SEPAKBOLA DAN BRUTALISME

Dunia sepakbola Indonesia kerap identik dengan brutal dan rasis. Sportifitas dan profesional masih jauh panggang dari api.

Laga final babak playoff liga 2 PSSI musim 2025/2026 Persipura Jayapura lawan Adhyaksa Banten di Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan Sentani, Jayapura, Jumat 8 Mei 2026. Adhyaksa menang 1 kalahkan Persipura. Foto: Paskalis Keagop/suaraperempuanpapua.com

suaraperempuanpapua.com – BRUTAL dan rasis terus mewarnai sepakbola Indonesia di berbagai ajang. Mulai dari liga antarkampung sampai liga utama nasional Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Moto sportifitas serta kalah–menang biasa dalam olahraga, baru ucapan di bibir saja di dunia sepakbola Indonesia.

Pada Jumat 8 Mei 2026 pukul 15.00 siang digelar laga final babak playoff liga 2 PSSI musim 2025/2026 antara Persipura Jayapura sebagai tuan rumah melawan tim tamu Adhyaksa dari Banten di Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan Sentani, Jayapura. Inilah laga penentu siapa yang berhak tampil di Liga 1 PSSI musim 2026/2027 mendatang.

Hari itu pukul 13.30 siang saya berjalan dari rumah hendak ke Sentani melintasi areal Stadion Papua Bangkit. Setibanya di depan pintu pagar utama masuk stadion, berjumpa dengan teman, lalu dia menyampaku, “Paskal mau kemana? Ini ada tiket. Kau masuk nonton.”

Saya pun terima tiket lalu berkata kepada teman itu, “Mas saya tidak nonton, saya mau ke Sentani”. Lalu jawabnya, “sudah nonton saja, itu ada tiket”.

Saya baca harga tiket dan masuk dari pintu mana? Ternyata tertera harga tiket 150.000 rupiah dan masuk dari Pintu A11 dari arah utara.

Dari rencana awal yang tidak berniat nonton pertandingan puncak di stadion kompleks tempat tinggalku, aku putuskan nonton demi menghormati temanku yang telah memberikan tiket gratis, saya cuma nonton. Untuk apa tolak tiket gratis untuk tidak nonton?

Penonton dari tribun dan segala arah dalam stadion berhamburan ke tengah lapangan pertandingan protes kekalahan Persipura gagal lolos ke liga 1 PSSI musim 2025/2026. Foto: Paskalis Keagop/suaraperempuanpapua.com

Suasana Kampung Harapan mulai dari Telaga Ria sampai Hawai Sentani sudah sangat padat merayap sejak sekira pukul 10 pagi, karena banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat, penonton yang berjalan kaki serta para pedagang yang hendak menjajakan dagangannya di areal stadion.

Ratusan pedagang ibu-ibu sudah menjajakan barang dagangan beragam jenis di sepanjang areal di luar maupun di dalam stadion. Seluruh barang dagangan dijajakan untuk memanjakan penonton agar sambil duduk nonton pertandingan di dalam stadion bisa makan dan minum.

Setelah melihat kepadatan penonton di luar dan di dalam stadion, saya prediksi, sebentar kacau. Semua yang ada di stadion termegah ini akan hancur sebentar. Sebab ini laga puncak Persipura harus menang lolos ke Liga 1 musim depan. Seluruh slogan penonton dan tulisan di spanduk yang dibawa masuk ke dalam stadion adalah, “Persipura menang menuju liga 1.”

Persipura telah berjuang keras untuk bisa lolos ke liga 1 dengan mengikuti putaran pertama liga 2 hingga lolos ke final babak playoff menghadapi klub asal Banten, Adhyaksa. “Persipura harus menang lolos ke liga 1. Itu tekad kami. Kalau kalah? Pasti stadion Lukas Enembe menyala dan hancur,” teriak seorang penonton di Tribun Utara Stadion Lukas Enembe.

Saya hanya duduk nonton untuk memastikan bagaimana hasil laga akhir dan pasca pertandingan.

Pertandingan dimulai pukul 6 sore. Sebelum babak pertama berakhir, tim lawan sudah cetak 1 gol pada babak pertama. Setelah terjadi gol, baik di paroh babak 1 dan babak 2 terjadi berbagai drama oleh pemain lawan di lapangan. Pura–pura jatuh tergelak lama di tengah lapangan dan itu berulang sampai babak ke 2 berakhir.

Memasuki menit ke 50 babak kedua, botol–botol dan kaleng–kaleng minuman mulai beterbangan dari arah tribun timur, barat, utara dan selatan ke dalam lapangan pertandingan.

Kekalahan Persipura menyulut massa penonton marah dan membakar beberapa bagian di dalam Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan, Sentani. Foto: Paskalis Keagop/suaraperempuanpapua.com

Beberapa kali terjadi kemelut di depan gawang lawan, Persipura gagal cetak gol menambah kemarahan penonton. Semua yang ada di dalam dan di luar lintasan lapangan menjadi sasaran lemparan.

Memasuki menit ke 80, kembang api mulai dilempar ke arah lapangan. Pemain yang cedera menjadi sasaran lemparan penonton gunakan botol, kaleng minuman, kembang api, batu dan lainnya.

Memasukki menit ke 98 pluit panjang berbunyi tanda berakhirnya babak final playoff Liga 2 musim 2025/2026. Stadion pun menyala, penonton dari seluruh penjuru tribun stadion berlarian masuk ke tengah lapangan pertandingan dengan membawa kayu, saling mengejar, melambaikan bendera beragam warna, kembang api pun menyala di tengah lapangan dan dinyalakan di tribun lalu dilempar ke tengah lapangan. Suasana gaduh.

Kondisi dalam stadion sulit terkendali. Massa sudah bertindak brutal dan merusak di luar stadion. Penonton di dalam stadion sempat tertahan sekira 20 menit untuk tidak boleh keluar karena di luar sudah kacau.

“Kita cari wasit. Mana wasit. Dia tidak adil pimpin pertandingan. Gara–gara dia Persipura kalah. Kita mau tanya, dia dibayar berapa?” teriak sekelompok massa bertelanjang dada dengan membawa kayu, batu dan lainnya melempar, merusak dan membakar semua yang ada di areal stadion.

Mereka membakar ban bekas di pintu keluar stadion dan di beberapa titik. Mobil, motor roda dua juga turut dibakar akibat amuk massa yang kecewa atas kegagalan Persipura lolos ke Liga 1.

Beberapa mobil penonton yang dibakar massa di areal parkir Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan, Sentani. Foto: Paskalis Keagop/suaraperempuanpapua.com

Para pedagang yang menjajakan dagangannya di areal stadion lari berhamburan meninggalkan seluruh barang jualannya. Seluruh barang dagangan yang ditinggalkan para pedagang disapu bersih oleh siapa saja yang ada di stadion malam itu. Mereka makan dan minum gratis. Ada yang diangkut bawa pulang ke rumah.

Suasana Jumat 8 Mei malam di areal Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan menjadi sangat riuh, menimbulkan rasa takut, khawatir dan mencekam. Untuk mencegah aksi massa yang lebih buruk, polisi pun menyiram massa dengan gas air mata ke berbagai arah. Terdengar beberapa kali bunyi tembakan senapan aparat. Massa yang bertindak brutal pun lari menyelamatkan diri ke berbagai arah.

“Kalau keadaan stadionnya begini? Pasti stadion akan ditutup dan dilarang untuk tidak akan ada pertandingan di stadion ini entah sampai kapan? Kita ini pendukung Persipura, tapi mobil saya dibakar”, ujar seorang warga yang datang melihat mobilnya yang telah hangus menjadi rongsokan, pada Sabtu 9 Mei 2026 pukul 10 pagi di Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan Sentani.

Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan Jayapura, dibangun dengan dana triliyunan rupiah yang menjadi simbol kebangkitan olahraga Papua pun menjadi sasaran masuk massa yang brutal. Berbagai fasilitas milik pribadi dan stadion dirusak, dibakar, asap mengepul dan sampah berserahkan di seluruh areal stadion.

Keganasan amuk massa merusak dan membakar mobil, motor dan Stadion Lukas Enembe Kampung Harapan Jayapura akan menjadi saksi kekalahan Persipura gagal lolos ke Liga 1 PSSI musim 2026/2027.

Paskalis Keagop