KUTU BUKU ITU TELAH PERGI

Joost Wellem Mirino. Foto: Dokumen Eni Sudarningsih

suaraperempuanpapua.com – JOOST WELLEM MIRINO. Jurnalis Senior Papua. Sifat pribadinya pendiam. Tak banyak. Bicara seperlunya saja. Dia lebih banyak mendengar dan sesekali tersenyum atau tertawa.  Aktivitas kesehariannya sebagai jurnalis, selalu bersama buku dan di depan layar komputer. Dia selalu ditemani buku di tangan, rokok di bibir dan mengunyah pinang jika ada. Buku apa saja selalu dilahapnya habis saat sedang kerja maupun tidak. Hal lain yang sulit ditiru adalah buku yang selalu di tangan.

Kalau diskusi tentang buku apa saja, kita yang lain diam saja karena diskusinya tak nyambung. Dia bicara buku mulai dari judul, penulis, tahun terbit dan apa isinya. Hanya ada beberapa teman dekat yang mengenalnya yang komunikasinya bisa nyambung. Sementara yang lain diam dan ikut kuliah gratis tentang judul buku berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing.

Hal yang kadang membingungkan teman–teman sekitarnya adalah dia jarang berbahasa asing, tapi dia penerjemah buku–buku asing. Dia bisa membaca dan menerjemahkannya. Itulah salah satu kehebatan Joost yang kerap buat kita kagum. “Jangan sok jago dan pamer, yang penting kita mengerti bahasanya,” Joost Mirino suatu hari di BTN Puskopad Kamkey, Abepura, Jayapura.

Bersama Stanley, saat pelatihan di Jayapura. Dokumentasi Stanley.

Teman–teman dekatnya, selalu menyebutnya Perpustakaan Hidup atau Perpustakaan Berjalan. “Kita tidak perlu cari buku di perpustakaan. Cukup tanya kaka Joost, dia akan kasih tahu judul, penulis dan isinya,” ujar salah satu teman karibnya, Thomas Safanpo, ade tingkat saat kuliah di Salatiga, Jawa Tengah. Selama kuliah di Salatiga, mereka punya komunitas sendiri yang rutin mendiskusikan buku–buku tertentu terbitan dalam dan luar negeri.

Joost W. Mirino. Lahir di Biak. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di kampung kelahirannya, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Jawa Tengah. Aktivitas jurnalistiknya dimulai dari kampus. Setelah pulang ke Jayapura, ia melamar pekerjaan sebagai wartawan di mingguan Tabloid Jubi tahun 2002 di era-Pemimpin Redaksi Muhammad Kholifan.

Pernah bekerja di Majalah LANI sebagai Redaktur dan Pemimpin Redaksi merangkap editor, pada Februari 2015 – Desember 2018, serta di Tabloid Suara Perempuan Papua sebagai redaktur, kemudian menjadi Pemimpin Redaksi selama sekira tiga tahun sejak 2004. Selain bekerja sebagai wartawan, Joost Mirino juga bekerja sebagai editor buku.

Selain wartawan, Joost Mirino juga tergabung dalam organisasi profesi, sebagai Anggota Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Kota Jayapura. dia menjadi salah satu deklarator berdirinya organisasi wartawan Aji di Papua.

Joost pernah terlibat dalam penulisan berbagai buku secara tim dan juga menerjemahkan beberapa buku berbahasa asing terbitan luar negeri. Jacobus Perviddya Solossa. Arsitek Otonomi Khusus Papua, merupakan salah satu karyanya yang ditulis secara tim.

Joost mengalami sakit selama beberapa tahun di Jayapura, akhirnya keluarga menghantarnya pulang ke Biak, hingga pada Rabu 23 September 2026 kemarin. Pada Rabu kemarin, Joost sedang duduk makan di atas meja makan di rumahnya di Samofa, Biak. Saat itulah, Tuhan memanggilnya pulang untuk selamanya.(*