
Asa Mutiara Hitam Menuju Liga Satu
Suaraperempuanpapua.com— DI TANAH yang disebut “Surga Kecil yang Jatuh ke Bumi”, semangat dan cinta terhadap sepak bola tak pernah padam. Di setiap lorong kota Jayapura, di setiap doa umat di gereja, bahkan di setiap sorak anak-anak yang bermain bola di lapangan kampung, satu nama terus hidup dalam kebanggaan orang Papua: Persipura Jayapura.
Kemenangan Persipura di penghujung putaran pertama bukan hanya hasil kerja di lapangan, tetapi juga menjadi tanda bahwa api semangat Mutiara Hitam masih menyala, sebagaimana disampaikan oleh Anthonius M. Ayorbaba, SH, M.Si, seorang pemerhati sepak bola Papua sekaligus Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Papua.
“Kemenangan Persipura adalah anugerah Tuhan yang lahir dari kerja keras tim pelatih, manajer, para pemain, dan juga suporter yang terus memberikan dukungan penuh,” ujarnya saat dimintai pendapatnya tentang performa tim kebanggaan Tanah Papua tersebut.

Menurut Ayorbaba, posisi Persipura di klasemen yang kini bersaing ketat dengan dua tim lain memiliki makna penting. Putaran kedua harus dijadikan “final mini” di setiap pertandingan, baik di kandang maupun tandang. “Kalau ingin berada di puncak klasemen, Persipura wajib menang dengan selisih gol lebih dari satu. Tidak ada ruang untuk kalah,” tegasnya.
Ia menilai, salah satu kunci yang harus dihidupkan kembali adalah gaya permainan khas Persipura, yakni sentuhan cepat satu-dua dan kombinasi permainan kolektif yang menjadi ciri khas Mutiara Hitam di masa keemasan. “Kita ingin melihat Persipura kembali bermain dengan keindahan, memanfaatkan skill individu yang tinggi untuk mencetak gol dan menghibur,” tambahnya.
Namun, Ayorbaba tak hanya berbicara tentang teknis permainan. Ia juga mengingatkan bahwa Persipura memiliki misi besar untuk kembali ke Liga 1 pada tahun 2026. “Setiap pemain yang mendapat kepercayaan dari pelatih harus menunjukkan performa terbaik. Mereka bukan hanya mewakili klub, tetapi juga martabat orang Papua,” ujarnya penuh harap.
Dalam pandangannya, sepak bola Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal fair play dan objektivitas. “Kadang kepentingan tertentu masih terlalu dominan, bahkan bisa memengaruhi perjalanan Persipura. Hal ini harus disadari oleh pelatih, manajer, pemain, dan juga suporter,” katanya dengan nada serius.
Meski demikian, Ayorbaba juga memberikan apresiasi tinggi kepada Black Danger Community (BDC) dan komunitas pendukung lainnya yang selama ini menjadi benteng moral bagi tim. “BDC luar biasa. Mereka bukan hanya suporter, tapi keluarga besar yang memastikan Persipura tidak pernah berjalan sendiri,” ucapnya.
Menutup refleksinya, Ayorbaba mengajak seluruh masyarakat Papua untuk terus bersyukur dan berdoa. “Bagi yang Kristen, jangan lupa beribadah dan mendoakan Persipura. Mari kita bersyukur karena Tuhan telah memberikan kemenangan bagi tim yang menjadi simbol harkat dan martabat orang Papua di dalam NKRI,” pesannya dengan nada penuh kasih.
Di balik semua kata-kata itu, tersimpan harapan sederhana namun kuat: agar setiap generasi Papua terus melahirkan mutiara-mutiara baru yang akan menjaga sinar Persipura tetap terang di langit timur Indonesia. Karena bagi masyarakat Papua, Persipura bukan sekadar klub sepak bola, ia adalah bagian dari identitas, harga diri, dan kebanggaan yang menyatukan seluruh anak negeri di Tanah Papua.*(gm/tspp)
