Uskup Mimika Mgr. Bernardus B. Baru OSA dalam suara kenabiannya menegaskan, penindasan yang mengorbankan darah manusia, harus diubah dengan dialog, dengan jalan damai, dan dengan jalan kemanusiaan.

suaraperempuanpapua.com – USKUP Mimika Monsenyur Bernardus B. Baru OSA menyikapi berbagai kasus kekerasan yang terjadi akhir–akhir ini di wilayah Pegunungan Tengah Papua, terutama di Kabupaten Dogiyai dan Deiyai dalam Homili Perayaan Paskah Jumat Agung, Jumat, 3 April 2026 kemarin di Gereja Katedral Tiga Raja Mimika.
“Situasi akhir–akhir ini, khususnya di wilayah kami di Pegunungan di Moanemani Kabupaten Dogiyai pada dua, tiga hari ini terjadi pembunuhan di sana. Saya kira ini adalah rekayasa–rekayasa kekerasan yang dilindungi untuk kepentingan dan kekuasaan, bukan pemberian diri untuk pelayanan kepada masyarakat.
Para anggota keamanan bukan justru memberi keamanan, tapi memberi tidak nyaman kepada masyarakat daripada memberi pengamanan. Polisi menggunakan senjata menembak masyarakat, seharusnya senjata itu bukan dipakai untuk menembak masyarakat. Tapi justru dipakai untuk mengamankan. Tapi itulah yang terjadi.

Apalah makna Yesus mati di atas Kayu Salib? kalau bukan Dia mati untuk membebaskan kita dari semua kejahatan rekayasa dan Yudas–Yudas Iskariot yang ada dalam dunia sekarang ini.
Di lingkup kita Gereja Katolik pun banyak Yudas, baik awam maupun hirarki juga banyak Yudas yang menjual kekuasaan untuk kepentingan sesaat kesenangan–kesenangan duniawi. Tawaran–tawaran ideologi kekuasaan dan kenikmatan.
Karena itu, Paskah Yahudi yang dirubah oleh Yesus memberikan diri–Nya, seharusnya menjadi ajakan radikal bagi kita agar kita juga berpartisipasi secara radikal merubah sistem yang ada adalah penindasan, sistem yang jahat sistem yang menindas yang mengorbankan darah manusia begitu saja dengan mudah harus diubah dengan dialog, dengan jalan damai, dan dengan jalan kemanusiaan”.(*
