Pemerintah boleh dua provinsi, tetapi Sinode Gereja Kristen Injili tetap satu di Tanah Papua. Gereja tidak sama dengan pemerintah.
suaraperempuanpapua.com – GEREJA Kristen Injili di Tanah Papua akan menyelenggarakan Sidang Sinode ke-17 di Waisai, Klasis Raja Ampat. Agenda yang akan dibahas dalam sidang itu sudah dibahas dalam sidang-sidang secara berjenjang dari jemaat, klasis dan sinode. Sehingga, semua warga jemaat sudah tahu apa yang akan dibahas dalam Sidang Sinode 2017 nanti.
Pada puncak sidang itu akan dilakukan pemilihan ketua Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua periode 2017 – 2022 mendatang. Warga jemaat GKI khususnya, berharap pemimpin baru yang akan terpilih itu harus mengerti berbagai aturan yang ada dalam GKI dan dia harus mengerti apa itu GKI?
Selain memberi harapan pada kepemimpinan sinode yang baru nanti, muncul pula kekhawatiran akan adanya desakan pemekaran Sinode GKI menjadi dua dari peserta sidang sinode yang akan hadir di Waisai nanti.
Berikut ini tiga pendeta perempuan Papua di GKI bicara kepemimpinan Sinode mendatang dan sikap mereka tentang kemungkinan adanya desakan pemekaran Sinode GKI oleh peserta sidang nanti.

SAYA berharap sidang sinode berjalan dengan baik dalam pimpinan Tuhan. Badan Pekerja Am Sinode, adalah orang-orang yang sudah Tuhan tentukan untuk ada di dalam struktur GKI. Sehingga proses sidang yang akan berlangsung itu, kita percaya hikmat Tuhan akan menolong mereka dalam proses persidangan.
Karena itu, saya sebagai pendeta kecil di jemaat kecil berharap arah kebijakan yang akan diputuskan dalam sidang itu tetap membawa GKI menjadi gereja yang ada dalam satu kesatuan yang bisa menyatukan semua orang Papua, yang ada di wilyah Barat maupun di Timur.
Pemimpin Sinode, pasti Tuhan akan menunjuk siapa yang akan memimpin GKI ke depan. Seperti waktu Tuhan memilih Daud. Jangan lihat dari parasnya atau dari penilaian-penilaian manusia, tapi biarkan Roh Tuhan menuntun untuk melihat dari dalam hati, siapa yang Tuhan tunjuk untuk menjadi pemimpin kedepan.
Menurut saya secara pribadi tidak sebagai pendeta bahwa, gereja kita ada di dunia, sehingga pekerjaan pelayanan pekabaran Injil ini harus berkembang. Kalau gereja semakin berkembang, maka pelayanan penginjilan bisa menjangkau ke wilayah yang lebih luas.
Tapi jangan kita sekedar penginjilan dengan membagi Sinode menjadi dua. Itu jangan! Karena kalau itu yang terjadi, maka itu bukan untuk alasan penginjilan, tapi itu berdasarkan keinginan politik. Karena itu, kita berdoa supaya Sinode GKI tidak terpecah menjadi dua. Saya tidak setuju!

YESUS Kristus sebagai Gembala Agung, Dia memberikan teladan. Karena itu, kita sebagai hamba-hamba Tuhan juga harus meneladani Tuhan Yesus Kristus untuk pekerjaan pelayanan yang besar ini. Sehingga kami berharap dalam persidangan nanti berlangsung di bawah tuntunan, pimpinan dan bimbingan kuasa Roh Kudus Tuhan sendiri.
GKI di Tanah Papua juga sudah berada dalam usia yang cukup matang. Karena itu, segala kebijakan, dan pemikiran-pemikiran itu semua untuk pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Tuhan itu dimuliakan dan diagungkan.
Harapan kami, siapapun dia yang akan terpilih menjadi pemimpin Sinode GKI besok, dia menjadi teladan Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin, umatnya begitu banyak. Dia sebagai bapa dan sebagai pimpinan, menjadi teladan bagi umat yang banyak. yang akan dia pimpin.
Kalau kita tidak bekerja dengan kerendahan hati, sebagaimana Gembala Agung Yesus Kristus yang menggembalakan umat-Nya, maka pekerjaan-pekerjaan pelayanan firman Tuhan oleh GKI tidak akan berjalan dan tidak berhasil dengan baik.
Pemimpin sinode baru yang akan datang, dalam karyanya juga harus berjalan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Tuhan akan mempercayakan seseorang untuk memimpin GKI di Tanah Papua.
Gereja tidak sama dengan pemerintah. Pemerintah boleh punya dua provinsi di Papua. Tapi Sinode GKI di Tanah Papua itu hanya satu, dalam keutuhan Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. GKI tidak terpecah-pecah. Sinode GKI hanya satu!

KAMI berprinsip bahwa Sidang Sinode GKI yang dilaksanakan di bulan Maret tahun ini harus berjalan sesuai aturan-aturan dan keputusan-keputusan GKI. Tidak keluar dari itu. Kami percaya bahwa proses sidang akan berlangsung sesuai dengan arah dan tujuan GKI.
Harapan kami kepada pemimpin yang akan terpilih dalam Sidang untuk menjadi ketua Sinode adalah pemimpin yang benar-benar sudah tahu tentang apa itu GKI.
Kami yang bertugas di lembaga perempuan P3W GKI ini, berharap bahwa sebagai pemimpin di gereja nanti, dia juga akan melihat pekerjaan-pekerjaan lembaga Tuhan, yang punya kapasitas, kontribusi yang ada di dalam GKI.
P3W GKI sudah berdiri sejak April 1962 dan April 2017 nanti akan berusia 55 tahun. P3W sudah menjadi landasan utama yang melibatkan perempuan dalam seluruh pola pelayanan Kristen di Tanah Papua.
Sehingga kami berharap pemimpin yang akan memimpin Sinode besok dia akan melihat lembaga-lembaga gereja yang ada di GKI. Dia melihat pola-pola pelayanan yang melibatkan kaum perempuan dan laki-laki itu berjalan bersama dalam gereja besar GKI di atas Tanah Papua.
Dia tidak boleh menutup mata untuk melihat lembaga-lembaga gereja yang ada di sekitarnya yang selama ini telah ikut terlibat dalam pelayanan besar GKI.
Tanggal 11 – 17 Maret besok akan menjadi momen penting dalam GKI untuk memilih BP Am Sinode yang akan memimpin GKI ke depan di Tanah Papua. Dan kami punya prinsip bahwa Sinode GKI tidak akan dipisahkan dari Irianjaya Barat dan Papua. Sinode GKI tetap satu di dua provinsi. Pemerintah boleh beda, tapi kami gereja tetap satu.
Di dalam GKI tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sama-sama punya hak untuk memimpin Sinode. Laki-laki GKI menghargai kemitraan laki-laki dan perempuan. Itu yang membedakan GKI dengan gereja lain. Perempuan dan laki-laki dilibatkan dalam pekerjaan pelayanan.
Itu terlihat pada periode sekarang, Ibu Pendeta Yemima Mirino Krey berada dalam posisi BP Am Sinode bersama Pa Pendeta Alberth Yoku. Ada pemimpin perempuan di situ.
Jadi pada dasarnya kami senang kalau pada akhirnya perempuan yang terpilih pimpin Sinode GKI. Tapi tidak asal pilih. Pemilihan itu harus sesuai dengan aturan, masa kerja dan jenjang pekerjaan yang bersangkutan.
Kalau kita lihat dari data di Sinode GKI, pendeta perempuan lebih banyak dari pendeta laki-laki. Jumlah mahasiswa di Kampus STT GKI Isak Samuel Kijne Abepura juga lebih banyak perempuan, dibanding laki-laki. Sehingga pendeta perempuan yang banyak. Itu menandakan GKI tetap menghargai perempuan dan laki-laki dalam pekerjaan pelayanan bagi Tuhan.
Paskalis Keagop
