BONYOM MENUJU 132 TAHUN MISI KATOLIK DI PAPUA

Bonyom, sebuah Pulau kecil di Fakfak menjadi pusat karya Misi Katolik di Tanah Papua. Kini telah berusia 132 tahun yang akan dirayakan Umat Katolik lima keuskupan di Papua di Bonyom pada 22 Mei 2026.

suaraperempuanpapua.com – SEJARAH yang terlupakan! Agama Kristen dibawa masuk ke Tanah Nueva Guinea (Papua) tidak saja oleh para Zendeling Protestan, tapi juga oleh para Misionaris Katolik. Basis pekabaran Injil Agama Kristen dibawa masuk ke Nueva Guinea berasal dari dua dapur yang sama: Jerman dan Belanda. Jerman menjadi basis pekabaran Injil Kristen Protestan dan Belanda menjadi basis pekabaran Injil Kristen Katolik.

Namun kenapa perayaan Injil masuk di Nueva Guinea hanya dirayakan untuk mengenang para Zendeling Kristen Protestan yang dirayakan secara bersama dan meriah? Sementara Injil yang dibawa oleh para Misionaris Katolik di Nueva Guinea tak pernah dirayakan secara bersama? Apakah isi dan tokoh utama di dalam Injil yang dikabarkan di Tanah Nueva Guinea oleh Protestan dan Katolik beda?

Tokoh Perintis Pekabar Injil di Tanah Papua, Johann Gottlob Geissler dan Carl Wilhelm Ottow di Mansinam, 5 Februari 1855. Foto: suarahhati.blogspot.com

Jika dilihat dari gagasan awal pekabaran Injil di Tanah Nueva Guinea dimulai dari Gereja Katolik. Pada 19 Juli 1844, Paus Gregorius XVI di Vatikan keluarkan Dekrit Ex debbito Pastoralis, yang membentuk dua vikariat baru, yaitu Vikariat Mikronesia dan Vikariat Melanesia.

Tahta Suci Vatikan menentukan garis bujur dari 125 derajat BT hingga 160 derajat BB yang meliputi Nueva Guinea (Papua), Tobbia, William, Shouten Eilanden, Vesset, Timollant, dan Ariou guna menjadikannya sebagai ladang karya misi Allah. Pembagian wilayah ini menjadi cikal bakal terbentuknya wilayah gereja baru sebelum para Misionaris Katolik memasuki di Tanah Misi.

Dan sekira 11 tahun kemudian, perkumpulan De Christelijke Werkman (Pekerja Kristen) di Jerman mengutus Johann Gottlob Geissler dan Carl Wilhelm Ottow duluan ke Tanah Misi.

Pemikiran Pekerja Kristen secepatnya kirim Johann dan Ottow ke Tanah Misi berasal dari seorang ex-imam Katolik asal Jerman yang pindah ke Protestan, bernama Johannes Gosner (1773–1858) yang memainkan peran penting dengan ide misi pengiriman para pekerja Tuhan melalui Berliner Misionsgesellschaf (Persekutuan Misi Berlin). Sedangkan di Belanda, Ottho Gerhard Heldring (1804–1876) mulai mengembangkan rencana kolonisasi yang disisipkan dengan ide mengenai zending.

Pada 1850 Heldring yang memiliki sebuah organisasi Vrienden des Heeren (Sahabat-Sahabat Tuhan) mengunjungi Grossner di Berlin. Kemudian membicarakan kemungkinan merekrut orang, melatih, menyiapkan dan mengirimkannya ke tempat-tempat yang belum terjangkau. Johann dan Ottow menjadi orang-orang pilihan dari sekian banyak orang yang masuk mengikuti bimbingan dan persiapan selama beberapa bulan. Kemudian kedua misionaris Zending itu tiba di Mansinam pada 5 Februari 1855.

Sebelum Agama Kristen masuk di Nueva Guinea, Agama Islam sudah lebih dulu ada sejak tahun 1500–an. Agama Islam masuk melalui pesisir pantai laut oleh para pedagang muslim dan mereka telah menjelajahi seluruh wilayah Tanah Nueva Guinea. Tapi gagal mengabarkan Alquran, karena Islam tidak mengajarkan makan babi. Orang Nueva Guinea punya budaya memelihara babi dan makan babi. Akhirnya, penyebaran ajaran Islam tidak berkembang dan hanya berkembang di wilayah pesisir pantai dan kepulauan Nueva Guinea.

Setelah 355 tahun kemudian Johann dan Ottow dari Jerman bawa masuk Injil Kristen ke Tanah Papua di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 pukul 08.00 pagi. Dari Mansinam Injil dikabarkan ke seluruh pelosok Tanah Nueva Guinea hingga hari ini.

Kini usia Injil yang dibawa masuk oleh dua Zendeling asal Jerman, Johann dan Ottow telah berusia 171 tahun, sejak 5 Februari 1855 sampai 5 Februari 2026.  Mansinam, sebuah pulau kecil di depan kota Manokwari menjadi pusat perayaan orang Kristen di Tanah Nueva Guinea.

Setiap 5 Februari seluruh aktifitas di Tanah Nueva Guinea dihentikan secara resmi oleh pemerintah dan gereja, kemudian semua datang mengucap syukur dan memuliakan kebesaran nama Tuhan dan mendoakan keselamatan arwah Johann dan Ottow agar peroleh hidup damai di Sorga.

Pintu masuk Pulau Mansinam. Foto: kapabar.com

Sementara rencana Misi Katolik datang ke Tanah Misi berdasarkan Dekrit Ex debbito Pastoralis, yang dikeluarkan Paus Gregorius XVI di Vatikan dengan membentuk dua vikariat baru, yaitu Vikariat Mikronesia dan Vikariat Melanesia pada 19 Juli 1844 baru terwujud setelah 46 tahun kemudian.

Rencana Misi Katolik masuk di Tanah Misi terwujud dengan datangnya Pastor Carolus van der Heyden SJ yang menjadi imam pertama dari Serikat Jesuit ditugaskan secara khusus membuka Pos Misi Katolik di Maluku. Ternyata dari Maluku Pastor Carolus Heyden terdampar sampai di Kampung Itatuni/Vanderpaha, Werabuan Fakfak, pada 30 Desember 1890. Kapal yang ditumpanginya terbakar di pinggir pantai, membuat rencana Heyden untuk melanjutkan perjalanan ke Maluku terhambat.

Selama di Kampung Itatuni, Heyden sempat membangun kontak dengan penduduk lokal dan membaptis 15 orang di Siboru menjadi Katolik pada 31 Desember 1890. Tapi pada 21 Januari 1891, Heyden tinggalkan wilayah Fakfak dan menuju Kepulauan Kei menggunakan Kapal Gubernemen De Arend. Tiba di Kei pada 19 Februari 1891 dan meneruskan tugas-tugas perutusannya di Maluku.

Setelah Heyden pergi, tidak ada lagi misionaris Katolik yang masuk di wilayah Werabun. Akhirnya, penduduk lokal yang sebelumnya telah dibaptis oleh Heyden memeluk Katolik pindah ke Protestan.

Selama Pastor Heyden di Fakfak, dia membuat banyak laporan survei masuk ke meja para imam di Batavia tentang keadaan di Nueva Guinea. Dalam laporan survei itu, dia  menuntut agar Batavia harus kirim seorang misionaris yang lebih berani dan energik untuk ditugaskan di Tanah Misi.

Maka empat tahun kemudian, Pastor Cornelis Le Cocq D’Armandville SJ mendapat tugas secara khusus untuk membuka Pos Misi Katolik di Tanah Nueva Guinea. Sebelumnya Imam yang dijuluki ‘si jago Tuhan’ ini bekerja di Jawa, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Tapi, ditunjuk atasannya untuk merintis karya di Tanah Misi.

Setelah mendapat tugas baru, maka Le Cocq menuju Pulau Seram, Ambon pada 9 November 1891. Lalu tahun 1892, dia diutus meninjau Kampung Bomfia di Timur Pulau Seram. Pastor Cornelis mendarat di Waru dan menuju Bonfia. Tapi tak lama, Pastor Le Cocq meninggalkan Bonfia karena mendapat penolakan dari masyarakat sekitar untuk menjadi penganut Kristen. Pada 1893 Pastor Cornelis memasuki Kisse Wooi dan Kepulauan Watubela.

Akhirnya, pada 22 Mei 1894, Pastor Cornelis Le Cocq D’Armandville SJ asal Belanda tiba di Kampung Sekru, Fakfak. Dia menjadi misionaris Katolik kedua yang diutus datang ke di Nueva Guinea setelah Pastor Carolus van der Heyden SJ pulang ke Maluku.

Di Sekru, Pastor Le Cocq membangun kontak dengan penduduk lokal yang beragama Islam, beberapa diantaranya, Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Dalam 10 hari kemudian dia membaptis 73 orang di Kali Hibruh dan Kampung Torea menjadi Katolik.

Setahun kemudian, Le Cocq buka Pos Misi Katolik pertama di Pulau Bonyom, Kampung Brongkendik, Hambiriangkendik, Fakfak. Pada awal 1894, Cornelis Le Cocq d’Armandville juga berkunjung ke Pulau Geser, dan berhasil mengumpulkan banyak informasi tentang Nueva Guinea melalui penduduk setempat dan orang Nueva Guinea yang pergi berdagang ke sana.

Tokoh Perintis Karya Misi Katolik di Tanah Papua, Pastor Cornelis Le Cocq D’Armandville SJ di Sekru, 22 Mei 1894. Foto: alamy.com

Setelah informasi tentang Nueva Guinea cukup, Monsinyur Claessens langsung memberikan tugas secara khusus kepada Pastor Cornelis Le Cocq D’Armandville SJ untuk membuka Pos Misi Katolik di Tanah Nueva Guinea. Pastor yang dikenal dengan julukan “si Jago Tuhan” ini menerima tugas perutusan itu dengan rasa gembira.

Pada 22 Mei 1894, Cornelis Le Cocq memasuki Kampung Sekru, Fakfak. Penduduk Sekru yang muslim menerima Le Cocq antara lain Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Selama 10 hari lebih, dia menghabiskan waktu bersama penduduk lokal. Bahkan tidur bangun dan makan minum dengan penduduk Muslim dan yang belum beragama di Kampung Sekru dan Torea.

Keberanian untuk merendahkan diri dalam kebudayaan penduduk lokal menarik simpati orang. Peristiwa ini dianggap penting karena membangun kontak langsung dengan penduduk lokal yang beragama Muslim.

Karena itu, Pastor Cornelis Le Cocq mendapat dukung penuh dari penduduk lokal untuk menyebarkan Misi Katolik. Bahkan melakukan kunjungan ke kampung–kampung sekitar, berlayar ke tepian pantai dan pulau dalam melakukan peninjauan awal. Di sini penduduk lokal menyambutnya dengan lapang dada. Keterbukaan hati pastor membuat penduduk lokal pun secara terbuka mendukung karya misi Katolik.

Pada 23 Mei 1894 Pastor Le Cocq membaptis 8 anak di Kali Hibruh, Sekru. Keesok harinya, dia membaptis 65 orang di Kampung Torea—kini menjadi lokasi berdirinya Gereja Katolik Santo Petrus Torea. Sakramen pembaptisan awal ini menjadi peristiwa penting, karena menandai kehadiran Misi Katolik di Tanah Papua.

Selama di Sekru, Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ mengunjungi hampir semua wilayah pesisir yang ada di dalam wilayah Fakfak. Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah Pulau “War Hiryamggah.” War Hiryamggah dalam bahasa setempat, artinya “batu pecah.”

Belakangan disebut Bone/Bonyom. Dalam bahasa Latin, Bone/Bonyom artinya baik, indah, dan damai. Pastor melihat Pulau Bonyom itu sangat strategis. Karena selain indah, juga tak berpenghuni, sehingga lebih mudah untuk membuka Pos Misi Katolik di Bonyom. Setelah memastikan lokasi ini, pada awal 1895, Pastor Le kembali ke Tual.

Di Tual Le Cocq bertemu dengan komfraternya, yaitu Pastor Carolus van der Heyden SJ. Dia menceritakan pengalaman hidupnya selama di Pulau Bonyom. Sekaligus meminta dukungan Heyden, karena dia hendak membuka pos misi pertama di Pulau Bonyom. Pada kesempatan yang sama Le Cocq minta kesediaan Bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot SJ untuk bersama mendirikan pos misi di Bonyom.

Pastor Le Cocq juga mencari seorang guru yang untuk mengajar anak–anak di sekolah Katolik. Usahanya tak sia–sia. Dia bertemu dengan guru katekis Protestan, Christianus Palletimu.

Setelah memastikan seluruh kebutuhan telah siap, seperti bahan bangunan dan peralatan, maka Le Cocq meminta Bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot untuk merakit seluruh bahan bangunan dan peralatan bangunan dan diangkut  dari Tual menuju Bonyom.

Kamunitas Kolose Le Cocq D’Armandville Jesuit Indonesia. Foto: Jesuits.id

Pastor Le Cocq mulai membuka Pos Misi Katolik di Pulau Bonyom sejak 2 Mei 1895. Pembukaan pos ditandai dengan pendirian gereja, pastoran, sekolah dan sumur darurat. Sebanyak 10 anak direkrut menjadi siswa pertama masuk sekolah di Bonyom. Beberapa hari kemudian, Le membaptis 86 orang di Bonyom menjadi Katolik.

Setelah menyelesaikan tugas mendirikan pos misi pertama di Bonyom, Pastor Le Cocq merencanakan perjalanan baru ke arah Selatan. Kali ini hendak membuka Pos Misi Katolik kedua di wilayah Mimika. Dia berangkat bersama Kaptain Kapal, Pieter Salomon dari Pulau Bonyum pada 5 Maret 1895, dan tiba di Mimika pertengahan Mei 1896. Sempat membangun kontak dengan penduduk lokal.

Namun, pada 27 Mei 1896 Pastor Cornelis Le Cocq D’Armandville SJ dinyatakan meninggal di antara Kampung Kipia dan Mapar, Mimika.

Le Cocq telah meletakkan dasar ajaran Katolik di Tanah Papua dengan harga yang sangat mahal, yaitu nyawanya sendiri. Nyawanya menjadi jaminan untuk mengembangkan Misi Katolik di Tanah Papua.

Berdasarkan kedatangan pertama, maka Pastor Carolus van der Heyden SJ yang menjadi imam Katolik pertama yang masuk ke Tanah Papua di Werabuan Fakfak, pada 30 Desember 1890. Empat tahun kemudian baru menyusul Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ masuk di Sekru, pada 22 Mei 1894. Pastor Cornelis Le Cocq meneruskan karya misi yang ditinggalkan Pastor Carolus van der Heyden SJ.

Maka mestinya tanggal 30 Desember 1890 yang menjadi hari perayaan Misi Katolik masuk di Tanah Papua, bukan 22 Mei 1984. Tapi kenapa 22 Mei yang menjadi pilihan Umat Katolik di Tanah Papua untuk merayakannya? Tempat perayaannyapun bukan Bonyom, tapi Sekru. Tapi Bonyom yang dipilih sebagai pusat pekabaran Misi Katolik di tanah Papua.

Terlepas dari kesimpang–siuran tokoh, waktu, dan tempat, Pulau Bonyom telah ditetapkan menjadi pusat dimulainya pekabaran Injil oleh Misionaris Katolik ke seluruh pelosok Tanah Papua. Kini usinya telah 132 tahun, sejak 22 Mei 1894 sampai 22 Mei 2026.  Perayaannya akan menyatukan umat Katolik dari lima keuskupan di Papua untuk merayakan bersama di Bonyom, pada 22 Mei 2026.

Paskalis Keagop/dari berbagai sumber