PERANG DI MASA PUASA

Pada bulan Februari sampai Maret 2026 ini, Umat Islam dan Kristen di dunia sedang menjalankan masa puasa. Dan akan diakhiri dengan umat Islam merayakan Idul Fitri 1447 hijriah dan umat Kristen merayakan Paskah hingga puncaknya perayaan Tuhan Yesus bangkit dari alam maut. Tapi di masa puasa ini juga, terjadi perang Amerika dan Israel melawan Iran.

Masjid dan Gereja. Tempat umat Islam dan Kristen berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan. Foto: gambar masjid/blogspot.com & gambar gereja/kripbrispdr.org

suaraperempuanpapua.com – PERANG adalah membunuh! Membunuh manusia, hewan, tumbuhan serta merusak apapun hanya menimbulkan penderitaan bagi manusia dan hewan karena kehilangan tempat tinggal, kehilangan makanan dan minuman serta menimbulkan kesengsaraan hidup yang lama.

Masa puasa yang dijalankan oleh umat Islam dan Kristen meminta manusia untuk merenungkan dan mengoreksi diri atas berbagai kelakuan hidup di waktu lalu dan berjanji mengubah kelakuan di akhir puasa.

Puasa itu melarang setiap orang untuk berbuat jahat dalam bentuk apapun dan harus berbuat baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Puasa adalah refleksi dan bertobat dan berjanji kepada diri sendiri, Tuhan dan sesama untuk tidak berbuat dosa lagi. Puasa adalah penyucian diri dan menjadi manusia baru.

Manusia adalah satu–satunya makhluk hidup yang paling sempurna diciptakan oleh Allah sama dengan diri Allah sendiri. Karena itu, antara manusia harus saling mengasihi. Jangan membunuh sesama manusia untuk alasan apapun!

Manusia juga diberi kuasa penuh atas kehidupan di dunia ini: menjaga, memelihara dan melestarikan kelangsungan hidup hewan dan tumbuh–tumbuhan agar tidak rusak dan punah.

Walaupun ayam, bebek, angsa, ikan, babi, anjing, kelinci, kambing, sapi, kerbau, dan lainnya akan dibunuh secara massal untuk manusia makan pada puncak perayaan setelah berpuasa. Tapi mereka itu, jangan dibabat habis sampai rata dengan tanah. Karena hari besok juga harus makan dan harus dijaga kelestarian kelangsungan hidupnya.

Dalam keadaan itu, pada masa puasa di tahun 2026 ini, Amerika, Israel dan Iran buka puasa dengan perang untuk tujuan masing–masing. Perang di masa puasa adalah melanggar hakekat puasa.

Israel dan AS juga mengebom SD khusus perempuan di Minab, sebuah kota di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan, dalam serangan Sabtu 28 Februari 2026). Foto: suara.com/Irna/Al Jazeera.

Warga ketiga negara itu, terutama warga Iran dihadapkan pada pilihan: apakah batalkan puasa dan menunggu kematian? atau tetap jalankan puasa di bawah desingan peluru dan di atas reruntuhan, tapi nanti makan apa? dan dimana? Karena rumah sudah jadi puing!

Para pemimpin negara Amerika, Israel dan Iran yang berperang di masa puasa ini sangat tahu isi kitab suci masing–masing agama. Berperang di masa puasa adalah melanggar ajaran agama yang tertulis dalam kitab suci agama Islam dan Kristen. Tapi mereka tak peduli dengan apapun yang mereka yakini. Soal dosa dan nanti mati masuk surga atau masuk neraka? itu urusan nanti. Itu sesuatu yang tidak jelas. Dunia itu butuh sesuatu yang nyata, bukan yang abstrak.

Karena itu, perang dengan membunuh dan merusak untuk menguasai wilayah lain, merebut uranium, merebut minyak bumi, merebut gas, merebut emas, dan lainnya adalah lebih nyata untuk kesejahteraan hidup manusia dan berlangsungan hidup negara ketimbang berpikir dosa untuk masuk surga atau neraka yang abstrak.

Sebelum perang, ada negosiasi untuk mencegah jatuhnya korban. Tapi negara yang merasa diri kaya, pintar dan kuat lebih memilih jalan pintas: perang! lebih baik daripada negosiasi yang hanya bikin otak mati. Itulah yang terjadi dalam perang di masa puasa 2026 ini.

Korban perang di masa puasa oleh Amerika dan Israel terhadap Iran menimbulkan korban manusia meninggal terus bertambah sejak perang dimulai pada 28 Februari hingga Selasa 17 Maret 2026.

Jumlah korban meninggal yang dilaporkan pun beragam versi. Media massa melaporkan hingga Selasa 17 Maret sebanyak 1.270 orang meninggal. Sementara Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa–Bangsa mengatakan pada 6 Maret bahwa setidaknya ada 1.332 orang meninggal sejak perang dimulai hari pertama 28 Februari lalu.

Mereka yang menjadi korban perang tidak hanya pasukan militer dari Amerika, Israel dan Iran, tapi juga besar warga sipil, terutama perempuan dan anak–anak.

Foto satelit kediaman Pemimpin Besar Iran Ayatolla Ali Khamenei di Teheran yang hancur dirudal Israel dan Amerika, pada Sabtu 28 Februari 2026. Foto: suara.com/Airbus/Soar Atlas.

Lokasi jumlah korban meninggal akibat perang pun meluas ke 12 negara, yaitu Iran, Amerika, Israel, Lebanon, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Suriah, Oman, Arab Saudi, Bahrain, dan Prancis. Selain korban meninggal, dilaporkan juga lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon. Ini adalah sekira 20 persen dari penduduk Lebanon yang mengungsi.

Amerika, Israel dan Iran adalah negara yang beragama. Warga tiga negara itu ada yang beragama Islam, dan beragama Kristen. Para pemimpin yang berperang itu pasti tahu apa itu puasa dalam agamanya masing–masing. Tapi mereka tak peduli dan berperang saling membunuh dan merusak selama masa puasa.

Apakah mereka berpuasa sembari berperang saling membunuh? ataukah mereka batalkan puasa dan berperang membunuh saja? Hidup manusia tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Bagaimana hidup di akhirat nanti? Puasa adalah jalan menuju surga atau neraka.

Siapakah pihak di dunia ini yang akan menilai tentara yang membunuh pada masa puasa dan orang yang terbunuh dalam masa puasa? Apakah tindakkan pelaku membunuh akan dibenarkan dan korban meninggal akan dinyatakan mati suci? sehingga keduanya berhak masuk surga?

Adakah manusia di dunia ini yang tahu tentang pengaturan manusia siapa yang berhak masuk surga dan manusia siapa yang berhak masuk neraka?

Adakah manusia di dunia sebelah yang bertugas menulis surat abolisi untuk diserahkan kepada Allah memberi pengampunan kepada tentara Amerika, tentara Israel dan tentara Iran untuk mereka boleh bebas masuk surga karena mereka telah berjasa melaksanakan perintah Tuhan?

Paskalis Keagop/dari berbagai sumber