Tuduhan korupsi berlatar kesukuan muncul di akhir masa jabatan Pendeta Alberth Yoku sebagai Ketua Sinode GKI. Sebagai upaya mengganjal pencalonannya di Waisai?

suaraperempuanpapua.com – SIDANG Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua ke-17 baru akan digelar pada 11 Maret mendatang di Klasis Raja Ampat. Tapi riak-riak untuk menuju ke sana sudah dimulai Agustus 2016 lalu.
Seluruh warga GKI di Tanah Papua pun tahu bahwa puncak sidang di Klasis Raja Ampat pada 2017 itu adalah pemilihan pimpinan Sinode GKI periode 2017 – 2022. Ini adalah jabatan yang paling terhormat, yang akan memimpin 45 klasis di Tanah Papua, sehingga tak heran jika semua orang mengincarnya dengan berbagai skenario untuk menuju puncak tertinggi gereja itu. Warga GKI pun dibuat bingung dan mendua hati dengan skenario itu, yaitu ada yang percaya dan ada yang memilih tidak berpendapat.
Skenario untuk menggembosi Sinode GKI dari dalam itu dimulai saat Rapat Kerja Sinode GKI di Merauke pada 24 – 26 Agustus 2016 lalu. Memasuki hari kedua Raker, pada Kamis 25 Agustus, itu peserta membahas tentang permasalahan yang terjadi di Sinode GKI di Tanah Papua.
Dalam rapat itu membahas tentang kelompok-kelompok yang telah membawa perpecahan dalam berpikir dan bertindak di tengah pekerjaan BP Am Sinode GKI. Kelompok-kelompok tersebut antara lain: internal BP Am Sinode GKI, Kelompok Penyelamat GKI dan Forum Mantan Pimpinan Sinode GKI 1962 – 2011.
Kelompok ini telah membentuk delapan tim di Gereja Pengharapan Jayapura untuk menggugat Ketua Sinode GKI periode 2011 – 2016, Pendeta Alberth Yoku. Dan merekapun melaporkannya ke Kepolisian Daerah Papua untuk diusut.
Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pendeta Alberth Yoku, yang dituduh menyimpangkan dana GKI itu mengatakan kalau memang mereka warga GKI yang merasa prihatin dan ingin memperbaiki sistem keungan di GKI caranya bukan begitu. Ada mekanismenya, yaitu melalui sidang jemaat atau rapat kerja. Sebelum Sidang Sinode 2017 ini, ada dua kali rapat kerja, yang bisa dibahas di situ.
“Jadi kalau yang terakhir ini muncul, saya pikir ini hanya sebuah upaya pencitraan terhadap Sinode dan pencitraan ini tidak sesuai dengan Alkitab dan tata kerja Sinode GKI”.
Alberth yakin, tuduhan penyimpangan dana terhadap dirinya itu tidak akan mempengaruhi Sidang Sinode di Waisai. “Saya punya prinsip itu Tuhan yang menentukan pemimpin pada saat Sidang Sinode. Entah kau orang bodohkah atau orang apakah, tetapi kalau pada saat itu Tuhan menentukan kau jadi pemimpin, kau tetap jadi. Biar rekayasa manusia model apapun, tidak akan pernah jadi”.
Tantangan yang akan dihadapi gereja masa sekarang dan masa mendatang menurut Alberth Yoku ada dua, yaitu tantangan internal dan eksternal.
Tantangan eksternal adalah gereja yang ada di Indonesia ini berhadapan dengan mayoritas muslim, itu berarti GKI harus mampu menjalin persahabatan dan menjalin kerjasama dengan baik supaya tidak muncul sebagai orang yang intoleran.
“Kita toleran, plural tapi dalam batas-batas yang saling menguntungkan. Kalau dia menuju ke merugikan, kita juga punya sikap untuk soal macam itu”, ujar Yoku.
Begitu juga dengan denominasi gereja yang ada di Tanah Papua, gereja-gereja boleh datang banyak ke Papua tapi untuk menginjili orang yang belum diinjili. Bukan mengambil orang dari jemaat satu kemudian mereka katakan masih kafir jadi mau diselamatkan, padahal justru itu anda menimbulkan perpecahan.
Maka denominasi gereja harus bekerja betul, bukan memecahbelah orang Kristen. Apalagi kalau itu hanya untuk mencari popularitas dan mengkomersialisasikan Injil untuk kepentingan sendiri, bukan untuk kepentingan Tuhan dan kepentingan Injil.
Pesan ini yang disampaikan Ketua Sinode GKI, Pendeta Alberth Yoku menjelang perayaan 162 tahun masuknya Injil di Tanah Papua, 5 Februari lalu.
“Kita mulai memberi kritik terhadap hal-hal semacam itu. Apalagi di situ muncul paham, tafsiran, dogma dipertentangkan dan orang ini dia tidak sekolah baik-baik tapi dia bicara berapi-api saja. Nah, itu bahaya besar. Alkitab dan nilai alkitab itu direndahkan oleh seorang pribadi yang mau ego, dan apalagi mencampuradukan Injil dan komersialisasi, itu sudah sangat sekular”, tegas Yoku.

Dan di situlah tantangan GKI mau bertahan pada Injil dan bekerja dengan kekuatan Injil atau GKI juga mau tiru-tiru seperti itu. GKI dan Katolik itu, Gereja yang tunduk pada Alkitab. “Kita juga mengajarkan diakonia gereja, sosial juga kita kerja, pengembangan ekonomi kita kerja, tapi tidak seperti ini, memecahbelah gereja”.
Pendeta Alberth Yoku yakin kelompok yang mengembangkan isu korupsi di Sinode itu tidak akan menjadi ancaman pada Sidang Sinode di Waisai, Klasis Kepulauan Raja Ampat. Karena dari sisi pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan yang dilakukan Sinode itu, akan dinilai oleh pemberi uang, apakah uang yang diberikan itu digunakan dengan baik atau tidak. Uang itu dikasih oleh Pemerintah Provinsi Papua, kalau penggunaannya tidak beres, pasti pemerintah daerah akan tanya.
Tahun 2012 pemerintah daerah Provinsi Papua kasih GKI uang, kalau tidak mempertanggungkan uang itu kepada pihak pemerintah daerah, pasti GKI tidak terima uang pada tahun 2013.
“Dari sisi itu, saya anggap apa yang mereka sampaikan itu sangat tidak benar. Kecuali gubernur Papua yang bilang, Sinode GKI di dalam pertanggungjawabannya tidak benar dan mereka korupsi. Itu boleh. Tapi kalau pemerintah Provinsi Papua pemberi dana itu menerima laporan pertanggungjawaban keuangan Sinode GKI?
Kita kan selalu, begitu kasih masuk laporan, mereka lihat, ah ini tidak benar, lalu mereka melakukan bimbingan teknis dengan melibatkan inspektorat dan BPK kepada Sinode GKI. Jadi saya anggap tuduhan ini perbuatan yang hanya karena suka dan tidak suka saja.
Dan itu perbuatan yang tidak punya pengaruh dalam sidang Sinode nanti. Kepemimpinan gereja yang saya lakukan ini sesuai dengan iman saya. Kalau anda punya iman seperti itu untuk merusak gereja dan memalukan Tuhan, silakan anda buat saja”.
Sebanyak 90 persen sampai 100 persen dari seluruh pimpinan Klasis GKI se-Tanah Papua yang hadir dalam pertemuan yang dilaksanakan pada 8 – 10 Februari 2017 di Hotel Grand Alison Sentani, “kami sudah menjelaskan hal ini kepada mereka dan mereka bilang, ya kami juga dapat uang. Ada jemaat yang bangun gereja, pemerintah kasih uang, ada panitia pembangunan gereja yang dapat uang juga di klasis, tapi kami pertanggungjawabkan sesuai dengan mekanisme. Karena itu mereka juga menyatakan bahwa ini perbuatan yang salah”, ujar Pendeta Alberth Yoku, saat ditemui di pinggiran Danau Sentani, pada Rabu 15 Februari lalu.
Paskalis Keagop & Gabriel Maniagasi
