KETIKA OTSUS MENYENTUH TANAH : KISAH CERITA PEMBERDAYAAN DARI KAMPUNG DI PESISIR TANAH TABI

Pemberian bantuan kepada Ketua forum pemuda peduli Lingkungan dalam mendukung program Pembersihan Kampung dan Taman Gizi.(foto:ist/tspp)

SUARAPEREMPUANPAPUA.COM—Hari itu, suasana kampung terasa berbeda. Di bawah langit pesisir danau Sentani yang tenang, warga berkumpul dalam sebuah pertemuan yang sederhana, namun sarat makna. Bukan sekadar dialog, tetapi ruang bersama yang mempertemukan harapan, kerja nyata, dan masa depan Orang Asli Papua (OAP) dalam bingkai Otonomi Khusus.

Kegiatan Dialog dan Koordinasi Pimpinan DPRP dengan Pemerintah Daerah dan Tokoh Masyarakat/Tokoh Agama dibuka dengan nuansa hangat—nyanyian bersama dan doa—seolah menegaskan bahwa pembangunan di tanah ini selalu dimulai dari kebersamaan. Di depan, hadir sosok sentral, Cecelia Novani Mehue, Anggota DPRP Papua dari Kelompok Khusus, yang datang tidak hanya sebagai legislator, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.

Cecilia Novani Mehue sedang menyampaikan materi dalam Kunjungannya bersama masyarakat (foto:ist/tspp)

Dalam sambutannya, Cecilia menegaskan bahwa kehadirannya merupakan kelanjutan dari dialog sebelumnya dengan forum kampung. Ia tidak datang sendiri, tetapi bersama tim pendamping—sebuah pendekatan yang menandai bahwa kerja-kerja pembangunan tidak berhenti pada wacana, melainkan berlanjut pada aksi nyata dan pendampingan berkelanjutan.

Dari Taman Gizi hingga Makan Sumbang

Diskusi kemudian mengalir dalam kelompok-kelompok kecil: mama-mama, bapak-bapak, pemuda, hingga anak-anak. Di ruang-ruang sederhana itulah, wajah asli pembangunan terlihat—jujur, apa adanya, dan penuh semangat bertahan.

Cecilia Novani Mehue sesaat memperhatikan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat. Taman Gizi di pesisir Danau Sentani (foto:ist/tspp)

Program taman gizi, keramba ikan, dan makan sumbang menjadi bukti bahwa masyarakat telah bergerak dengan kemampuan sendiri. Mama-mama bercerita tentang dua kali panen sayur dari kebun kecil mereka—cabai, ubi, kangkung, hingga sawi—yang tumbuh di tengah keterbatasan. Namun, mereka juga jujur menyampaikan tantangan: hama ulat, keterbatasan lahan, hingga sulitnya akses mengambil tanah karena bergantung pada perahu dan bahan bakar dari hasil melaut.

Di sisi lain, kelompok bapak-bapak menyoroti persoalan mendasar: alat kebersihan yang minim dan ketergantungan ekonomi pada cuaca laut. Sementara itu, anak-anak dan remaja mengungkapkan semangat mereka untuk tetap sekolah melalui program makan sumbang, meski terkendala dana dan pembagian tugas yang belum tertata. Di tengah semua keterbatasan itu, ada satu benang merah: masyarakat tidak menunggu, mereka bergerak.

Cecelia Novani Mehue bersama Tim Dalam Kunjungan Kerjanya di Pesisir Danau Sentani (foto:ist/tspp)

Momentum penting terjadi saat tim pendamping menyerahkan bantuan secara simbolis—alat kebersihan, bibit tanaman, dan polybag. Bantuan ini bukan sekadar distribusi barang, tetapi bentuk pengakuan atas inisiatif masyarakat yang telah lebih dulu berjalan.

Cecilia menegaskan bahwa seluruh proses ini akan menjadi bagian dari laporan resmi ke DPRP Papua. Bagi dirinya, yang terpenting bukan hanya apa yang dibutuhkan masyarakat, tetapi bagaimana masyarakat telah menunjukkan kemandiriannya.

“Ini adalah bukti bahwa masyarakat kita mampu bekerja sendiri. Negara harus hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan,” kira-kira semangat yang ingin ia tegaskan.

Dalam konteks Otonomi Khusus Papua, pendekatan ini mencerminkan tiga pilar utama:
keberpihakan, dengan memastikan program menyentuh kebutuhan riil OAP;
perlindungan, melalui penguatan ketahanan sosial dan ekonomi berbasis kampung;
dan pemberdayaan, dengan mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan.

Menanam Harapan, Menunggu Panen

Tidak berhenti pada dialog, pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan konkret. Bersama masyarakat, tim menyusun timeline kegiatan tanam yang terstruktur; Minggu pertama: pembuatan para-para dan pengambilan tanah; Minggu kedua: penyemaian bibit; Minggu ketiga: pemindahan ke polybag; Perawatan hingga panen pada akhir Mei

Untuk cabai, panen diperkirakan dalam waktu 2–3 bulan. Tim bahkan telah menjadwalkan kunjungan kembali pada 30 Mei untuk melihat hasilnya.

Di sini, pembangunan tidak lagi abstrak—ia terukur, bertahap, dan dimiliki bersama.

Di penghujung kegiatan, Kepala Suku menyampaikan sesuatu yang sederhana namun dalam: kebanggaan. Ia mengakui bahwa kegiatan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ada rasa dihargai, didengar, dan dilibatkan.

Namun, refleksi tim juga jujur. Masih ada peserta yang belum berani berbicara. Ini bukan sekadar soal komunikasi, tetapi tentang kepercayaan diri—sesuatu yang harus dibangun jika pemberdayaan ingin benar-benar berhasil. Karena itu, ke depan, pendampingan tidak hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga pada penguatan kapasitas: manajemen waktu, organisasi, keuangan, hingga kemungkinan pembentukan yayasan untuk keberlanjutan program.

Bersama Tim Mengunjungi Masyarakat di Kampung Kensyo, Distrik Ebungfauw Kabupaten Jayapura (foto:ist/tspp)

Bahkan hal-hal kecil namun penting turut menjadi perhatian, seperti edukasi kebersihan gigi dan cuci tangan bagi anak-anak sekolah minggu—sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi kualitas hidup generasi berikutnya.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan di Papua, khususnya di wilayah adat Tabi, tidak bisa lagi dilihat dari pusat ke pinggir. Justru dari pinggirlah—dari kampung, dari mama-mama, dari anak-anak—arah pembangunan itu menemukan maknanya.

Dan di tengah semua itu, sosok Cecelia Novani Mehue hadir sebagai jembatan: menghubungkan suara kampung dengan kebijakan di tingkat provinsi.

Di tanah yang sering kali dibicarakan dalam angka dan kebijakan besar, pertemuan ini mengingatkan bahwa pembangunan sejatinya adalah tentang manusia—tentang harapan yang ditanam, dirawat, dan suatu hari nanti dipanen bersama. Di pesisir kecil itu, harapan sedang tumbuh. Dan kali ini, ia tidak berjalan sendiri.* (tspp/gm)