“Kita melayani dengan tulus, tapi mendapat balasan dengan pembunuhan,” ujar Darma S. T., Manager Operasi AMA di Sentani, Sabtu 4 Juli 2026.

suaraperempuanpapua.com – TINDAKKAN kejam dan tak berperikemanusiaan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata dengan membakar Pesawat Associated Mission Aviation (AMA) Air dan menembak mati Pilot Nicholas F. Gosselin di Bandara Ipdeheik Kampung Banlinggama, Distrik Sabaham, Kabupaten Yahukimo, Papua pada Kamis 2 Juli 2026 lalu menimbulkan kesedihan yang mendalam.
Apakah benar Pilot Nicholas F. Gosselin selama ini mengemudikan pesawat AMA angkut TNI, Polri dan amunisinya di wilayah Pegunungan Papua, sehingga kelompok sipil bersenjata yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menembak mati pilot asal Amerika Serikat dan membakar pesawat milik Keuskupan Jayapura?
Ataukah ada hal lain yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa yang memiluhkan itu? Berikut wawancara Suara Perempuan Papua dengan Darma S. T., Manager Operasi AMA di Sentani, pada Sabtu 4 Juli 2026 pukul 11.30 siang.
Sudah berapa lama Nicholas kerja di AMA?
Nicholas kerja di AMA kurang lebih tiga tahun. Rute pelayanan penerbangan selama ini sesuai operasional AMA, yaitu di seluruh Papua. Mulai dari Sorong, Manokwari, Biak, Mimika, Nabire, Wamena, Sentani, Oksibil, dan Tanah Merah.
Kelompok TPNPB mengatakan mereka tembak mati pilot dan bakar pesawat karena AMA angkut TNI dan amunisi. Ini bagaimana?
Itu saya pastikan 100 persen bahkan 1000 persen itu adalah fitnah. Segala bentuk tuduhan TPNPB yang menganggap AMA pernah mengangkut TNI, Polri, amunisi bahkan bantuan bahan makanan dan logistik untuk militer itu tidak benar!
Karena kita sudah diultimatum. Kita punya operasional, dan saya bertanggungjawab sebagai Manager Operasional AMA, bahwa kita tidak pernah mengangkut TNI, Polri, dan amunisi. Dan juga klaim TPNPB tentang adanya surat peringatan yang pernah mereka sampaikan ke AMA, itu tidak ada. Kita sama sekali tidak pernah menerima. Ini suatu bentuk fitnah yang sangat besar dari TPNPB terhadap AMA yang berada di bawah naungan Gereja Katolik Keuskupan Jayapura.
Penerbangan hari Sabtu 2 Juli itu mengangkut tujuh penumpang. Semua itu masyarakat daerah sana. Nama–nama penumpang itu adalah Eston Sobolim, Kwenang Sobolim, Toni Balingga, Elina Sobolim, Ona Sobolim, Lisenia Balingga, dan Faince Amohoso.
Penerbangan itu adalah penerbangan subsidi pemerintah, yang AMA bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk membantu masyarakat dalam bentuk transportasi udara. Dan kita mengkhususkan pengangkutan keperluan masyarakat di wilayah pedalaman. Seperti angkut kargo kebutuhan makanan, obat–obatan dan lainnya.

Ada gambar yang beredar di media sosial memperlihatkan ada pilot dan pesawat AMA terlihat anggota TNI turun dari Pesawat AMA. Itu bagaimana?
Gambar yang mana? Saya tidak bisa memberikan pernyataan. Karena kalau Anda bicara gambar itu, saya harus melihat gambarnya supaya kita bisa klarifikasi langsung. Atau memang kalau ada tuduhan menganggap atau kelalaian terhadap ada kru kita yang membawa anggota TNI, Polri, dan kalau memang ada buktinya, silakan kirim ke kita dan kasih ke kita. Tetapi kita tetap membantah bahwa, ini kita dituduh mengangkut TNI, Polri.
Bagaimana sikap AMA alami kejadian kemarin. Apakah AMA akan tetap melayani wilayah Yahukimo atau tidak? Untuk sementara kita belum bisa melayani di daerah Yahukimo, terutama di area yang terjadi korban jiwa terhadap seorang pilot kita.
Apakah hanya AMA yang melayani di Banlinggama? atau ada penerbangan lain? Ada. Semua penerbangan misi melayani di wilayah sana. Seperti MAF, Adventis, dan lainnya. Jadi bukan hanya AMA. Karena di area itu adalah wilayah pelayanan misionaris.
Ada berapa armada AMA sekarang? Kita punya armada ada tujuh unit, dengan yang dibakar kemarin itu delapan unit.
Sudah berapa kali AMA alami tragedi seperti ini? Ini tragedi pertama sepanjang AMA berdiri selama 67 tahun melayani pekabaran Injil dan menjadi perpanjangan tangan gereja, ya…? begini sudah. Pertama kali kita mendapat korban, tapi berupa suatu pembunuhan keji yang tidak berperikemanusiaan, yang kami alami pertama kali selama 67 tahun melayani.
Adakah pernyataan resmi AMA atas peristiwa kemarin untuk semua pihak di Papua? Kalau pernyataan resmi bisa dilihat di media sudah beredar. Karena pernyataan resmi dan konferensi pers resmi sudah diterbitkan oleh komisaris tertinggi Keuskupan Jayapura, yaitu Uskup Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You OFM., sebagai Komisaris Tertinggi AMA, yang juga Uskup Jayapura. Kita mengikuti saja pernyataan resmi itu.

Bagaimana evakuasi jenazah pilot? Dia sudah dipulangkan ke negaranya. Sekarang sedang dalam proses perjalanan. Proses evakuasi jenazah dimulai dari Banlinggama, ke Wamena dulu ke Mimika baru ke Jayapura. Dari Jayapura Sabtu 4 Juli pagi sudah diterbangkan menuju Jakarta. Di Jakarta akan diurus langsung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat bersama teman–teman, kemudian akan dikirim ke keluarganya di Amerika.
Apakah Nicholas punya istri dan anak–anak? Belum. Nicholas belum menikah. Masih singel, belum berkeluarga. Di Amerika akan diterima oleh orangtua dan saudara–saudara kandungnya.
Apa status kerja Nicholas? Dia warga negara Amerika, dengan status pekerjaannya di AMA sebagai tenaga profesional sesuai aturan Dinas Tenaga Kerja, namanya Pegawai Kerja dengan Waktu Terbatas (PKWT).
Berapa lama masa kerja Nicholas di AMA? Soal masa kerjanya di AMA itu mengikuti saja. Kita tidak bisa bilang dia berapa lama mau kerja di AMA. Tapi itu tergantung pada komitmen dia mau berapa lama melayani di perusahaan. Kami juga tidak pernah memberikan paksaan seperti kamu harus kerja sekian lama.
Setelah peristiwa tanggal 2 Juli. Berapa lama AMA akan memberi masa jeda tidak melayani penerbangan? Masa jeda itu kita belum bisa tentukan. Karena peristiwa ini sangat sedih. Sebab, tindakkannya sangat keji. Uskup Jayapura dan pimpinan tertinggi mengatakan kejadian itu sangat menampar seluruh keluarga AMA.
Jadi sampai sekarang kita belum bisa tentukan sampai kapan? Karena sekarang kita masa duka. Saya juga masih memikirkan keselamatan teman–teman pilot yang lain. Kita melayani dengan tulus, tapi mendapat balasan dengan pembunuhan. Itu yang sangat kami tidak terima. Jadi belum ada keputusan untuk lanjutkan pelayanan di Banlinggama.
Paskalis Keagop
