Luka di sekujur tubuh Papua yang terus menganga harus segera disembuhkan. Luka itu terus menganga secara sistematis dan masif. Teriakan sakit luka Papua tak pernah didengar orang lain. Kalaupun ada gereja dan pemerintah, mereka diam saja dan melindungi diri di balik jubah dan aturan negara!

suaraperempuanpapua.com – LUKA Papua terus menganga, tapi tak ada yang mau mengobatinya. Usianya sudah 66 tahun sejak masuknya Indonesia menggunakan pendekatan militer, dan menjadi wilayah kekuasaan militer tak terbatas sampai hari ini. Sejarah luka pun mulai timbul sana–sini di sekujur tubuh Papua yang sulit disembuhkan. Banyak ahli luka telah didatangkan, tapi bingung mengobatinya.
Orang Papua sudah hidup pada tiga jaman. Jaman sebelum ada pemerintahan asing, jaman pemerintah Belanda bersama para misionaris pekabar Injil serta jaman pemerintah Indonesia bersama kekuatan militernya.
Pada dua jaman sebelumnya, orang Papua hidup sebagai manusia. Mereka hidup sebagai manusia di dalam rumah dan di atas tanahnya sendiri. Tak ada kekejaman kemanusiaan menggunakan senapan, tak ada penjarahan sumberdaya alam. Tak ada perampasan dan perusakan hutan oleh siapapun untuk atas nama apapun. Kehidupan orang Papua tak pernah diusik oleh manusia perampok.
Pemerintah Belanda masuk berdasarkan hasil penelitian para ahli antropolog terbaik dunia. Belanda masuk membangun Papua menggunakan pendekatan budaya beriringan dengan pekabaran Injil oleh para zendeling dan misionarisnya dan pelayanan administrasi pemerintahan pun dilaksanakan. Semuanya berjalan aman dan lancar.
Sekolah–sekolah dibangun, pusat–pusat perbengkelan mesin dan meubel kayu untuk orang Papua latihan kerja dibangun, pusat pelayanan kesehatan dibangun dan bahkan dilayani dari kampung ke kampung di setiap suku di wilayah–wilayah yang tersulit dan terisolasi. Mereka melayani tanpa mengeluh dan tak pernah menyatakan “untuk apa pusing urus manusia yang masih hidup di jaman batu ini?” mereka melihat orang Papua adalah manusia.
Di permulaan pemerintahan Belanda di Papua, alam dan kekayaannya masih sangat utuh. Tapi mereka tidak berwatak rakus, merusak, merambah, membunuh dan menjarah kekayaannya. Orientasi pelayanan pemerintah Belanda bersama para misionaris Protestan dan Katolik hanya berpusat pada manusia. Pembangunan diutamakan pada membangun sumberdaya manusia melalui pendidikan, kesehatan dan latihan kerja. Mereka berharap hanya dengan itu, orang Papua bisa membangun dirinya sendiri dan masa depannya lebih cepat untuk mandiri.
Kini, rezim pemerintahan dan para penerus pekabar Injil di Tanah Papua pun telah berganti. Dulu Belanda, kini Indonesia. Pemerintahan, lembaga keagamaan, militer melihat Papua adalah Indonesia, bukan bangsa asing yang beda dengan budaya mereka. Mereka datang dengan satu tekad: “Indonesiakan Papua” berdasarkan padangan politik, dan budaya mereka.
Ajaran Injil pun dilebur ke dalam pandangan politik negaranya. Orientasi membangun Papua pun berubah. Mereka boleh berkarya di Papua sebagai imam, uskup, pendeta, biksu, haji, ulama, jurnalis, aktivis LSM, hakim, jaksa, polisi, tentara, guru, dosen, dokter dan lainnya, tapi tetap Indonesia! Mereka bicara tentang kesatuan Indonesia, dengan melihat Papua adalah wilayah garapan baru yang harus dikuasai.

Awal Indonesia masuk dengan kekuatan militer menggunakan kekerasan senjata dengan wajah garang, memanggul senapan dan pegang di tangan untuk siap tembak mati siapa saja yang hadang di depan. Mereka menjarah, membumi hanguskan segala peninggalan Belanda, asap mengepul di berbagai tempat. Semua barang perkakas rumah tangga milik keluarga Belanda, keset kaki, sendal jepit putus, daun jendela, daun pintu, engsel pintu, dan jendela, pot bunga, jemuran pakaian serta apa saja yang ditemuinya diangkut ke kapal laut dan pesawat udara lalu di bawa kabur ke luar Papua. Orang Papua hanya heran dan berdiri nonton kelakukan orang baru yang bertindak aneh!
Orang–orang Papua yang protes ditangkap, disiksa, dipenjara dan dibunuh tanpa diberi kesempatan membela diri. Orang Papua yang ingin hidup aman, terpaksa lari hidup di negeri lain.
Aksi penjarahan segala kekayaan disertai teror, intimidasi, penangkapan, penghilangan, pembunuhan oleh orang Indonesia berseragam terus terjadi sampai hari ini. Pintu dan jendela untuk orang luar melihat dan mendengar suara Papua pun ditutup mati. Papua pun menjadi Daerah Operasi Militer tak terbatas. Presiden Indonesia yang terus berganti berkali–kali pun, tak berani buka pintu dan jendela yang telah terkunci selama 66 tahun. Sejarah Indonesia di Papua adalah sejarah kelam tentang kekejaman dan penderitaan!
Film dokumenter Pesta Babi yang muncul hari ini adalah hanya sedikit gambaran tentang kondisi Papua sesungguhnya hari ini yang telah terjadi berpuluh tahun yang telah disembunyikan. Para penyembunyi dan penikmat hasil merusak Papua bingung dan tidak bisa tidur. Mereka pun mulai membantah dengan melarang pemutaran Film Pesta babi di berbagai tempat.
Para jurnalis perusak Papua pun mulai sibuk siarkan pandangannya tentang Film Pesta Babi ke publik. Para imam dan pendeta pun mulai sibuk klarifikasi menggunakan beragam teori, ajaran gereja dan kitab suci ke pada publik. Sekelompok orang yang mengaku masyarakat adat pelacur adat pun sibuk menyatakan Film Pesta Babi tidak berimbang. Hak Masyarakat adat yang ditindas dan dikuras, malah kau sibuk klafirikasi membela koorporasi perusak alam dan pembunuh manusia Papua.
Petinggi militer pun pusing lalu menanyakan dari mana sumber pendanaan pembuatan film pesta babi? Mestinya tanya warga sebangsamu yang tidur di bawah kolong jembatan dan mengemis di jalan raya dengan pertanyaan, “kamu makan bagaimana tiap hari dan uangnya dari mana?”

Anggota militer dan warga sipil binaan pun digerakkan melarang dan membubarkan orang lain yang sedang nonton bareng Film Pesta Babi di berbagai tempat. Film Pesta Babi di media sosial pun dipotong–potong dan disebarkan dengan narasi membela diri.
Masa kekejaman dan kesengsaraan di Papua harus segera dihentikan. Dunia hari ini tidak bisa disembunyikan. Media massa telah berkembang pesat dan dunia menjadi terang benderang.
Penyembuhan luka Papua hari ini tidak lagi berada pada harus melalui prosedur aturan, kelembagaan agama, atasan atau bawahan. Sudah 66 tahun orang Papua berteriak minta tolong sembuhkan luka, tapi lembaga agama tak pernah dengar. Lembaga pemerintah malas tahu. Lembaga peradilan tutup pintu keadilan. Lembaga militer keras kepala dan membiarkan luka Papua terus menganga dan dalam.
Setelah film pesta babi hadir baru, semua sibuk membela diri dan mulai bilang begini dan bilang begitu? Lalu, selama ini kamu kemana saja? Papua bukan milik sinode, Papua bukan milik keuskupan, Papua bukan milik pemerintah, Papua bukan milik militer.
Papua milik setiap orang di mana pun di muka bumi ini. Mereka wajib membela siapa pun atas nama kemanusiaan dan alam yang dirusak oleh kerakusan dan keserakahan kelompok manusia lain. Begitu pun Papua, bukan milik anda, tapi milik semua orang untuk membelanya atas nama kemanusiaan!
Film Pesta Babi hanyalah nana kecil yang pecah dari luka besar yang menganga. Nana besarnya belum pecah. Makanya, kalau ada luka, harus segera disembuhkan. Jangan sembunyikan luka lama sampai menahun.(*
