ORANG PAPUA BUTUH DISKRIMINASI POSITIF

“Orang Papua butuh diskriminasi positif,” ujar Pastor Nico Syukur Dister OFM. Kalimat ini bukan sekedar pernyataan, tetapi jeritan nurani. Dia melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan keterpinggiran yang dialami orang Papua.  Sebagai seorang imam dan sebagai seorang intelektual, dia tidak tinggal diam. Dia berdiri di sisi mereka yang lemah, membawa suara yang seringkali tak terdengar.

Profesor Doktor Pastor Nico Syukur Dister OFM

suaraperempuanpapua.com – PASTOR Nico Syukur Dister Ordo Fraterum Minorum (OFM). Lahir di Maastricht, Belanda pada 7 Maret 1939 dari pasangan Yohanes H. Nikolaus Dister dan Maria Katarina. Mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Nico Syukur Dister, Lily Dister dan Josef Dister.

Dari ketiga anak itu, seorang diantaranya kelak mengabdikan seluruh hidupnya bagi ilmu, iman dan kemanusiaan. Pastor Nico Syukur Dister OFM. Dia bukan sekedar seorang imam atau dosen, tetapi seorang pemikir yang menjembatani iman dan akal budi serta seorang sahabat bagi banyak orang.

Sejak muda, panggilan intelektualnya begitu kuat. Dia menempuh pendidikan Filsafat dan Teologi di berbagai pusat pemikiran Eropa: Belanda, Belgia dan Jerman Barat. Puncak pencarian akademiknya ditandai ketika dia meraih gelar Doktor Filsafat di Universitas Leuven, Belgia pada 1972.

Namun gelar itu bukan tujuan akhir. Itu justru menjadi awal dari sebuah pengabdian panjang. Nico Syukur Dister memilih Indonesia sebagai ladang karyanya. Sebuah keputusan yang tidak biasa. Tetapi penuh makna. Pada 1973, Nico mulai mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Diryakara Jakarta.

Di sana dia tidak hanya mengajar teori, tetapi juga membentuk cara berpikir kristis mahasiswa. Mengajak mereka bertanya, meragukan, dan menemukan iman secara lebih dewasa.

Pengabdiannya kemudian lebih meluas ke Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Karya Wacana sejak 1977, dan kemudian ke Timur Indonesia mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Jayapura sejak 1983 – 2024 di Tanah Papua.

Kehadiran dan pengabdian Profesor Doktor Pastor Nico Syukur Dister OFM di Papua selama 41 tahun, bukan sekedar sebagai imam dan pengajar, tetapi sebagai pendengar, sahabat, dan pembela martabat manusia. Dia mendalami Psikologi Agama, sebuah bidang yang jarang disentuh pada masanya. Baginya iman bukan soal hanya dokrin, tetapi juga pengalaman bantin manusia.

Pastor Nico Syukur Dister OFM bersama dua mahasiswanya di STFT Fajar Timur Abepura, Jayapura.

Nico Syukur Dister melihat bagaimana manusia bergulat dengan rasa takut, harapan, dosa dan kasih dan mencoba memahami semua itu dengan pendekatan ilmiah dan spiritual sekaligus. Karya-karyanya menjadi saksi pemikirannya yang mendalam.

Seperti buku Filsafat Agama Kristiani, Pengalaman dan Motivasi Beragama, hingga Filsafat Kebebasan, tidak hanya dibaca, tetapi juga direnungkan oleh banyak kalangan mahasiswa, imam dan umat awam. Dia menulis bukan untuk menggurui, tetapi untuk menemani perjalanan iman umat manusia, namun lebih dari buku dan gelar, ada satu hal yang membuatnya dikenang, yaitu keberaniannya bersuara.

Nico Syukur Dister pernah mengatakan, “orang Papua butuh diskriminasi positif.” Kalimat ini bukan sekedar pernyataan, tetapi jeritan nurani. Ia melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan keterpinggiran yang dialami orang Papua dan sebagai seorang imam serta sebagai seorang intelektual, Dia tidak tinggal diam. Dia berdiri di sisi mereka yang lemah, membawa suara yang seringkali tak terdengar.

Minggu 12 April 2026, Profesor Doktor Pastor Nico Syukur Dister OFM menghembuskan nafas di tanah kelahirannya, Belanda. Dunia kehilangan seorang pemikir, gereja kehilangan seorang pelayan, dan Papua kehilangan seorang sahabat sejati.

Namun warisannya takkan pernah mati. Akan tetap hidup dalam buku–bukunya, dalam pemikiran murid–muridnya, dan dalam semangat keadilan yang dia tanamkan.

Selamat jalan Pastor Nico Syukur Dister OFM. Engkau telah menyelesaikan pertandingan dengan setia. Namamu akan selalu hidup di hati banyak orang, terutama di hati Tanah Papua.

John Kris Pakage