Pemimpin politik United Liberation Movement for West Papua menyerukan rakyat Papua Barat bekerja menyiapkan bahan makanan untuk menghadapi situasi hari besok.
suaraperempuanpapua.com – SERUAN para pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Nomor: 0076/P-034/A-24/ULMWP/EC-1/III/2026. Dalam surat itu diserukan kepada seluruh rakyat bangsa Papua di mana pun berada, pada 6 Maret 2026 lalu, kami telah menyerukan seruan spiritual agar saudara-saudari di mana pun berada, setiap hari pukul 15.00 sore untuk doa Kerahiman Ilahi.
Dengan penuh kesadaran akan waktu yang semakin mendesak, kami kembali berseru atas nama Rakyat Bangsa Papua, “mulailah menyiapkan bahan makanan masing–masing sebagai bekal hidup dalam menghadapi pelbagai kemungkinan risiko terburuk di Tanah Papua dan dalam kehidupan kita.” Maka kami mengajak:
- Kembali peganglah alat-alat kerja kita, mengolah tanah, bekerjalah di kebun menanam bahan makanan tradisional Melanesia–West Papua.
- Pangkurlah sagu sebagai makanan asli kita, dan siapkanlah dalam jumlah yang cukup.
- Pohon sagu yang telah ditebang habis oleh pemerintah kolonial Indonesia demi kepentingan industri, perkebunan sawit, persawahan, dan perumahan, carilah lokasi-lokasi baru untuk menanam sagu dan bahan makanan tradisional lainnya.
- Peliharalah hewan ternak sebagai sumber protein: babi, sapi, ayam, telur.
- Carilah dan siapkanlah hasil laut dan danau, khususnya segala jenis ikan.
Kepada kaum bapak, ibu–ibu, anak–anak muda, dan seluruh unsur bangsa Papua. Sekali lagi kami menyerukan bahwa, laksanakanlah seruan ini dengan penuh tanggung jawab, tanpa menunda waktu.
- Kepada bapa dan seluruh kaum laki-laki Bangsa Papua, di mana pun dan dalam keadaan apa pun, bangkit dan lakukanlah secara sadar serta bertanggung jawab sebagai seorang bapa dalam kelangsungan hidup keluarga dan bangsa.
- Kepada ibu–ibu dan seluruh kaum perempuan Papua, mulailah berhemat dan mencicil bahan makanan yang diperlukan keluarga.
- Kepada anak-anak dan kaum muda Bangsa Papua, bersiaplah untuk hadapi semua hal, membela tanah airmu dan hentikanlah mental boros dan kebiasaan banyak jajan. Mulailah serius menyimpan dana di rumah atau tempat yang aman untuk dapat dipergunakan dalam situasi-situasi mendesak.
- Kepada para pemimpin, tokoh adat, dan tokoh perempuan dari masing–masing klen, subsuku, hingga suku: arahkanlah anggota suku dan komunitasmu untuk menjaga diri, bekerja di kebun, dan menyiapkan makanan apabila masa sulit tiba.
- Kepada para pemimpin agama, serukanlah dari mimbar–mimbar resmi untuk mengarahkan umat sungguh-sungguh berdoa memohon belas kasih dan perlindungan Tuhan bagi keluarga, agama, dan Bangsa Papua. Mintalah umat untuk berdoa pada jam Kerahiman Ilahi setiap hari pukul 15.00 sore.
- Kepada para pejuang, organisasi taktik dan strategis perlawanan Bangsa Papua di bidang sipil–politik, pertahanan, dan diplomatik, di mana pun berada kami meminta agar masing–masing tuan–puan melakukan koordinasi dan konsolidasi internal untuk berdoa dan bekerja menyiapkan bahan makanan.
Hentikan segala perdebatan, tinggalkan ego pribadi. Mari kita laksanakan doa dan kerja dengan sungguh–sungguh, memperkuat eksistensi persatuan melalui rekonsiliasi dan doa, agar Tuhan menyatukan kita dalam satu persekutuan Papua yang sejati, lahir dari sikap tobat kita masing–masing demi mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan politik Bangsa Papua.
- Kepada saudara-saudari bangsa Indonesia dan warga negara lain yang berada di tanah air West Papua, kami sampaikan: bersiaplah, berhematlah, dan dukunglah seruan ini. Saudara dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di tanah ini.

Karena itu, saudara memiliki kewajiban moral dan material untuk mendukung seruan ini dan perjuangan pembebasan nasional Bangsa Papua. Ingatlah, perjuangan Bangsa Papua tidak mengenal rasisme. Kami berjuang demi masa depan, masa depan kita semua. Inilah saat yang tepat untuk mengikuti seruan ini, untuk berpartisipasi dengan segenap potensi yang ada, bekerjasama, dan membantu menyelamatkan tanah, manusia, dan hutan Papua.
Mengapa Seruan Ini Keluar Sekarang?
Seruan ini lahir dari situasi nyata yang sedang kita hadapi di tengah pendudukan Indonesia: Bangsa Papua terus terkepung, tertindas, dan dibunuh tanpa ampun. Di saat yang sama, kita diingatkan untuk tidak melupakan sejarah identitas dan spiritualitas kepada Tuhan yang menciptakan dan menempatkan kita di tanah ini dengan kembali kepada makanan tradisional.
Selain itu, situasi politik dunia tidak sedang baik-baik saja. Konflik Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, Rusia melawan Ukraina, sedang berkobar. Dampaknya mulai kita rasakan: banyak negara, termasuk Indonesia, mengalami defisit anggaran yang tidak sedikit. Harga bahan bakar minyak akibat ketegangan di Timur Tengah mulai terasa.
Kemungkinan ke depan bisa lebih sulit dari saat ini mungkin melebihi krisis moneter dan ekonomi di Indonesia tahun 1998. Bahkan, eskalasi konflik ini dapat memicu Perang Dunia Ketiga, atau perang nuklir antara negara-negara besar.
Akibatnya akan melahirkan situasi krisis ekonomi, kemanusiaan, dan bencana ekologis yang mengerikan bagi seluruh umat manusia di planet bumi ini, tanpa terkecuali.
Menghadapi kemungkinan ancaman semacam itu, di manakah posisi kita, Bangsa Papua? Bagaimana nasib Tanah dan Manusia Papua ke depan? Dalam segala situasi dan pertanyaan ini, marilah kita dengan sungguh-sungguh berdoa setiap hari pukul 15.00 sore dan bekerja di kebun menyiapkan bahan makanan.
Demikian seruan untuk bekerja dan menyiapkan bahan makanan ini kami keluarkan, agar secara bersama dan bertanggung jawab dilaksanakan oleh kita semua, tanpa terkecuali. Tuhan memberkati langkah dan kerja kita. Dikeluarkan oleh Pemimpin Politik ULMWP, di Jayapura, Ibu Kota West Papua 16 Maret 2026. One People One Soul.
Pemimpin Eksekutif ULMWP Periode 2023–2028: Menase Tabuni, President Executive. Octovianus Mote, Wakil President Executive, dan Markus Haluk, Secretaris Executive.
Keterangan Pers United Liberation Movement for West Papua
