Seseorang yang akan memimpin Gereja Kristen Injili di Tanah Papua ke depan harus bisa jeli melihat persoalan-persoalan yang dihadapi gereja maupun jemaat serta gereja tetap menjalankan fungsinya memberi syalom kepada umatnya.

suaraperempuanpapua.id – SYARAT seseorang yang akan menjadi pemimpin di Gereja Kristen Injili di Tanah Papua ke depan setidaknya ia harus memiliki empat sikap, yaitu pertama: harus jeli melihat persoalan-persoalan yang dihadapi gereja maupun jemaat. Dan ia harus mampu memberi perhatian kepada berbagai persoalan yang menghadang jemaat dan rakyat Papua secara umum.
Pemimpin harus jeli melihat bahwa jemaat gereja ini banyak yang hidup dalam berbagai persoalan, seperti korban kegiatan politik, korban pelanggaran hak azasi manusia, dan juga menderita berbagai sakit penyakit. Sehingga gereja tetap menjalankan fungsinya memberi syalom kepada umatnya.
Kedua: pemimpin GKI harus mampu merangkul berbagai pihak untuk sama-sama bergandengan tangan melayani umat Tuhan. Dia harus bisa merangkul dan mampu menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, TNI dan Polri, pihak dunia usaha, lembaga-lembaga non pemerintah maupun pemimpin-pemimpin agama lain.
Hal ini menjadi penting karena seorang pemimpin setidaknya memiliki kepekaan dan kemampuan itu, agar setiap persoalan mampu dikomunikasikannya.
Disamping itu, pemimpin harus mampu merangkul warga jemaatnya atau warga gereja, sehingga visi, dan misi tentang eratnya persekutuan yang sedang dijadikan agenda utama gereja saat ini harus benar-benar diwujudnyatakan.
Ketiga: harus bersikap tegas dalam pengambilan keputusan. Akan berdampak buruk bagi gereja, jika pemimpinnya tidak tegas dalam mengambil kebijakan, senantiasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Untuk itu, dibutuhkan seorang pemimpin gereja yang berani dan tegas dalam hal pengambilan keputusan.
Ketegasan dimaksudkan bahwa tidak kompromi dengan hal-hal yang tidak membangun iman. Menyatakan tegas untuk setiap bentuk penyimpangan, termasuk penggunaan kewenangan dan kekuasaan.
Keempat: harus visioner. Artinya pemimpin itu mampu melihat tanda-tanda zaman dan punya visi yang jelas dan mampu mengantarkan gereja ini pada masa depan yang baik.
Untuk itu, melalui Sidang Sinode yang digulirkan pada 18 – 24 Juli 2022 di Waropen nanti, diharapkan mampu mendapatkan hasil yang maksimal. Dan sangat diharapkan Sidang Sinode ini mampu memberi kontribusi positif dan menjadi penentu bagi masa depan GKI yang lebih baik di masa yang akan datang.
Pendeta Lukius Matui di Jayapura
