BAHASA INDONESIA PATAH-PATAH

Nicholas Gosselin asal Amerika, baru bekerja di perusahaan penerbangan AMA Sentani selama tiga setengah tahun. Bahasa Indonesianya patah–patah. Dia baru bisa ucapkan kata ‘mohon maaf dan terima kasih’ dengan baik.

Kapten Pilot AMA PK–RCY, Nicholas F. Gosselin asal Amerika, berfoto dengan pesawat perintis jenis pilatus yang sering dikemudikannya. Foto: BBC News Indonesia.

suaraperempuanpapua.com – NICHOLAS F. Gosselin asal Amerika Serikat, baru bekerja di Papua sebagai Pilot PT. Associated Mission Aviation (AMA) Air milik Keuskupan Jayapura selama tiga setengah tahun. Dia belum lancar berbahasa Indonesia. Bicaranya patah-patah alias sepotong-sepotong.

Kata yang sudah fasih diucapkannya adalah “mohon maaf dan terima kasih.” Setiap kali penumpang sudah naik dalam pesawat, dia ucapkan kata mohon maaf kepada penumpangnya. Dan setelah pesawat sudah mendarat, dia ucapkan kata terima kasih kepada penumpangnya. Dia sangat ramah kepada setiap orang yang dijumpainya.

Selama bekerja di Papua, Nicholas F. Gosselin telah mendengar dan tahu  bahwa ada kelompok sipil bersenjata di Papua. Sikap mereka tak segan–segan untuk bisa melakukan apa saja kepada siapa pun tanpa ampun. Tapi Nicholas sendiri tidak pernah melihat ataupun menjumpai dengan orang–orangnya.

Dan pada Kamis 2 Juli 2026 pukul 06.30 pagi, Kapten Pilot Nicholas F. Gosselin menerbangkan pesawat perintis jenis pilatus milik PT. AMA berangkat dari Bandara Wamena dengan penumpang sebanyak tujuh orang menuju Lapangan Terbang Ipdeheik Kampung Banlinggama, Distrik Sabaham, Kabupaten Yahukimo, dan pesawat mendarat dengan mulus pukul 06.46 pagi.

Semua penumpang sebanyak tujuh orang bersama barang bawaannya sudah diturunkan dari dalam pesawat dengan lancar dan aman. Pesawat pun terparkir dengan aman.

Di saat itulah muncul kelompok sipil bersenjata dengan posisi senjata di tangan siap tembak. Mereka menghadang Nicholas, dialog pun terjadi antara Nicholas yang berbahasa Indonesia patah–patah dengan kelompok sipil bersenjata yang bicara bahasa Indonesia dengan cepat bercampur bahasa daerah yang sulit dimengerti Nicholas. Tak ada pihak yang jadi penengah atau juru bahasa.

Pesawat AMA yang dibakar kelompok sipil bersenjata yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat di Lapangan Terbang Ipdeheik Kampung Banlinggama, Distrik Sabaham, Kabupaten Yahukimo, Kamis 2 Juli 2026. Foto: BBC News Indonesia.

Komunikasi di antara kedua pihak pun tak nyambung. Kelompok bersenjata lain mulai bergerak liar dan langsung membakar pesawat.

Sang Pilot pun bingung dan panik lalu lari ke gereja untuk mencari perlindungan. Dia pikir gereja itu tempat perlindungan sehingga bisa selamat.

Walau Nicholas sudah lari ke arah gereja. Tapi kelompok bersenjata tak membiarkannya. Mereka mengejarnya sampai di halaman gereja dan langsung menembak mati. Darah bercucuran keluar dari hidung dan mulut.

“Entah ditembak dari kepala belakangkah? atau ditembak dari tulang belakangkah? atau ditembak dari dadakah? Tidak tahu. Hanya masyarakat di lokasi kejadian yang tahu. Masyarakat juga tidak bisa bantu karena terancam. Mereka itu sangat biadab dan tak berperikemanusiaan. Dia sudah bantu kamu dengan baik, malah kamu bunuh dia,” ujar seorang warga yang datang ke Kantor AMA Sentani meletakkan krans bunga ucapan turut berduka dengan nada emosi.

Peristiwa pembakaran pesawat dan penembakan pilot diperkirakan dilakukan dalam rentang waktu pukul 06.50 pagi sampai pukul 08.00 pagi. Sebab Kantor Pusat AMA di Sentani baru menerima kabar pukul 10 pagi.

Jenazah Pilot AMA, Nicholas F. Gosselin dievakuasi dari Banlinggama ke Wamena, kemudian ke Mimika lalu dikirim ke Jayapura tiba di Bandara AURI Sentani, Jumat 3 Juli pukul 18 sore dan diinapkan semalam di Sentani. Dari Jayapura diterbangkan ke Jakarta pada Sabtu 4 Juli pagi, dan akan dikirim pulang oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta kepada orangtua dan saudara-saudaranya di Amerika.

 Paskalis Keagop