Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ yang dijuluki “si Jago Tuhan” pertama kali menginjak tanah Pulau Bonyom dan menyebarkan ajaran Katolik ke mana–mana hingga menghembuskan nafas terakhir di antara Kampung Kipia dan Mapar, Mimika. Namun semangatnya terus hidup hingga hari ini.

suaraperempuanpapua.com – PASTOR Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ berkebangsaan Belanda pertama kali menginjakkan kaki di tanah Nueva Guinea (kini Papua) di Pulau Bonyom Kampung Brongkendik, Hambiriangkendik, Fakfak pada 22 Mei 1894. Kedatangannya menjadi awal penyebaran ajaran Katolik di Tanah Nueva Guinea. Kini usianya telah 132 tahun. Perayaan untuk mengenang Gereja Katolik masuk di Nueva Guinea pada 2026 ini akan dipusatkan di Pulau Bonyom pada 22 Mei mendatang.
Dalam sejarah Gereja Katolik di Nueva Guinea, mungkin Pastor Cornelis Le Cocq yang mendapat julukan paling istimewah, ‘si Jago Tuhan’, karena keberanian, semangat pelayanan dan energik untuk ditugaskan kemanapun meyebarkan ajaran Katolik.
Pastor Cornelis, memasukki wilayah Nueva Guinea pada abad ke–19. Sebelum ditugaskan ke wilayah Papua, dia berkarya di Jawa, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Namun atas perintah atasannya, ia merintis karya Misi Katolik di Tanah Papua.
Cornelis Le Cocq d’Armandville pertama kali masuk di Kampung Sekru, Fakfak pada 22 Mei 1894, membangun kontak dengan penduduk lokal yang beragama Islam, beberapa diantaranya, Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Dalam sepuluh hari berjalan, dia membaptis 73 orang di Kali Hibruh dan Kampung Torea menjadi Katolik.
Setahun kemudian, dia buka Pos Misi Katolik pertama di Pulau Bonyom, Kampung Brongkendik, Hambiriangkendik, Fakfak. Pada 1895, Pastor Cornelis memulai Pos Misinya dengan membangun gereja, pastoran, sekolah dan sumur darurat serta membaptis 86 orang menjadi Katolik.
Misionaris Serikat Jesuit (SJ) menjadi perintis pertama Gereja Katolik di Tanah Papua. Mereka mendapat tugas langsung dari Vikaris Natavia, Mgr. Adamus C. Claessens pada 1880–an untuk membuka pos misi di Maluku dan Vueva Guinea. Tapi mereka bersikap sangat hati–hati, karena masyarakat lokal belum bisa membangun kontak dengan orang asing.
Pastor Carolus van der Heyden SJ menjadi salah satu Imam Yesuit yang mendapat tugas secara khusus membuka Pos Misi Katolik di Maluku. Pada 30 Desember 1890, Heyden terdampar di Kampung Itatuni/Vanderpaha, Werabuan Fakfak. Kapal yang ditumpanginya terbakar di pinggir pantai. Kejadian ini membuat segala rencana Heyden untuk melanjutkan perjalanan ke Maluku terhambat. Selama di Kampung Itatuni, dia sempat membangun kontak dengan penduduk lokal, dan membaptis 15 orang di Siboru pada 31 Desember 1890.
Pada 21 Januari 1891 Pastor Carolus van der Heyden SJ meninggalkan wilayah Fakfak, dan bersama Controleur pertama untuk Kepulauan Kei, van der ‘Houts’ menuju Kei menggunakan kapal Gubernemen De Arend. Tiba di Kei pada 19 Februari 1891 dan melanjutkan tugas-tugas perutusannya. Setelah Heyden pergi, tidak ada lagi misionaris Katolik yang masuk di wilayah Werabun. Akhirnya, penduduk lokal yang sebelumnya memeluk agama Katolik pindah ke Protestan.
Pada 11 Juli 1891, Pastor Heyden datang ke Seram untuk buka Pos Misi sembari mempersipakan pembukaan pos misi di Nueva Guinea. Pada Oktober 1892 Uskup Amboina Mgr. A. C. Claessens memberikan perintah kepada Heyden untuk pergi melakukan peninjauan awal ke daratan Selatan Papua. Tujuannya mencari tempat yang agak baik supaya bisa membuka Pos Misi Katolik di Nueva Guinea guna membendung Inggris dari PNG masuk ke Selatan Papua.

Uskup Claessens memanfaatkan momen tim ekspedisi Belanda tahun 1894 yang hendak berlayar melakukan eksplorasi flora dan fauna di Selatan Papua. Tapi, Bruder T. Klamer SJ yang ikut Heyden meninggal setelah tiba di Maluku. Laporan-laporan yang dikirim Pastor Heyden tentang keadaan di Nueva Guinea masuk ke meja para imam di Batavia. Dalam laporan survei itu menuntut agar seorang misionaris yang lebih energik ditugaskan di tanah misi Nueva Guinea.
Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ yang menjadi pilihan utama Mgr. Adam Carl Claenssens untuk dikirim ke Nueva Guinea. Setelah mendapat tugas baru, pada 9 November 1891, Le Cocq menuju Pulau Seram, Ambon. Lalu tahun 1892, dia diutus meninjau Kampung Bomfia di bagian Timur Pulau Seram. Pater Cornelis mendarat di Waru dan menuju Bonfia. Tapi tak lama, dia meninggalkan Bonfia karena mendapat penolakan dari masyarakat sekitar untuk menjadi penganut Kristen. Pada 1893 ia memasuki Kisse Wooi dan Kepulauan Watubela.
Pada awal 1894, Cornelis Le Cocq d’Armandville juga berkunjung ke Pulau Geser, dan berhasil mengumpulkan banyak informasi tentang Nueva Gueinea melalui penduduk setempat dan orang Papua yang pergi berdagang ke sana. Monsinyur Claessens langsung memberikan tugas secara khusus kepada Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville untuk membuka Pos Misi Katolik di Tanah Papua. Pastor yang dikenal dengan julukan “si Jago Tuhan” ini menerima tugas perutusan itu dengan rasa gembira.
Pada 22 Mei 1894, Cornelis Le Cocq SJ memasuki Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Fakfak, yang di kemudian hari menjadi hari bersejarah perkembangan Gereja Katolik di Tanah Papua. Peristiwa ini dianggap penting karena membangun kontak langsung dengan penduduk lokal yang beragama Muslim, kemudian membaptis mereka menjadi penganut ajaran Katolik.
Penduduk Pariwari, Fakfak yang meneriman Le Cocq antara lain Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Selama 10 hari lebih, dia menghabiskan waktu bersama penduduk lokal. Bahkan tidur bangun dan makan minum dengan penduduk Muslim dan yang belum beragama di Kampung Sekru dan Torea. Keberanian untuk merendahkan diri dalam kebudayaan penduduk lokal menarik simpati orang.
Karena itu, Pastor Cornelis Le Cocq mendapat dukung penuh dari penduduk lokal untuk menyebarkan agama Katolik. Bahkan melakukan kunjungan ke kampung–kampung sekitar, berlayar ke tepian pantai dan pulau dalam melakukan peninjauan awal. Di sini penduduk lokal sambut dengan lapang dada. Keterbukaan hati pastor membuat penduduk lokal pun secara terbuka mendukung karya misi Katolik.
Pada 23 Mei 1894 Pastor Le Cocq membaptis 8 anak di kali Hibruh, Sekru. Keesok harinya, dia membaptis 65 orang di Kampung Torea—kini menjadi lokasi berdirinya Gereja Katolik St. Petrus Torea. Sakramen pembaptisan awal ini menjadi peristiwa penting, karena menandai kehadiran Gereja Katolik di Tanah Papua.
Selama di Fakfak, Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ mengunjungi hampir semua wilayah pesisir yang ada di dalam kota. Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah Pulau “War Hiryamggah.” War Hiryamggah dalam bahasa setempat, artinya “batu pecah.”
Namun, belakangan ini seringkali disebut Bone/Bonyom. Dalam bahasa Latin berarti baik, indah, dan damai. Pastor melihat Pulau Bonyom itu sangat strategis. Karena selain indah, juga tak berpenghuni, sehingga lebih mudah untuk membuka Pos Misi Katolik di Pulau Bonyom. Setelah memastikan lokasi ini, pada awal 1895, Pastor Le Cocq kembali ke Tual.
Di Tual Le Cocq bertemu dengan komfraternya, yaitu Pastor Heyden. Dia menceritakan pengalaman hidupnya selama di wilayah Pulau Bonyom Kampung Brongkendik, Hambiriangkendik, Fakfak. Sekaligus meminta dukungan dari Heyden, karena dia hendak membuka pos misi pertama di Pulau Bonyom. Pada kesempatan yang sama Le minta kesediaan Bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot SJ guna mendirikan pos misi di Pulau Bonyom.
Selain itu, Pastor Le Cocq juga mencari seorang guru yang akan mengajar anak–anak di sekolah Katolik. Usahanya tidak sia–sia. Dia bertemu dengan guru katekis Protestan, Christianus Palletimu. Setelah memastikan sumberdaya, bahan dan alat Le Cocq meminta Bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot untuk merakit bahan bangunan dari Tual. Kemudian mengangkut semua peralatan bangunan dari Tual menuju Bonyom.

Pastor Le Cocq mulai membuka Pos Misi Katolik di Pulau Bonyom sejak 2 Mei 1895. Pembukaan pos ditandai dengan pendirian gereja, pastoran, sekolah dan sumur darurat. Sumur Le Cocq hingga kini masih terawat baik di Pulau Bonyom. Sebanyak 10 anak pertama sekolah di Bonyom. Beberapa hari kemudian, Le membaptis 86 orang di Bonyom.
Setelah menyelesaikan tugas—mendirikan pos misi pertama di Bonyom, Pastor Le Cocq merencanakan perjalanan baru ke arah Selatan. Kali ini hendak membuka Pos Misi Katolik kedua di wilayah Mimika. Ia keluar bersama Kaptain Kapal, Pieter Salomon dari Pulau Bonyum pada 5 Maret 1895, dan tiba di Mimika pertengahan Mei 1896. Sempat membangun kontak dengan penduduk lokal.
Namun, pada 27 Mei 1896 Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ dinyatakan meninggal di antara Kampung Kipia dan Mapar, Mimika. Kematiannya masih menyimpan “pertanyaan besar” bagi keluarga, komunitas, orang Mimikawe, orang Papua, dan Gereja Katolik di Papua. Kasusnya pernah didorong sampai di Pengadilan Banda Neira, Maluku. Tetapi dicabut oleh Gereja Katolik dengan pertimbangan tertentu.
Le Cocq telah meletakkan dasar Gereja Katolik di Tanah Papua dengan harga yang sangat mahal, yaitu nyawanya sendiri. Nyawanya menjadi jaminan untuk mengembangkan Misi Katolik di Tanah Papua. Kematian Pastor Le Cocq juga menjadi pukulan telak bagi komunitasnya. Mereka sudah trauma. Konfraternya tidak mau lagi melanjutkan misi di Nueva Guinea, karena takut mengalami nasib yang sama.
Akibatnya, selama 8 tahun misi di Nueva Guinea mengalami transisi serius. Melihat hal ini Kongregasi Hati Kudus Yesus bergerak cepat dalam membendung pengaruh Zending dari Utara, juga pengaruh Jerman dan Inggris di PNG. Pada 1 Januari 1904, Serikat Jesus menyerahkan wilayah pelayanan di Nueva Guinea kepada MSC guna mengembangkan karya misi yang ditinggalkan Le Cocq.
Kepergian Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ pada 1896 membuat Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu atau Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) bersedia mengambilalih karya misi di Nueva Guinea.
Dari Pulau Bonyom ajaran Gereja Katolik dikabarkan sampai ke seluruh pelosok Papua. Perayaan HUT ke–132 masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua akan menyatukan umat Katolik dari lima keuskupan di Tanah Papua untuk merayakan bersama pada 22 Mei 2026 mendatang.
Paskalis Keagop/dari berbagai sumber
