MATINYA BUDAYA PAPUA

Kebangkitan budaya Papua melalui musik, lagu dan tari dimulai Mambesak dari Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih Jayapura. Dan budaya Papua pun mati mulai dari Museum Loka Budaya Uncen dengan dibubarkannya Group Musik Mambesak.

Gabriel Maniagasi dan Paskalis Keagop dari Suara Perempuan Papua berjumpa dengan salah satu anggota Kelompok Musik Mambesak, Thontji Wolas Krenak di ruang kerja Istana Mambesak di Museum Loka Budaya Universitas Cederawasih Jayapura, Selasa 27 Oktober 2026. Foto: Dokumentasi Suara Perempuan Papua.

suaraperempuanpapua.com – UNTUK pertama kalinya dalam kurun 35 tahun, saya mengunjungi Museum Loka Budaya Cenderawasih Jayapura di Abepura, pada Selasa 27 Oktober 2026.

Kunjungan pertama saya bersama sobatku Gabriel Maniagasi pada hari itu bukan untuk mengunjungi Museum Loka Budaya Uncen. Melainkan, kami dua mau bertemu senior kami, Thontji Wolas Krenak yang sehari-hari berada di Museum Loka Budaya Uncen.

Wolas adalah senior kami. Dia salah satu orang Papua yang bekerja sebagai Wartawan selama 51 tahun sejak 1975 sampai pensiun dari Wartawan harian umum nasional Suara Pembaharuan Jakarta tahun 2010.

Dimulai dengan menjadi wartawan Tifa Irian di Jayapura selama 9 tahun, sejak 1975 sampai 1984. Pindah ke Jakarta menjadi wartawan harian umum nasional Sinar Harapan Jakarta selama setahun, 1985/1986. Tapi karena medianya dibredel Menteri Penerangan Indonesia, Harmoko. Akhirnya Wolas pindah jadi Wartawan Suara Pembaharuan Jakarta selama 23 tahun sejak 1987 sampai pensiun dari wartawan 2010.

Selama 25 tahun menjadi wartawan nasional di Jakarta, Wolas ditugaskan menjadi Wartawan Kepresidenan di Istana Negara mulai dari masa Presiden RI Abdurrahman Wahid sampai masa Presiden Indonesia Megawati Soekarnaputri. Tak semua wartawan bisa menjadi Wartawan Kepresidenan.

Dan selama menjadi Wartawan di Suara Pembaharuan Jakarta, Thontji Wolas Krenak menjadi Redaktur Politik Nasional dan Nusantara dengan membawahi 40 wartawan daerah di seluruh Indonesia. Itu yang membuat kami sebagai adik–adik wartawannya di daerah merasa bangga dengan pengalaman senior kami yang sangat langka. Sehingga kita dua meluangkan waktu bertemu senior kami Wolas. Dulu di Jakarta, sekarang di Jayapura.

Thontji Wolas Krenak (baju batik). “Ini Istana Mambesak. Saya mulai dari sini sampai di Istana Negara,” ujar Wolas kepada Gabriel Maniagasi dan Paskalis Keagop dari Suara Perempuan Papua di Istana Mambesak, Museum Loka Budaya Uncen Jayapura. Selasa, 27 Oktober 2026. Foto: Dokumentasi Suara Perempuan Papua.

Sebelum bekerja sebagai wartawan, Wolas Krenak selama kuliah di Uncen menjadi anggota Group Musik Mambesak. Dia menjadi inspirator dan penggerak berdirinya Mambesak pada 5 Agustus 1978 di Museum Loka Budaya Uncen Jayapura.

Setelah berdiri, Mambesak melakukan show pertama di Lingkaran Abepura pada 15 Agustus 1978. Warga Jayapura, tua-muda, laki-perempuan, semua tumpah-ruah di Lingkaran Abepura menyaksikan penampilan perdana Group Musik Mambesak.

Dan pada 16 – 17 Agustus 1978, Mambesak melakukan show pertama di luar kota Jayapura di pusat kota Distrik Nimboran atas undangan Camat Nimboran Michael Manufandu.

Lagu pertama yang dinyanyikan Mambesak saat show luar kota di Nimboran dalam kerangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke–33 tanggal 17 Agustus 1978 adalah menyanyikan lagu daerah bahasa Genyem.

“Masyarakat dengar lagu bahasa mereka, dan mereka bilang, wah, itu kami punya lagu. Itu kami punya bahasa. Masyarakat senang dan mereka bawa gitar, juk, tifa duduk melingkar dan musik, menyanyi, yosim bersama Mambesak selama dua hari, 16-17 Agustus 1978.”

Di akhir show, masyarakat Genyem senang dan memberi hadiah kepada Personil Group Mambesak dengan hasil kebun satu truk untuk dibawa pulang ke Jayapura.

Saat penyerahan satu truk hasil kebun itu, masyarakat Genyem menyampaikan, “terima kasih, kamu menyanyi untuk kami dan untuk Irian.”

Selama di Museum Loka Budaya Uncen, Wolas Krenak banyak ceritera tentang bagaimana persiapan pendirian Group Mambesak lengkap dengan nama dan peran tiap personil Mambesak.

Kelompok Musik Mambesak, yang membangkitkan budaya Papua melalui musik, lagu dan tari. Gambar diambil oleh Suara Perempuan Papua di Istana Mambesak, Museum Loka Budaya Uncen Jayapura. Selasa, 27 Oktober 2026.

“Saya memulai dari sini sampai bertugas sebagai Wartawan Kepresidenan di Istana Negara Jakarta. Saat duduk ceritera dengan Joko Widodo pada suatu kesempatan, Jokowi tanya saya, apakah bapak Wolas dulu kuliah di Salatiga?” Saya jawab, tidak bapak Presiden. Saya kuliah di Universitas Cenderawasih Jayapura,” jelas Wolas Krenak di Loka Budaya Uncen.

“Lagu-lagu Mambesak diambil dari berbagai bahasa suku di Papua. Dan kami memulai dari sini. Arnold Ap biasa duduk di bangku panjang dan selalu sandar di tiang ini musik dan menyanyi. Halaman Museum Loka Budaya Uncen ini yang kami selalu gunakan untuk musik, menyanyi dan menari,” kisah Wolas menunjuk  tempat duduk Arnold Ap dulu.

Arnold C. Ap adalah pimpinan Group Musik Mambesak, yang diculik dan dibunuh oleh pasukan khusus tentara nasional Indonesia dan ditemukan tak bernyawa di Pantai Pasir 2 Jayapura pada 1984.

Group Musik Mambesak berdiri secara resmi pada 5 Agustus 1978. Gerakan membangun budaya Papua melalui musik, lagu dan tarian yang baru dimulai Mambesak menimbulkan ketakutan bagi Pemerintah Indonesia. Maka suara Mambesak pun dimatikan dengan membunuh pimpinan group musik Mambesak tahun 1984, dan budaya Papua pun mati.

“Saya berdoa terus kepada Tuhan agar saya bisa merayakan 50 Tahun Berdirinya Mambesak, tanggal 5 Agustus 2028,” ujar Thontji Wolas Krenak di Museum Loka Budaya Uncen Jayapura, Selasa 27 Oktober 2026.

Dengan terbunuhnya Arnold C. Ap, maka mati pula budaya Papua. Matinya budaya adalah matinya sebuah bangsa.(*

Paskalis Keagop