MEMILIH HIDUP SEBAGAI WARTAWAN
Catatan mengenang Joost Willem Mirino
suaraperempuanpapua.com – SEBELUMNYA saya tidak kenal Joost Mirino. Dulu dia kuliah di Salatiga, Jawa Tengah dan saya kuliah di Bandung, Jawa Barat. Awal pertemuan dimulai dari kantor redaksi mingguan Tabloid Jujur Bicara (Jubi) di Perumnas 2 Waena, Jayapura.
Sejak saya bergabung di tabloid mingguan Jubi sebagai loper penjual koran Jubi di wilayah Sentani maupun menjadi wartawan Jubi awal 2000 sampai pertengahan 2002, Joost belum ada di Jubi. Nanti dia bergabung sekira pertengahan 2002.
Suatu sore saya pulang liputan dari Jayapura ke kantor redaksi untuk kerja. Masuk ke ruang redaksi, kaget ada satu anak Irian muka baru di dalam ruang redaksi. Saya pikir dalam hati, “ini anak dari mana tiba–tiba ko ada di dalam ruang redaksi? Ruang ini orang lain dilarang masuk? Saya cuma jabat tangan lalu duduk di depan komputer tulis berita. Anak baru ini diam saja, tidak bicara apa–apa?
Lalu, Pemimpin Redaksi Jubi Muhammad Kholifan datang dan bilang, “Paskal. Itu teman kita yang baru, namanya Joost Mirino. Dia anak Salatiga, direkomendasikan langsung oleh Stanley di Jakarta untuk bergabung dengan kita di Jubi.”
Soal pengalaman dan pengetahun tentang jurnalisme saya, tak sebanding dengan anak Irian baru ini. Saya bukan ukurannya. Dia sudah terjun dalam berbagai aktivitas jurnalisme sejak mahasiswa di kampus bukan hanya menulis berita, tapi juga bergabung dengan komunitas buku aktivis gerakkan mahasiswa berdiskusi dan menulis buku dan menerjemahkan buku–buku bahasa asing terbitan luar negeri.
Untuk mengetahuinya secara mendalam, sesekali kita biasa cerita soal wartawan dan buku dengan Joost, baru tahu, “wah, anak ini hebat sekali. Dia bukan anak baru di Jubi, tapi senior di wartawan. Tidak mungkin Stanley rekomendasikan sembarang orang bergabung di Jubi. Kalau Stanley rekomendasikan orang? Artinya, itu orang pilihan,” pikirku dalam hati.
Sejak itu, kita berteman dan bekerja sama–sama sebagai wartawan mulai dari mingguan Jubi di Perumnas 2 Waena maupun bergabung bersama di mingguan tabloid Suara Perempuan Papua (tSPP) di BTN Puskopad Atas Kamkey, Tanah Hitam, Abepura, Jayapura sejak 2004 sampai 2019.

Selama itu, setiap ada kesempatan baik di Jubi maupun di tSPP kita biasa duduk ceritera, dan sharing bersama tentang bagaimana perkembangan media massa mulai dari kampus–kampus maupun perkembangan media massa umum di Jawa maupun di Papua. Termasuk bagaimana orang–orang yang hidup bekerja sebagai wartawan di Jawa maupun di Papua.
Tidak hanya itu, kita juga rutin diskusi tentang nilai–nilai dan etika kerja seorang wartawan. Ini adalah garis api atau garis batas tegak lurus kita untuk tetap menjaga independensi, integritas dan profesionalisme kita sebagai wartawan. Kita diskusi untuk saling mengingatkan di antara kita.
Joost bilang, “media massa itu industri. Di Jawa beda dengan Papua. Kalau orang bekerja sebagai wartawan di Jawa bisa hidup. Kalau di Papua jangan pernah bermimpi jadi kaya untuk hidup bergaya. Perusahaan pers di Jawa tiap hari ada saja yang muncul baru. Di Jawa itu padat modal, industri berkembang pesat dan berpusat di Jawa. Peminat bacanya ratusan juta. Ini potensi pasar iklan dan berita. Ini adalah modal besar untuk perusahaan media dan orang–orang yang bekerja di dalamnya hidup.”
Kalau di Papua, perusahaan medianya sedikit, tidak ada industri, modal perusahaan persnya sedikit, peminat bacanya sedikit sekali. Kalaupun orang–orang di Papua ada yang bersekolah atau pernah sekolah, tapi mereka tra tau baca. Media di Papua hidup, hanya bergantung pada pemerintah daerah. Itu juga yang menjadi dilemah media di Papua untuk sulit bisa bekerja independen dalam peliputan dan pemberitaan. “Media cenderung menghindar dari hal–hal yang bersinggungan dengan kepentingan pemerintah daerah,” ujar Joost.
Kondisi pers di Papua itu juga menjadi gambaran sulitnya mendorong minat orang Papua untuk mau bekerja sebagai wartawan. Karena, tidak menjanjikan masa depan. “Orang Papua memilih lebih baik menjadi pegawai negeri daripada wartawan. Pegawai negeri menjanjikan masa depan, memberi janji hidup sejahtera, mendapat gaji dan jatah beras rutin bulanan, disediakan berbagai fasilitas tunjangan kerja, dan mendapat jaminan pensiun di hari tua. Sementara wartawan, mau dapat apa? perusahaannya modal kempis. Wartawannya cuma dikasih kartu pers dan disuruh jalan cari hidup sejahtera sendiri.”

Karena itu, hidup sebagai wartawan di Papua adalah pilihan. Kalau mau kaya, jangan jadi wartawan. Sebaiknya, jadi pengusaha atau jadi pegawai negeri saja. Apalagi kita yang wartawan anak–anak Papua, terlalu jujur dan lurus. Mereka tidak pandai menipu dan manipulasi. “Orang model kita ini, sudah biasa hidup bersama miskin, dan tidak pernah bermimpi menjadi kaya. Kita hidup sebagai wartawan di Papua adalah pilihan hidup, bukan untuk mencari kekayaan.
Jangan juga bangga dan sombong jika ada yang puji. Kita harus selalu merasa kurang dan terus belajar. Sebab kita kerja bukan untuk dipuji. Kita ini bagai padi, semakin berisi, semakin merunduk. Itulah prinsip hidup seorang wartawan. Kaya pengetahuan dan tak tegak kepala.
Kita hanya berbangga diri dengan hasil karya kita dibaca oleh banyak orang sebagai upaya kita mencerdaskan dan menyadarkan warga bangsa kita tentang kehidupan. Karena kitalah pencatat kehidupan. Dan suatu saat orang akan lupa kita, tapi hanya alam yang akan terus ingat karya dan nama kita. Sebab itulah yang abadi.”

Di lain waktu Joost bilang, hanya hal yang selalu bikin anak–anak bangga sebagai wartawan adalah satu hari dia bisa ada di mana saja. Dia bisa ada di tempat yang paling mewa sampai dengan tempat sampah. Dengan mudah dia bertemu, duduk, bicara dan makan bersama dengan pejabat negara sampai dengan bisa duduk bergaul dan bicara dengan tukang pungut sampah. Mereka kelihatan seperti pejabat, tapi bukan pejabat. Dia bisa duduk makan makanan enak gratis harga mahal sampai dengan hanya makan krupuk dan nasi kering….hahaha”, urai Joost sembari tertawa.
Tak cukup saya bisa menulis semua yang pernah dicakapkan Joost Mirino. Terlalu banyak dan mengandung nilai–nilai dan prinsip hidup yang sangat dalam yang takkan habis untuk ditulis. Kau diam, menulis dan berkata seperlunya saja.
Catatan ini cuma sepotong yang terlintas di pikiran yang saya tulis untuk mengenangmu yang kini kau diam di alam sepi yang abadi.
Joost Willem Mirino. Pria kelahiran 29 Maret 1962 di Kampung Mamoribo, Biak Barat ini, sedang duduk makan di meja makan di rumahnya di Samofa, Biak kota. Saat itulah, Tuhan memanggilnya pulang, pada Kamis 24 September 2026, dan dimakamkan di Kampung Mamoribo, Biak Barat, pada Jumat 25 September 2026.
Paskalis Keagop



