UBAH POLA PIKIR MEMBANGUN GKI

Dalam membangun dan menata rumah besar GKI di Tanah  Papua membutuhkan cara pandang dan cara bertindak yang benar dan sama.

Ketua Sinode GKI di Tanah Papua. Pendeta Albertoh Yoku. Foto: Dokumentasi Sinode GKI

suaraperempuanpapua.com – DALAM lingkup Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, nampak ada kemacetan pelayanan di tingkat sinode, klasis dan jemaat. Nilai-nilai kesucian, kebaikan dan penghormatan terhadap hakikat firman Allah dalam gereja ini mengalami abrasi, karena perbuatan manusia pekerja gereja. Allah dan firman-Nya tetap pada posisinya (kudus), tapi manusialah yang menjadi perusak, penghambat dan pengacau pekerjaan suci itu.

“Akhirnya, lunturlah eksistensi gereja. Gereja yang bukan berasal dari dunia itu, diduniawikan tanpa mempertahankan nilai-nilai kekudusan dan keilahian-Nya”, ujar Ketua Sinode GKI Pendeta Alberth Yoku di Jayapura.

Pada Bab 2 Pasal 6 Tata GKI disebutkan tentang Amanat dan pada Peraturan Pokok tentang Jabatan, cukup jelas menyebutkan tugas kerja pejabat fungsi gereja, penatua, syamas, guru jemaat, penginjil, pengajar dan pendeta, yang memiliki tugas utama. Yaitu memberitakan firman Allah.

Alasan para pendiri GKI di waktu lalu, memformulasikan tugas dari seluruh jabatan fungsi itu ialah memberitakan firman Allah, dan tidak meletakkan hal organisasi, uang atau peralatan organisasi pada posisi utama? Karena tugas utama Marturia (kesaksian) merupakan tugas azasi gereja yang dikerjakan oleh semua pejabat fungsi (Mat. 28:19-20).

Para pendiri GKI telah merumuskan tentang tugas-tugas marturia ini. Apabila kita memberitakan Injil, maka itu adalah tugas kesaksian pewartaan Injil kepada mereka yang kafir, belum mengenal Yesus Kristus.

Foto: Dokumentasi Sinode GKI

Dan apabila Injil disampaikan kepada orang yang sudah Kristen tetapi imannya belum baik, maka ini orientasinya ke dalam, ke lingkungan orang-orang Kristen yang sudah dibaptis, sidi dan dinikahkuduskan, tetapi masih goyah imannya.

“Jadi, tugas marturia di dalam gereja ini, sudah konkrit diterjemahkan oleh pendiri, dan peletak dasar GKI sejak 1984. Bahwa GKI di Tanah Papua, dalam melaksanakan amanat pemberitaan Injil, berorientasi pada dua aras, yang masih dipertahankan sampai saat ini, yaitu memberitakan Injil ke luar, kepada orang yang bukan Kristen dan memberitakan Injil ke dalam, kepada orang yang sudah Kristen”, ujar Yoku.

Menurut Pendeta Alberth Yoku ada tiga tugas panggilan gereja: marturia, koinonia dan diakonia – yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Ketika Injil diberitakan ke luar, maka akan terbentuklah koinonia oleh kuasa Injil, dan ketika koinonia itu dibentuk oleh kuasa Injil, maka terbentuklah diakonia.

Karena itu, Yoku berharap para pemimpin GKI harus kembali memposisikan keberadaan GKI pada tugas pemberitaan Injil, agar amanat Yesus Kristus itu harus dijalankan. “Ini perlu diperhatikan secara serius, karena kenyataan yang kita hadapi sekarang ini terlihat gereja-gereja, termasuk GKI Di Tanah Papua, tidak lagi menobatkan orang baru menjadi Kristen, tetapi yang ada saling memperebutkan orang yang sudah menjadi Kristen dan memecahbelahkan persekutuan gereja”, tegasnya.

Peran dan fungsi para pejabat fungsi gereja pun tidak terlihat secara maksimal, perihal menobatkan orang baru menjadi Kristen. Dalam mengelola pekerjaan koinonia, marturia dan diakonia, lebih terfokus pada internal gereja. Sedangkan dunia yang bukan Kristen diabaikan.

Misalnya, terjadi kebakaran, sikap kita hanya sebatas mengamati rumah siapa yang terbakar, rumah kelompok agama mana yang mengalami bencana itu. Bila rumah seorang yang berlainan kepercayaan dengan kita, maka kita mulai membatasi peranan misi.

“Misi pekabaran Injil yang dibawa dan diajarakan  Yesus kepada kita tidak seperti itu. Kita perlu mengevaluasi misi kita yang bertolak belakang dengan misi Kristus. Misi Kristen adalah misi yang pakai mata, yaitu misi yang peduli.

“Untuk misi pekabaran Injil ke dalam, saya tidak begitu banyak memberi perhatian pada kesempatan ini. Yang menjadi penekanan saat ini, di tengah arus perkembangan zaman dengan berbagai kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat, misi pekabaran Injil GKI secara an sich perlu ditingkatkan secara merata pada aras gereja ini”, saran Yoku.

Mengamati peran gereja dalam menobatkan orang baru menjadi Kristen, prosentasenya hampir di bawah satu persen. Tugas membentangkan jaring dan menangkap ikan-ikan di lautan lepas, kita tidak sanggup melakukannya secara baik, karena kita kerepotan dengan masalah internal rumah kita. Kita sibuk mengurusi tabiat para pejabat fungsi gereja yang tidak lagi sesuai dengan firman Tuhan, mengurusi segala persoalan administrasi-organisasi, dan sebagainya. Karena fenomena yang demikian itu, maka kita harus kembali menata Rumah Kita GKI.

“Mengapa tidak mampu menjaring di lautan lepas? karena penuh masalah  di dalam ruang lingkup internal GKI. Pendeta tidak jelas kependetaannnya, penatua tidak jelas kepenatuaannya, syamas tidak jelas kesyamasesannya, penginjil tidak jelas kepenginjilannya, guru jemaat tidak jelas kegurujemaatannya, maka tugas penginjilan menjadi terhambat oleh keadaan kita sendiri”, jelas Alberth Yoku.

Apalagi, ketika pendeta menjadi ketua sinode, ketua klasis, sekretaris klasis, kelakukannya begitu cepat bergeser dari nilai yang semula. “Saya enggan membuka daftar ketidakjelasan itu, tetapi saya hanya jelaskan bahwa kegagalan besar yang terjadi adalah karena para pejabat fungsi gereja, mengabaikan misi menobatkan orang kafir”.

Untuk itu, kata Yoku, dalam menata dan membangun misi pekabaran InjiI di dalam Rumah Besar GKI, ada dua hal yang perlu diperbaiki, yaitu memperbaiki cara pandang dan memperbaiki cara kerja.

Memperbaiki Cara Pandang adalah setiap pekerja dalam Rumah Besar ini perlu menyadari bahwa dia bukan sedang mengerjakan pekerjaannya, melainkan pekerjaan Tuhan yang suci. I Korintus:9 “memberikan gambaran bagaimana Rasul Paulus, menggumuli pekerjaan kerasulannya, dia bertanya apakah pada akhirnya ia akan masuk dalam Kerajaan Sorga?” Ini sebuah pertanyaan yang perlu kita semu renungkan.

Foto: Dokumentasi Sinode GKI

Bahwa kita bekerja di Waropen, mendaki gunung dengan bercucuran keringat, tangisan dan tanpa menerima gaji, lalu kita beranggapan kalau nantinya kita masuk dalam Kerajaan Sorga. Bukan soal itu, melainkan yang utama ialah memiliki iman dan pengharapan di dalam Kristus. Gereja membutuhkan para pekerja yang memiliki iman dan pengharapan yang benar.

Kedua, Memperbaiki Cara Kerja. Daftar ketidakbenaran dalam gereja ini begitu banyak. Sikap ketidakjujuran tampaknya telah menjadi semacam ‘budaya’ yang umum terlihat dalam gereja kita. Sekarang ini para pekerja gereja ini sudah tidak jujur dalam melaksanakan tugas pokok gerejanya, yaitu memberitakan firman Tuhan.

Tugas memimpin ibadah saja sudah tidak dilakukan dengan baik. Melayani di wilayah yang agak sedikit jauh dari kota, begitu sulit baginya untuk melaksanakan tugas itu. Saya pernah mengunjungi sebuah jemaat GKI di Tanjung Kasuari Klasis Sorong. Pada saat itu ada seorang penatua yang naik ke mimbar lalu berkata: “sebenarnya hari ini pendeta ini yang memimpin ibadah, tetapi berhubung pendeta yang bersangkutan tidak datang, maka izinkanlah saya memimpin ibadah ini, sebatas kemampuan saya”.

Ini sebuah contoh dari sekian banyak contoh yang saya boleh gambarkan. Ada pendeta yang tidak bersikap normal dalam pelayanannya. Ada pula karakter pendeta yang hari ini ia beralkohol dan besoknya ia memimpin ibadah jemaat yang dibinanya.

“Misi pekabaran Injil akan menjadi baik jika ada pertobatan manusia pekerja dalam gereja ini. Persekutuan, kesaksian dan pelayanan itu akan menjadi baik, bila kita semua mengubah cara kerja kita dalam gereja yang kita cintai. Ini merupakan kunci keberhasilan dalam melaksanakan tri-panggilan gereja. Oleh sebab itu, marilah kita seriusi hal-hal ini agar kita dapat menemukan pengajaran tentang sebuah tanggung jawab dalam melaksanakan tugas misi pekabaran Injil di tanah Papua” ajak Pendeta Alberth Yoku.

Dewasa ini banyak Gereja Kristen yang datang dari luar Papua dengan berbagai pandangan teologi, metode pendekatan dan model-model pelayanan yang baru, dan cukup besar mempengaruhi eksistensi Rumah Besar kita. Masuknya gereja-gereja baru itu pada prinsipnya membawa Injil yang bukan untuk membangun, melainkan merusak persekutuan jemaat-jemaat GKI.

Karena itu, Ketua Sinode GKI Pendeta Alberth Yoku menegaskan GKI akan menertibkan hal-hal itu sesuai aturan. Mereka yang keluar mengurus pekerjaan lain tanpa mendapat persetujuan dari Sinode dan Klasis, itu akan dipertimbangkan, karena perilaku mereka ini juga turut merusak pekerjaan Tuhan dalam rumah kita GKI. Akhirnya, GKI pun terlihat mulai membeda-bedakan antara GKI dengan gereja-gereja lain. Misi GKI di Tanah Papua akan menjadi baik, bila kita semua memiliki pandangan dan tindakan yang sama.

Gabriel Maniagasi