bergizi dan tepat waktu. Dan selama acara berlangsung tak seorang pun yang pernah menderita keracunan dari makanan yang disajikan. Orang yang datang: menghadiri, menikmati acara, makan makanan yang enak, kenyang, pulang dengan senang dan sehat penuh kenangan.

Ini karena mereka yang kelola makanan bergizi massal di dapur umum sebuah acara itu bukan sembarang orang dan bukan masak makanan takaruang. Motif tukang masak di dapur umum ini juga bukan untuk cari uang! Yang mereka pertaruhkan adalah reputasi dan profesionalisme diri: pengetahuan, keahlian dan pengalaman diri yang dipertaruhkan.

Olimpiade dan piala dunia sepakbola misalnya, yang hadir itu para bintang olahraga dunia bersama para pemimpin negara masing–masing dari seluruh negara peserta di dunia. Kalau tarsalah sedikit soal makanan saja? Maka negara tuan rumah penyelenggaranya yang akan hancur berantakan kena hujatan, dibenci dan diasingkan dunia. Negara pun masuk dalam catatan hitam. Wajah dan reputasi negaranya akan hancur berantakan.

Murid SD Negeri 2 Merauke makan MBG bersama dalam ruang kelas sebelum pulang sekolah. Gambar diambil 17 November 2025. Foto: Paskalis Keagop/Suara Perempuan Papua.

Secara nasional, kedaerahan dan kesukuan di Indonesia juga sama. Selalu selenggarakan acara–acara skala besar tahunan dengan menghadirkan ratusan ribu orang, dikasih makan sehari tiga kali dan selalu aman tanpa ada yang keracunan. Sebab makanan yang disajikan sehat dan bergizi.

Papua pun pernah menjadi tuan rumah pekan olahraga nasional pada 2021. Juga kasih makan sehari tiga kali selama dua minggu tanpa henti kepada ratusan ribu orang dari seluruh Indonesia. Presiden dan wakil presiden, para gubernur dan jajarannya serta para pejabat penyelenggara negara Indonesia hadir. Makanan yang disajikan untuk semua orang pun tepat waktu untuk: makan pagi, makan siang dan makan sore. Tak seorang pun yang keracunan setelah makan makanan.

Tapi kenapa program nasional pemberian makanan bergizi gratis (MBG) kepada generasi muda penerus bangsa menjadi korban keracunan? Sudah puluhan ribu anak sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas dari berbagai provinsi di Indonesia telah menjadi korban keracunan setelah makan MBG. Kasus terbaru terjadi di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura di negeri matahari terbit, Papua.

Sejak program nasional MBG dilaksanakan di Indonesia pada 6 Januari 2025 hingga Agustus 2026 sebanyak 33.626 anak sekolah yang menjadi sasaran program MBG telah menjadi korban keracunan setelah makan makanan bergizi. Dari jumlah itu, sebanyak 527 anak sekolah dan orang dewasa di Distrik Depapre telah menjadi korban keracunan setelah konsumsi MBG pada Selasa 4 Agustus 2026.

Kasus keracunan MBG di Depapre merupakan sejarah pertama di Papua dalam program pemberian makanan bergizi oleh negara.

Kasus keracunan makanan bergizi nasional tidak boleh hanya berhenti pada: prihatin, belasungkawa, salahkan standar operasional prosedur, suspend permanen, tolak program MBG, hukum pengelola dapur, serta hujat–menghujat negara dan presiden. Negara tidak salah! presiden tidak salah! Tapi salahkan pengelola dapur pengelola MBG.

Dan program MBG nasional harus dievalusi total agar siapa saja yang menjadi pengelola MBG tidak boleh hanya mencari keuntungan ratusan juta perbulan. Tapi harus mengutamakan kesehatan dan keselamatan penerima manfaat.

Ratusan anak sekolah di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura menderita keracunan setelah makan MBG dan dirawat di tenda darurat RSUD Yowari Sentani, Rabu 5 Agustus 2026. Foto: Paskalis Keagop/Suara Perempuan Papua.

Kenapa banyak orang terjun ke dapur masak MBG? karena jumlah uang yang didapat perbulan sangat menggiurkan. Ada dua sumber keuntungan yang didapat pengelola dapur MBG yang dibayar Badan Gizi Nasional (BGN) tiap bulan.

Dua sumber itu adalah sumber pertama, ongkos sewa dapur perhari sebesar Rp 6 juta dikali 24 hari dalam sebulan sebesar Rp 144 juta perbulan. Sumber kedua, harga satu ompreng khusus di Jayapura ada dua, yaitu harga ompreng porsi kecil Rp 13.000 dan harga ompreng porsi besar Rp 13.432. Mari kita hitung harga dua porsi itu.

Harga satu ompreng porsi kecil Rp 13.000 dikali 1.500 penerima manfaat sama dengan Rp 19.500.000 perhari dikali 24 hari kasih makan dalam sebulan, sama dengan Rp 468 juta. Maka dijumlahkan Rp 144 juta ditambah Rp 468 juta sama dengan Rp 612 juta perbulan yang akan dibayar BGN kepada pengelola MBG.

Jika kita hitung harga satu ompreng porsi besar di Jayapura, maka Rp 13.432 dikali 1.500 penerima manfaat sama dengan Rp 20.148.000 perhari dikali 24 hari dalam sebulan sama dengan Rp 483.552.000. Maka dijumlahkan, Rp 144 juta ditambah Rp 483.552.000 sama dengan Rp 627.552.000 perbulan yang akan dibayar BGN kepada pengelola MBG.

Maka setiap warna negara yang ingin mengelola MBG, dihadapkan pada apakah hanya mau menomorsatukan keuntungan dengan mengorbankan nyawa generasi masa depan bangsa? atau mau menomorsatukan keselamatan jiwa anak bangsa? dengan tetap mencari keuntungan?

Kalau makanannya bergizi, tapi yang makan keracunan? Artinya bukan makanan bergizi, tapi racunnya yang bergizi!

Paskalis Keagop