MULUT BUMI TELAN MANUSIA

Dalam sejarah, bumi pernah mengangakan mulutnya menelan manusia beserta segala kekayaannya secara hidup–hidup turun ke dalam dunia orang mati. Peristiwa itu terjadi saat bangsa Israel dipimpin Musa keluar dari Mesir menuju Kanaan. Lama perjalanan sebenarnya cuma 14 hari, tapi akibat orang Israel suka berontak dan melawan Tuhan, maka Tuhan marah dan siksa mereka jalan selama 40 tahun di padang gurun.

Bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir menuju Kanaan. Foto: perumperindo.co.id

suaraperempuanpapua.com – JUMLAH orang Israel yang dipimpin Musa keluar dari Tanah Mesir menuju Kanaan yang dijumlahkan laki–laki berusia 20 tahun ke atas dan yang mampu berperang dari 12 suku Israel sebanyak 603.550 orang. Jumlahnya tidak termasuk perempuan, anak–anak usia nol sampai 19 tahun serta laki-laki yang tidak mampu berperang.

Dari semua orang itu, Tuhan hanya senang dengan Musa, sebab hatinya sangat lembut. Karena itu, segala urusan yang berkenaan dengan orang Israel selama perjalanan, Tuhan hanya bicara dengan Musa, dan hanya Musa yang bisa baku tawar dengan kemarahan Tuhan.

Selama perjalanan, mereka alami kelaparan, haus minum air, dan haus makan daging. Mereka putus asah dan marah–marah Musa, “kenapa kau bawa kami keluar dari Mesir baru kami menderita dan mati di sini? Kami memang hidup di tanah pembuangan, tapi masih bisa makan minum yang enak–enak.”

Israel memang bangsa pilihan yang dikasihi Tuhan, tapi bukan berarti dimanja Tuhan. Selama perjalanan kalau ada yang melawan perintah Tuhan, pasti mendapat tulah yang mematikan, seperti ular beracun pagut 23.000 orang mati, ada yang mati dalam perang melawan suku–suku dan lainnya. Tapi Tuhan tetap berjalan di depan mereka menuju Kanaan.

Hingga pada suatu saat Korah, Datan dan Abiran. Ketiganya anak–anak Eliab dari Suku Ruben. Mereka tiga ajak orang–orang untuk berontak lawan Musa dan 250 pemimpin umat Israel yang dipilih melalui rapat, mereka semua orang kenamaan. Ke–250 pemimpin itu dipilih sesuai perintah Tuhan untuk membantu beban tugas Musa dan Harun yang terlalu berat.

Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata, “sekarang cukuplah itu! segenap umat itu adalah orang–orang kudus, dan Tuhan ada di tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi–ninggikan diri di atas jemaah Tuhan?”

Bumi yang dirusak sejauh mata memandang. Foto: jubi.id

Ketika Musa mendengar hal itu, ia bersujud dan berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya, “besok pagi Tuhan akan memberitahukan, siapa kepunyaan–Nya, dan siapa yang kudus, dan Tuhan akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada–Nya. Orang yang akan dipilih–Nya akan diperbolehkan–Nya mendekat kepada–Nya.

Lalu Musa berkata kepada Korah, “cobalah dengar, hai orang–orang Lewi! Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada–Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama–sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi? Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan Tuhan?”

Akhirnya, Musa suruh orang pergi panggil Datan dan Abiram, tapi mereka dua bilang, “kami tidak mau datang. Belum cukupkah, bahwa Musa Pimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah–limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga Musa menjadikan dirinya tuan atas kami? Sungguh, Musa tidak membawa kami ke negeri yang tidak berlimpah–limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang–ladang dan kebun–kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan Musa mengelabui mata orang–orang ini? Kami tidak mau datang.”

Mendengar ucapan Datan dan Abiram itu, Musa sangat marah dan berkata kepada Tuhan: “Janganlah perhatikan segala persembahan mereka. Belum pernah kuambil satu ekor keledai pun dari mereka, dan belum pernah kulakukan yang jahat kepada seseorang pun dari mereka.”

Lalu Musa bilang Korah, “engkau ini dengan segenap kumpulanmu dan Harun harus menghadap Tuhan esok hari. Kamu masing–masing bawa perbaraan bubuhkan ukupan di atasnya, lalu masing–masing persembahkan perbaraannya ke hadapan Tuhan.

Maka mereka masing–masing membawa perbaraannya, membubuhkan api ke dalamnya, menaruh ukupan di atasnya, lalu berdirilah mereka di depan pintu Kemah Pertemuan bersama Musa dan Harun. Ketika Korah kumpulkan segenap umat yang melawan Musa dan Harun di depan pintu Kemah Pertemuan, tampaklah kemuliaan Tuhan kepada segenap umat itu. Lalu Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun, “pisahkanlah dirimu dari tengah–tengah umat ini, supaya Ku–hancurkan mereka dalam sekejap mata.”

Tetapi Musa dan Harun bersujud dan berkata, “ya, Allah. Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini”? Maka Tuhan berfirman kepada Musa, “katakanlah kepada umat itu: pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram.”

Memandang bumi yang dirusak. Foto: jakartasatu.com

Lalu, Musa dan para tua–tua Israel pergi ke kemah Datan dan Abiram. Musa berkata kepada umat itu: “baiklah kamu menjauh dari kemah orang–orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apa pun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka.”

Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Ibaram. Keluarlah Datan dan Ibaram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama–sama dengan istrinya, para anaknya dan anak–anak kecil.

Sesudah itu berkatalah Musa, ”dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus Tuhan untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang–orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus Tuhan. Tetapi, jika Tuhan akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka hidup–hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang–orang ini telah menista Tuhan.”

Baru saja Musa selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup–hidup ke dunia orang mati, dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah–tengah jemaah Israel.

Apakah kutukan mulut bumi terbuka menelan manusia bersama kekayaannya, hanya terjadi pada masa itu saja? ataukah bisa juga terjadi pada jaman sekarang untuk menelan manusia dan bangsa perusak bumi?

Adakah manusia jaman kini yang hatinya sangat lembut seperti Musa yang disenangi Tuhan untuk memerintahkan bumi membuka mulutnya menelan manusia dan bangsa perusak bumi? (Bilangan 16:1–50).

Paskalis Keagop