Sepintas tak nampak makam dari luar. Yang terlihat hanya sebuah taman yang tak terlantar. Terletak di bawah pepohonan besar yang rindang. Ternyata bukan sekedar taman, tapi makam tua. Di areal taman itu tersedia tempat duduk bagi pengunjung. Suasananya sejuk.

suaraperempuanpapua.com – UNTUK pertama kalinya saya memasukki taman kota tua yang sejuk, tak terurus dan sampah beragam jenis berserahkan di sana–sini. Hari itu, Minggu 22 Maret 2026 pukul 08.20 pagi, saya pergi ikut misa di Gereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Merauke dan pulang pukul 10.30 pagi dengan berjalan kaki menikmati hari pagi yang cerah.
Tiba di gorong–gorong pembatas antara jalan raya dan parit, saya berdiri menatap ke dalam taman selama sekira 30 menit. “Kok, ini tamannya bagus di bawah pohon–pohon besar yang rindang, sejuk, tapi kenapa tidak dirawat?” Saya pun penasaran masuk ke areal taman untuk melihat kondisi yang sebenarnya.
Pagi itu ada sekira 40 anak berusia antara sekolah dasar dan sekolah menengah pertama datang berombongan dengan membawa barang jajanan masing–masing dan duduk makan–minum di dalam taman itu dengan penuh canda ria. Sehabis makan, minum, mereka buang sampah seenaknya di situ, lalu pergi begitu saja.
Tidak jauh dari pintu masuk taman, terlihat ada sebuah batu nisan. Pikiranku, ini pasti batu nisan tentang riwayat taman ini. Setelah diamati, ada tanda bintang, tanda salib dan ada tulisan tanggal, bulan dan tahun. Ternyata ini makam. Keterangan tentang waktu lahir dan waktu kematian.
Saya berkeliling melihat–lihat seluruh makam tua yang ada di situ. Semua tulisan di batu nisan berbahasa Belanda dan Cina. Warna tulisan sudah pudar, sulit terbaca. Tanggal kematian antara tahun 1920 sampai 1962. “Apakah ini makam pahlawan orang Belanda dan orang Cina di Papua? Tapi kenapa tidak dirawat?” pikirku. Ada beberapa batu nisan yang terpisah dari makamnya.
Saya duduk di dalam taman selama sekira 45 menit memikirkan bagaimana nasib makam tua di dalam taman di tengah kota. Tidak adakah petugas khusus yang merawat dan menata taman dan makam tua ini? menjadi pusat kuliner bagi pegawai dan warga kota di sekitarnya untuk beristirahat siang, makan, minum, merokok, dengar lagu dan lainnya?
Taman–makam terletak di persimpangan jalan raya yang paling ramai. Terletak diantara beberapa kantor pemerintah kabupaten dan provinsi. Kantor Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, yang berdampingan dengan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Merauke berhadapan langsung dengan taman–makam. Sebelahnya ada kantor dinas pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Merauke. Di sebelah jalan ada wisma Angkatan Laut TNI.

Kurang dari 200 meter ada kantor gubernur Provinsi Papua Selatan. Kaya sumberdayanya, tapi di seputaran itu tidak tersedia tempat untuk bisa beristirahat dengan santai dan tenang. Kenapa ada taman sejuk di depan perkantoran ini menganggur dan tidak difungsikan? “mungkin orang di sini jiwanya tandus. Mereka tidak suka udara segar dan sejuk”, memikirkan nasib taman–makam tua yang terlantar.
Setelah berkeliling areal taman dan melihat–lihat makam dan membaca tulisan di batu nisan berbahasa Belandan dan Cina, yang saya tidak mengerti, saya pun duduk termenung memikirkan nasib makam tua di taman kota, dengan beragam pertanyaan.
Apakah itu taman kota atau tempat pemakaman umum jaman dulu? Kenapa tidak dirawat? taman adalah paru–paru kota tua, tapi kenapa tidak ada yang merawatnya? Apakah ini makam para pahlawan orang Belanda dan orang Cina di Papua dulu yang tak terawat? Siapa pihak yang bertugas rawat taman dan makam di kota tua ini?
Selama ini setiap pagi, siang dan sore, saya selalu melintasi di jalan raya di depan taman yang terletak di depan kantor pemerintah yang saban hari sibuk bangun perumahan rakyat Kabupaten Merauke, tapi saya tidak pernah tahu bahwa itu makam tua.
Luas areal taman–makam itu sekira kurang dari dua hektar. Ada 10 pohon besar yang tumbuh dengan subur menyombari taman. Tapi satu pohon sudah ditebang entah kenapa? tinggal sembilan pohon. Salah satunya pohon beringin, “ini pasti tempat tinggal para arwah yang dimakamkan di sini. Jangan diganggu”, pikirku sesuai mitos masyarakat kita bahwa, pohon beringin adalah tempat tinggal para arwah leluhur dan roh–alam.
Ada dua roh yang hidup di dunia ini, yaitu roh manusia yang meninggal serta roh alam, yang sudah ada sejak dunia dijadikan. Mereka hidup di antara bumi dan surga.

Di taman ini juga ada dua tiang lampu taman, tapi kaca–kaca lampu balonnya sudah hancur, lampu tidak nyala. Ada 11 bangku tempat duduk, dan empat sarang semut musamus imitasi. Ada trotoar di areal taman memudahkan pengunjung berkeliling taman dan tidak injak rumput di areal taman serta tidak mengganggu makam. Dari suasana lingkungan dan fasilitas yang tersedia, sudah sangat sesuai untuk menjadi tempat rekreasi bagi warga kota tua, Merauke.
Sehari–hari ada saja entah anak–anak maupun orang–orang dewasa selalu datang duduk–duduk, beristirahat, bercanda ria di taman kota tua yang tak terawat itu. Suasana tamannya yang sejuk dan nyaman membuat anak–anak maupun orang dewasa suka datang bersantai di situ.
Esebia, seorang ibu warga Kelapa 5 Merauke mengatakan, itu kuburan tua orang Belanda dulu. “Ada keluarga yang sudah datang gali kuburan ambil tulang bawa pulang kubur di mereka punya kampung” ujar ibu yang hidup di Merauke sejak usia anak–anak hingga kini usianya lebih dari 70 tahun.
Sementara seorang PNS Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Merauke yang rumahnya dekat makam tua mengatakan, itu makan Cina, dinas lingkungan hidup yang punya tanggung jawab urus dan rawat taman dan makam tua itu.
Di banyak kota di dunia ini, mereka pusing mencari tanah kosong untuk taman kota sebagai tempat warga berrekreasi, beristirahat melepas kelelahan, bersantai, dan bercengkerama bersama teman atau keluarga. Tapi di kota tua Merauke, taman kotanya tak terurus dan dibiarkan terlantar. Taman kota adalah paru–paru kota dan juga paru–paru bumi.
Taman kota yang tak terurus dan semrawut penuh sampah adalah cermin jiwa dan raga warga kota yang amburadul.(*
