RESES ANGGOTA KOMISI II DPRP LIDYA ASTRID MESET BANGKITKAN SEMANGAT BUMKAM MARTEWAR SARMI

Anggota Komisi II DPRP Lidya Astrid Mehue bersama tim dalam masa reses I di Kampung Martewar Distrik Pantai Barat Kabupaten Sarmi (foto:ist/tspp)

SUARAPEREMPUANPAPUA.COM–Angin laut membawa aroma sagu dan kelapa segar ke Kampung Martewar, di mana gotong-royong dan adat istiadat masih menjadi denyut nadi kehidupan. Komunitas pesisir Distrik Pantai Barat ini tak kenal lelah merintis usaha, tapi kini jeritan mereka menggema sudah, pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua (OAP) yang teguh pada tanah leluhur.

Pada 27 Maret 2026, Anggota DPRP Lidya Astrid Meset S.Ip., MIDP, menyapa warga dalam reses penuh kehangatan. Wakil masyarakat Moses Sawinay membuka dialog dengan kisah pilu BUMKAM (Badan Usaha Milik Kampung Adat Masyarakat), yang lahir 17 Agustus 2023. “Usaha meredup karena tak ada dana kelola. Banyak anggota cabut, padahal ini harapan kami,” ujarnya.

Mewakili suara perempuan adat dari Kampung Martewar Distrik Pantai Barat Kabupaten Sarmi (foto:ist/tspp)

Maria Cawem, anggota Bumkam, menambahkan: dari enam kelompok awal, kini hanya kelompok minyak kelapa bertahan. “Bantu kami mesin parut, fiber tampung air, drum santan, dan saringan—agar kami bangkit!”

Keresahan berlanjut ke hasil kebun. Yahya Nunit ungkapkan rasa prihatinnya, “Banyak buah kebun dibawa ke pasar Sarmi, tapi tak laku. Butuh proteksi pemerintah daerah untuk perdagangan OAP, plus pelatihan olah kelapa dan produk lokal.”, tandasnya.

Sementara itu, Tokoh perempuan, Sarah Sunuk menyerukan perlindungan adat, baginya,  buah pinang hanya dijual OAP saja, termasuk, memohon bantuan mesin parut kelapa dan sagu.

John Sisau mendesak aturan harga kelapa. Untuk itu, ia mengatakan sekarang Rp1.000 per buah, naik-turun bikin rugi. “kami minta harus ada harga tetap dan pasti. Kalau bisa tetapkan Rp2.000″. ujarnya ketus.

Suara untuk kemajuan perekenomian masyarakat adat Kampung Martewar Distrik Pantai Barat Kabupaten Sarmi (foto:ist/tspp)

Pemuda tak ketinggalan. Ketua pemuda Dedi Dores Wairaso meminta dukungan kursus menyetir, bengkel, serta alat olahraga: bola kaki, voli, gitar, dan keyboard. “Biarkan kami berkarya, jaga semangat generasi muda adat,” tegasnya.

Dalam nuansa Otonomi Khusus Papua yang menjunjung keberpihakan, perlindungan, dan pemberdayaan OAP, Ibu Lidya Meset menampung semua aspirasi. “Masukan ini akan saya bawa ke rapat Komisi II DPRP bersama mitra SKPD. Solusi nyata untuk Bumkam, proteksi hasil bumi, dan peningkatan kapasitas pasti dicarikan,” janjinya, disambut sorak warga Martewar.

Sedang berdiskusi dalam reses bersama masyarakat adat di Kampung Martewar Distrik Pantai Barat Kabupaten Sarmi (foto:ist/tspp)

Di pesisir ini, reses bukan janji kosong, melainkan jembatan harapan. Dengan semangat gotong royong adat, Martewar siap menari menuju kemandirian ekonomi—melindungi warisan OAP untuk generasi mendatang.*(tspp/gm)