MAMA YANSINTA DAN OPERASI TAK KENTARA

Yasinta Moiwend adalah salah satu perempuan Suku Malind dari Kampung Wogikel Distrik Ilwayab Kabupaten Merauke. Sinta menjadi tokoh utama dalam berjuang menolak Proyek Strategis Nasional masuk bongkar hutan di dusun kelahirannya dengan suara lantang. Kini suaranya falsh.

Mama Yasinta Moiwend dalam sebuah kesempatan

suaraperempuanpapua.com – MAMA Yasinta Moiwend cermin perjuangan para tokoh Papua dalam berjuang membebaskan diri dari cengkeraman bangsa penjajah sejak 1960 sampai hari ini! dan selalu gagal. Dalam perkembangan, para tokoh Papua yang berintegritas dan berpikiran kritis sering menjadi lemah dan mengubah haluan cara berpikir, cara berkata dan cara berbuat.

Praktek pemerintahan di Papua sejak 1960 sampai hari ini adalah operasi kentara dan operasi tak kentara. Yang paling kuat dan dirasa sangat ampuh hingga hari ini adalah operasi tak kentara. Ini adalah pendekatan awal Pemerintah Indonesia masuk ke Papua.

Semula Pemerintahan Soekarno kirim pasukan relawan sebagai sipil yang bekerja sebagai guru, mantri, tukang bangunan, pedagang, dan lainnya. Mereka menjalankan tugas ganda: intelijen dengan kamuflase pekerjaan apa saja. Setelah Papua dikuasai? Lalu masuklah operasi kentara yang loreng dan pikul senjata di pundak.

Cara kerja kentara dan tak kentara ini mengacaukan cara sikap dan cara pikir orang Papua. Semua cara berpikir, cara berbicara dan cara bertindak orang Papua yang dianggap mengganggu stabilitas penguasa kerap didekati dengan tawaran berbagai fasilitas menggiurkan: jabatan, uang, dan peluang lainnya agar jinak dan tidak bikin storeng keadaan. Pikiran pun tumpul dan tak bisa berbuat apa pun. Ada sebagian tokoh Papua yang akhirnya dijinakan.

Namun bagi para tokoh yang konsisten yang tak mampu dipengaruhi, yang tak mampu bertahan menghadapi tekanan, tak mau ditangkap masuk penjara atau bahkan dibunuh? terpaksa lari ke negeri lain yang lebih aman. Tapi ada juga yang tidak mau dijinakkan dan tidak mau lari ke bumi lain? Terpaksa menghadapi resiko: dihilangkan atau dibunuh. Dan praktek itu terus terulang sampai hari ini!

Dortheys Hiyo Eluay misalnya, tokoh adat Sentani yang disegani, yang menjadi Anggota Dewan New Guinea Raad (anggota DPR Papua jaman Belanda). Dalam sidang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Theys menyatakan, “……saja kira sudah selesai penanja untuk menulis. Saja akan bitjara, saja mulai: wilayah Irian Barat tetap dalam pangkuan Republik Indonesia.” Irian Barat pun menjadi wilayah Republik Indonesia. Dan kemudian They menjadi tokoh utama Pembela Merah Putih di Papua.

Namun setelah 30 tahun kemudian, sejak 1969 sampai sekira 1999, Theys pun berbalik arah menggerakkan pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) rakyat Papua dan Kongres Rakyat Papua (KRP) Dua. Melalui Mubes dan Kongres, rakyat Papua mendaulat Dortheys Hiyo Eluay menjadi Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) untuk berjuang memerdekakan Papua.

Mama Yasinta Moiwend saat muncul di Jakarta

Theys belok pandangan politiknya karena dia merasa janji Indonesia untuk mensejahterakan rakyat Papua tak terbukti. Hanya janji kosong. Theys pun menjadi tokoh sentral bersuara lantang menyatakan Papua Merdeka! Papua belum sempat merdeka, Theys diculik dan dibunuh oleh sebuah pasukan elit Indonesia, Kopassus pada Hari Pahlawan Nasional Indonesia, hari Sabtu 10 November 2001. Dan tokoh pejuang berpikiran kritis lainnya pun mati terbunuh dalam operasi senyap.

“Praktek operasi tak kentara ini membuat orang Papua memilih lebih baik berpura–pura baik, ketimbang menjadi orang baik,” ujar Moses Weror di Madang, Papua New Guinea.

Di jaman ini, mama Yasinta Moiwend, seorang ibu rumah tangga asal Suku Malind dari Kampung Wogikel Distrik Ilwayab Kabupaten Merauke, yang muncul bersuara lantang menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) bongkar hutan di dusun kelahirannya. Mama tidak berpikir tentang kemungkinan resiko terburuk atau terbaik dari suara lantangnya menolak dusunnya dibongkar oleh orang tak dikenal.

Mama Yasinta sudah tahu, menolak PSN adalah menolak kebijakan negara. Pagar di lokasi PSN bukan pagar tembok, tapi pagar manusia pegang senjata. Mereka ditugaskan menjadi pagar agar jangan ada hama masuk merusak tanaman. Babi hutan, tikus tanah, belalang dan sejenisnya tidak boleh ganggu tanaman di dalam PSN. Pagar PSN adalah pemusnah hama.

Saat mama Yasinta berjuang bersuara lantang terus melalui aksi–aksi damai di depan kantor pemerintah, di depan lembaga peradilan, dan bahkan di istana negara di Jakarta, tak satu pun pihak yang peduli.

Mama Yansinta Moiwend saat di Jakarta. Foto: Tempo.

Nanti setelah seluruh perjuangannya dan dusunnya yang dirusak itu difilmkan dan filmnya beredar luas di seluruh dunia baru? Pagar PSN nyaris roboh, tak bisa berdiri tegap, tangan lemah memanggul senapan.

Akhirnya, mama Yansinta tiba–tiba menghilang tanpa jejak dari tengah–tengah keluarganya. Mereka mencari kemana–mana tak dijumpai. Nomor telepon tak bisa dihubungi. Tapi kemudian mama tiba–tiba muncul di Jakarta diapit orang tak dikenal dengan suara falsh. Mama menolak semua suara perjuangannya di film dokumenter Pesta Babi. Kolonialisme di Jaman Kita, yang dunia sudah dengar.

Suara falsh mama Yasinta bikin masyarakat dunia bingung. Kenapa mama punya suara yang nyaring tiba–tiba berubah jadi falsh?

Kini mama Yasinta diapit dua kepentingan yang lebih besar. Apakah mama masih akan tetap bersuara lantang demi masa depan generasi dan tanah kelahirannya? Ataukah mengikuti kekuatan tekanan pagar PSN yang mengelilinginya? Memilih dua–duanya pun tetap beresiko!(*