Sikap kesederhanaan dan bersahabat tanpa batas kepada siapa saja memberi kesan bahwa Pastor Nico Syukur Dister bukan sekedar imam dan guru, tapi seorang sahabat yang rendah hati.
suaraperempuanpapua.com – KEPERGIAN Pastor Nico Syukur Dister OFM ke rumah Bapa di Surga meninggal kesan dan menimbulkan duka mendalam bagi setiap orang yang mengenalnya. Teladan dan tutur katanya akan selalu diingat dan dikenang umat Katolik dan mahasiswa didikannya di Papua.
Setelah bertugas sekira 10 tahun di Jakarta, Profesor Doktor Nico Syukur Dister pindah tugas ke Keuskupan Jayapura berkarya sebagai imam dan dosen. Dia adalah seorang Imam Katolik dari Ordo Fraterum Minorum (OFM). Sebagai Guru Besar Filsafat dan Teologi, Nico mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura serta bertugas sebagai imam melayani di beberapa paroki dalam wilayah Keuskupan Jayapura.

Dia berkarya selama 41 tahun sejak 1983 sampai 2024 sebagai imam, dosen, penulis buku dan pengasuh anak–anak yang kurang beruntung dari berbagai wilayah pedalaman Papua. Dari pergaulannya sehari–hari, Pastor Nico mengenal dan dikenal banyak orang dari beragam suku dan bermacam lapisan masyarakat.
Sikap kesehariannya dalam membangun komunikasi dan bersahabat dengan berbagai orang itu menimbulkan kesan tersendiri dalam diri setiap orang. Sebagian besar warga Papua yang mengenal Pastor Nico merasa sedih dan mengucapkan selamat jalan memasukki hidup baru bersama para orang kudus di Surga. Dari sekian banyak orang, ada beberapa yang menuturkan pengalaman pribadinya dengan Pastor Nico, diantaranya:
Agapitus Batbual, seorang Jurnalis di Merauke menyampaikan kesannya dengan Pastor Nico saat berjumpa di jalan, “saya masih ingat saat lulus kuliah tra ada uang untuk bayar taksi dari Abepura ke Kantor Redaksi Irja Post di Entrop. Saya tunggu mobil di halaman STFT Fajar Timur, karena benar-benar kehabisan uang taksi. Setelah beliau turun dari mobil, saya dengan suara rendah memberi salam. Selamat Siang Pater. Karena malu ungkapkan maksud saya hendak meminta uang, saya pun mendekat. Beliau bertanya ada sesuatu Agapitus? Lalu saya bilang bahwa, “saya sangat butuh uang taksi. Untuk pulang pergi dengan taksi. Sehingga Pater tolong saya dulu.
Lantas Pater merogoh kantong bagian belakang, lalu terlihat sebuah kantong plastik, betapa kaget kantong plastik bekas pembungkus sendal jepit swalow dan dilipat berkali–kali, dibolak-balik rupanya Pater mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada saya, sambil berkata, “Agapitus gunakan dengan baik uang itu ya?”
Setelah menerima dari Pater, saya berjanji tidak akan meminta bantuan hingga detik ini. Kesederhanaanmu sangat membekas dalam hati saya. Pater, selamat jalan ke Yerusalem Baru bertemu Allah.
Bram Fonataba, seorang karyawan bank swasta di Jayapura. Dia menyampaikan pengalaman bertemu Pastor Nico untuk minta ujian susulan, “Saya salah satu alumni dari Beliau yang membentuk kami lewat cara berpikir yang baik melalui Mata Kuliah Logika di Uncen. Saya ingat persis satu kalimat yang sering beliau utarakan adalah, “Jika hanya maka Jika”. Arti nama yang diselibkan di tengah antara Nico dan Dister adalah nama Syukur yang artinya, beliau bersyukur karena bisa menjadi WNI.
Demikian sekilas yang masih terus dikenang oleh saya pribadi sebagai salah satu alumni yang pernah beliau ajarkan, walau saya harus menempuh mata kuliahnya dua semester. Terima kasih Bapak Pastor Nico Syukur Dister.

Pengalaman yang lain adalah, saya punya satu kisah juga dengan Bapak Pastor, gara–gara tidak ikut ujian mid semester dan saya naik ke STFT untuk menjumpai Bapak Pastor. Niat saya untuk bertemu terwujud, dengan harapan bisa ikut ujian susulan. Namun ketika bertemu dan beliau tanya, “anda mau apa?”
Saya bilang, ijin Pater, saya mau ujian susulan Mata Kuliah Logika. Beliau tanya, “Abraham (karena saya sudah perkenalkan diri), mengapa tidak ikut ujian?”, Saya jawab, saya sakit malaria. Dan Pater bilang ke saya, “anda sudah tahu, kalau akan ada ujian, maka anda harus jaga kesehatan.”
Tapi saya ngotot minta ujian dan Bapak Pater bilang, “ok saya kasih ujian, tapi anda tidak bisa dapat nilai A walau jawaban anda benar semua. Anda hanya bisa dapat nilai maksimal C.” Dan saya nyatakan siap ikut ujian dan saya dilayani ikut ujian di STFT Fajar Timur.
Di situ saya dapat memaknai dengan benar apa yang beliau tanamkan bagi kami tentang berpikir logis. Sekali lagi saya hanya bilang, terima kasih Bapak Pater untuk semua yang telah saya dapat, dan berguna bagi saya. Dan akhirnya, saya hanya dapat mengucapkan Selamat Jalan Bapak Pastor. Tuhan Menyambutmu di Surga.
Fransiskus Wombon, seorang warga di Fakfak, yang juga mantan mahasiswanya di STFT Fajar Timur Abepura, menyampaikan bahwa, pastor–pastor, bruder dan suster–suster asal Belanda yang bertugas di Keuskupan Jayapura, yang kami semua anggap orangtua yang sangat memperhatikan kita semua pada saat–saat itu. Kini, hampir semuanya telah kembali kepangkuan Bapa di Surga.
Menjelang usia–usia Yayasan Putri Kerahiman di Polomo Sentani, Jayapura menjadi wujud nyata karya luhur yang telah didedikasikan oleh almarhumah Suster Warson DSY dan almarhum Pastor Niko Syukur Dister OFM sejak tahun 1990–an.
Sebuah Yayasan yang telah menyelamatkan, memberdayakan, memanusiakan anak–anak Papua yang kurang beruntung. Dan tepat di Hari Minggu 12 April adalah Hari Raya Kerahiman Ilahi, Pastor Niko yang kita cintai, pergi untuk selamanya. Semoga kini almarhum berbahagia di sisi Allah Bapa.
Seorang warga berinisial Amoy03 mengatakan “Beliau sangat peduli dengan anak yatim–piatu dan Lansia Jompo hingga mendirikan Yayasan Putri Kerahiman Papua (YAPUKEPA) Sentani, dari Yayasan tersebut banyak menghasilkan orang–orang hebat di masa kini. Terima kasih, Pater Niko atas dedikasi dan jasamu, kiranya semua yang Bapak buat dengan tulus dan ikhlas di atas Tanah Papua menuai balasan berkat melimpah dari Bapak Yang Maha Kuasa. Doa kami menyertaimu Pater Niko.

Soleman Itlay, warga Jayapura mengatakan perjuangan kita soal Penetapan Hari Misi Katolik di Tanah Papua tidak terlepas dari berkat saran dan nasihat Pastor Nico Syukur. Dia sering berbicara soal penyelamatan terhadap sejarah misi Katolik di Tanah Papua, termasuk gedung–gedung tua yang bernilai sejarah.
Dia sering memberi saran dan masukan untuk kita tidak kehilangan jejak sejarah imam di Tanah Papua. Sebelum pergi, Pastor Nico sering mengikuti diskusi kita di group. Bahkan memberikan catatan dan bobot–bobot tertentu. Kepergiannya, membuat kita kehilangan penasehat lagi. Tuhan yang pernah utus dan kembali kepada Tuhan pula.
Seorang warga berinisial MarcoP0735, menyampaikan kesan selama bersama Pastor Nico, “Saya pernah tidur bersama Pastor di kediamannya di Hawi Sentani. Pernah menikmati kebaikannya juga. Pastor orangnya disiplin. Bagi Pastor, tidur selama 4–5 jam itu sudah cukup. Waktu selebihnya, digunakan untuk Pelayanan Tuhan dalam menulis buku tentang Kristus.
Di pinggir tempat tidurnya ada meja kecil, yang di atas meja itu ada lampu kecil dan kertas dua, tiga lembar serta pena/pensil. Kalau Almarhum Pastor hendak mau baringkan badan di atas tempat tidur, sebelum nyenyak, ketika ada satu dua kata atau kalimat yang terbayang terkait tulisan yang Almarhum tekuni, Almarhum Pastor pasti bangun untuk menulis di kertas yang sudah Beliau sediakan.
Saya memperhatikan dengan seksama di kamar tidurnya bersama Almarhum 4 jam adalah waktu yang sangat lama Almarhum istirahat (tidur)…Pastor…
Empat bulan tidak cukup untuk bisa belajar darimu…. Pengalaman empat bulan tinggal bersama Pastor membawa makna kehidupan yang sangat berarti bagi saya selama ini….Terima kasih Pastor. Almarhum Pastor orang hebat. Orang baik.
Agapitus Maturbongs, warga Jayapura menilai Pastor Nico Syukur Dister, “ini orang kudus di bumi, sekarang sudah bergabung dengan orang kudus di Surga. Ini adalah misionaris imam Katolik dari Negeri Belanda yang pulang terakhir ke negerinya dari Tanah Papua, sekaligus orang Kudus di bumi yang sudah kembali bergabung dengan orang Kudus di Surga. Surga tempatmu. Terpujilah Kristus.
Selamat bergabung dengan para kudus. Andilmu besar dalam mendidik dan membentuk tenaga–tenaga pelayan inti gereja di Tanah Papua tercinta.
Selamat jalan menuju Yerusalem Surgawi Pater Profesor Doktor Nico Syukur Dister OFM. Bahagia bersama Para Kudus dalam Kerajaan Surga, 7 Maret 1939 – 12 April 2026. Terima kasih banyak Pater atas dedikasimu di Tanah Papua. Guru Besar Filsafat dan Teologi yang rendah hati.
Paskalis Keagop/dari berbagai sumber
