Laga final babak playoff antara Persipura Jayapura dan Adhyaksa FC Serang, Banten di Stadion Lukas Enembe Jayapura, Jumat 8 Mei 2026 hanya tinggalkan sampah dan rongsokan. Semua yang datang ke stadion hanya makan minum dan tinggalkan sampah berserahkan di mana–mana.
suaraperempuanpapua.com – STADION Lukas Enembe Kampung Harapan Sentani dikenal sebagai salah satu stadion termegah di Papua. Tapi jika setiap ada pertandingan, selalu menjadi tempat penumpukan sampah di dalam maupun di luar stadion. Ribuan penonton dan ratusan pedagang yang datang hanya sibuk jualan barang dagangan cari uang. Tak peduli dengan sampah jualannya.

Penonton datang beli barang jajanan masuk ke stadion duduk nonton, makan minum dan membiarkan sampah begitu saja. Siapa yang bertanggungjawab atas sampah di Stadion Lukas Enembe usai pertandingan? Tak ada! Pedagang senang pulang bawa uang. Penonton pulang bawa kepuasan usai nonton. Sampah dibiarkan berhamburan di seluruh areal stadion, dan dibiarkan sampai membusuk.
Keadaan itulah yang terjadi pada laga final babak playoff Liga 2 musim 2025/2026 antara Persipura lawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe pada Jumat 8 Mei.
Sampah yang dihasilkan pada hari itu, tidak hanya botol, kaleng, plastik dan daun pembungkung makanan dan minuman. Tetapi sampah yang ditimbulkan akibat aksi brutal penonton yang merusak dan membakar berbagai fasilitas stadion, pembakaran kendaraan roda dua dan roda empat, pemkabaran ban–ban bekas, kayu, dan batu berserahkan di mana–mana. Asap pembakaran mengepul malam itu hingga pagi di Stadion Lukas Enembe.
Keesokan harinya, Sabtu 9 Mei memandang stadion hanya sampah dan rongsokan mobil–mobil dan motor–motor yang dibakar massa yang mengamuk brutal. Pemandangan stadion tak sedap untuk dipandang.

Untuk membersihkan sampah hasil aksi brutal penonton, ratusan prajurit gabungan TNI digerakkan membersihkan sampah di jalan raya maupun di dalam stadion. Aksi pembersihan dipimpin langsung oleh Kasi Opsrem 172/PWY Kolonel Inf. Syarifudin Liwang. “Ini sebagai bentuk respons cepat TNI AD terhadap kondisi lingkungan di sekitar stadion yang mengalami kerusakan akibat ulah sejumlah oknum supporter”, ujarnya.
Melihat aksi brutal penonton itu, Panglima Daerah Militer 17 Cenderawasih Jayapura, Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengimbau seluruh pendukung Persipura untuk tetap menjaga keamanan, kedamaian, dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Mari sama-sama kita jaga keamanan dan kedamaian Papua. Jangan membuat pengrusakan fasilitas umum maupun kerusuhan yang justru akan merusak citra Papua dan Persipura sendiri. Jadilah tuan rumah yang baik dan junjung tinggi sportivitas. Sepakbola seharusnya menjadi sarana pemersatu masyarakat, bukan menjadi pemicu tindakan anarkis,” tegas Febriel Buyung Sikumbang kepada wartawan.
Prajurit Kodaeral 9 Jayapura bergerak awal sekira pukul 8 pagi melakukan pembersihan di Stadion Lukas Enembe. Aksi pembersihan dipimpin oleh Paur TU Dispen Kodaeral 9 Letda Laut (KH) Kevin Amanta Isaliandro bersama 40 personel Kodaeral 9.

Pembersihan dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian TNI AL Kodaeral 9 terhadap lingkungan fasilitas umum pasca aksi brutal penonton di Stadion Lukas Enembe. Pembersihan sampah dilakukan di tepi jalan depan stadion, berupa botol plastik, kertas, kayu, batu dan material lain yang mengganggu lalulintas pengguna jalan.
Komandan Kodaeral 9, Mayjen TNI (Mar) Sugianto, mengatakan prajurit yang diturunkan untuk membantu memulihkan kondisi stadion dan lingkungan sekitar. “Ini bentuk kepedulian TNI AL kepada masyarakat. Kami ingin fasilitas umum segera pulih dan bisa digunakan kembali. Sinergi TNI-Polri dan masyarakat penting untuk menjaga Jayapura tetap kondusif,” tegasnya.
Aksi kebersihan bersama secara sukarela oleh warga sekitar stadion di Kampung Nolokla juga dilakukan pada Minggu 10 Mei siang usai pulang ibadah. “Ini tanggung jawab kita bersama. Sampah akibat aksi brutal penonton ada di lingkungan kita. Jadi kita harus bersihkan,” ujar seorang ibu dengan bersemangat di Stadion Lukas Enembe pada Minggu sore.
Paskalis Keagop
