“Republik itu bukan satu frasa yang hanya dilekatkan di dalam UUD 1945. Republik itu adalah marwah dari rakyat tentang Indonesia. Kami mengingatkan kepada penyelenggara negara hari ini bahwa, Republik bukan milik kalian. Republik adalah milik rakyat dan bangsa Indonesia. Milik kami–kami semua,” ujar Saiful Bahari di Kampus Universitas Indonesia Jakarta, 28 Juni 2026.

suaraperempuanpapua.com – ACARA yang sudah dipersiapkan matang secara prosedur dan tertib secara administrasi dibatalkan sepihak. Meski demikian, teknologi memungkinkannya untuk tetap berlangsung secara hibrid: daring dan luring di salah satu kedai kopi yang berada di sekitar Salemba.
Sebuah ruangan di Kampus Universitas Indonesia di Salemba Jakarta yang telah disiapkan untuk diskusi para tokoh intelektual dari berbagai kalangan dikunci. Dikuncinya pintu ruangan itu menimbulkan kekecawaan para tokoh yang hadir. Berikut ungkapan kekecewaan sembilan tokoh:
Ahmad Mijahid, “tepat pukul 11 malam hingga pukul 1 dini hari tadi, kami menerima surat resmi yang mengatakan pembatalan izin penggunaan ruang untuk agenda kegiatan pada hari ini. Namun kami juga sangat memahami ini adalah situasi yang sulit bagi pihak Universitas Indonesia.”
Jaleswari Pramowardhani, “saya ingin menggarisbawahi, kami memahami posisi sulit Universitas Indonesia secara internal dan kami sama pahamnya bahwa, hal–hal yang justru di luar eksternal Universitas Indonesia untuk membatalkan acara ini. Yang kedua adalah apa yang mesti ditakutkan? Kami adalah warga negara Indonesia yang dilindungi secara konstitusional untuk kebebasan berdiskusi, berdialog mengekspresikan diri.”
Yanuar Nugroho, “mungkin ini saat yang baik bagi kita untuk bertanya. Mengapa gagasan ditakuti? Mengapa ide sampai harus dihalangi? Mengapa takut pada orang–orang ini? (yang berdiri di sini-red). Tapi di belakang kami, pintu ini dikunci. Kampus yang menjadi simbol kebebasan berpikir pun juga ditekan agar gagasan tidak berkembang di situ.”

Sudirman Said, “di belakang kita ini pintu ruangan yang seharusnya kita berkumpul untuk memulai diskusi, dan saya ulangi kata–kata terakhir tadi, “pintu bisa dikunci tapi pikiran tidak.” Penundaan hari ini tetap ada hikmanya seperti dikatakan oleh Mas Yanuar tadi bahwa, kita akan terus berupaya untuk tidak berhenti karena ini memang tanggung jawab kita bersama. Di kampus ini di Salemba ini pada tanggal 11 Juni 1957 Bung Hatta pidato di depan Hari Alumni Pertama Universitas Indonesia.
Krisis kepercayaan terhadap pimpinan negara yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ini tidak bisa diatasi dengan mengganti demokrasi dengan otoritarianisme. Malahan penggantian itu akan menimbulkan keadaan yang lebih buruk dan menghilangkan kepercayaan sama sekali. Obatnya hanya satu, memberikan kepada negara pimpinan yang dipercaya oleh rakyat. Demoralisasi yang mulai melanda sebagian masyarakat harus dicari jalan keluarnya supaya penyakit ini tidak meluas.”
Razaan Bayu, “saya merasa mahasiswa secara umum perlu melihat ini sebagai cara kita bersimpati pada kampus. Di sini saya pertama kali saya melihat adanya sebuah forum dialog yang bahkan telah disusun secara apik, secara damai pula dilihat sebagai satu hal yang mengancam. Namun satu hal yang saya ingin ingatkan kepada teman–teman semua, jangan melihat momen ini sebagai momen destruktif terhadap gerakan kita kepada masa depan. Perubahan ini semakin dekat. Janganlah kita takut untuk mulai melangkah ke perubahan tersebut.”
Jilal Mardhani, “miskinnya dialog menyebabkan banyak hal yang sudah diantisipasi lama akhirnya menjadi persoalan besar sekarang ini. Salah satunya itu mungkin yang sering kita lihat itu adalah tentang ketimpangan fiskal. Bagaimana saudara–saudara kita yang hari ini terancam untuk tidak lagi bisa dibayarkan gajinya. Padahal mereka pegawai–pegawai yang mengurusi pemerintahan, terutama di daerah–daerah.
Semua ini terjadi akibat mampetnya ruang dialog. Keputusan–keputusan diambil sepihak tanpa pernah mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ketidakpedulian itu akan menyebabkan sebuah persoalan yang sangat–sangat besar terhadap justru kepada pengelola negaranya sendiri. Ketiadaan ruangan untuk berdialog, untuk bertukar pikiran, untuk mengembangkan gagasan adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar bagi sebuah negara yang sangat luas dan sangat beragam seperti Indonesia ini.”

Puplius Meinrad Buru, “kalau kita berkumpul untuk berbuat hal–hal yang baik, menyumbang sesuatu yang berguna untuk negara, kenapa ini dibatalkan? Ada kecemasan apa di sana? Momen seperti ini membuat kita akan selalu bertanya, ini pertanyaan pasti akan memanas, ada apa?”
Saiful Bahari, “Republik itu bukan satu frasa yang hanya dilekatkan di dalam UUD 1945. Republik itu adalah marwah dari rakyat tentang Indonesia. Kami mengingatkan kepada penyelenggara negara hari ini bahwa Republik bukan milik kalian. Republik adalah milik rakyat dan bangsa Indonesia. Milik kami–kami semua.”
Maria Selastiningsih, “mah mah melihat kebijakan publik tidak di angka–angka APBN, tidak di angka–angka yang lain. Tapi mah mah melihat kebijakan publik di meja makan. Kami tiap hari berdialektika dengan anak–anak kami, dengan keluarga di meja makan. Di situlah terjadi diskusi, disitulah terjadi dialog yang membuat harapan ini makin menyala.
Saya semangat banget supaya bisa berdialog dengan orang–orang pintar ini, supaya mah mah ini tidak belok ke kanan dan belok ke kiri. Jadi kami tuu pingin tau gitu lho? Sebenarnya apa yang terjadi? Karena buat mah mah begitu tatanan aturan dilanggar, meja makan ini goncang. Meja makan ini bisa terbalik semuanya. Dan itu konsen kami. Jadi siapa pun yang melarang, jangan takut kalau ada pintu ditutup. Jendela banyak kebuka. Kalau susah lagi? lewat plafon kita nanti ee? Semangat ya anak–anak?”
*)Konferensi Republik, 28 Juni 2026
