KANKER SERVIKS PENYEBAB KEMATIAN PEREMPUAN

Kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi salah satu penyebab kematian perempuan tertinggi di dunia, termasuk di Papua. Walau berbagai cara telah disarankan sebagai langkah penyembuhan, tapi belum mampu menolong penderita untuk sembuh. Karena itu, disarankan lebih baik mencegah daripada mengobati.

suaraperempuanpapua.com – DARI sekian banyak jenis penyakit yang ada di dunia, hanya penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim yang menyerang perempuan. Penderitanya jarang yang sembuh. Kanker serviks menjadi penyebab pembunuh perempuan tertinggi di dunia, dan juga Papua. Banyak perempuan baru mengetahui dirinya menderita kanker serviks setelah memasuki stadium lanjut, dengan merasakan keluhan seperti perdarahan tidak normal, nyeri panggul, dan kelelahan berat.

Pada kondisi ini, proses pengobatan menjadi lebih kompleks, biaya pengobatan meningkat, dan peluang kesembuhan juga menurun. “Padahal kanker serviks sebenarnya termasuk jenis kanker yang paling bisa dicegah dan dideteksi sejak dini,” ujar Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, Erick Akwan, beberapa waktu lalu.

Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K).

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ratusan ribu perempuan di dunia meninggal setiap tahun akibat kanker serviks. Sebagian besar kasus kematian terjadi di negara berkembang yang masih memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan. Perubahan sel pada leher rahim umumnya berlangsung secara perlahan selama bertahun–tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Pada tahap awal inilah kelainan dapat dideteksi melalui pemeriksaan sederhana seperti Pap smear atau Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA).

“Jika kelainan sel ditemukan lebih awal, penanganan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi kanker yang lebih serius”, ujar Akwan. Namun di Papua, pemeriksaan deteksi dini masih jarang dilakukan. Salah satu penyebabnya, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, serta banyak perempuan menganggap pemeriksaan baru perlu dilakukan jika sudah ada keluhan. “Padahal pada tahap awal, kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala apa pun,” ujar Dokter Erick Akwan.

Selain kurangnya pengetahuan, faktor rasa takut dan stigma sosial juga menjadi hambatan. Di beberapa komunitas, pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi masih dianggap tabu. Tidak sedikit perempuan yang merasa malu atau takut untuk memeriksakan diri. Selain itu, kondisi geografis Papua yang luas dan sulit dijangkau juga menjadi tantangan tersendiri. Jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, dan jumlah tenaga medis yang belum tersedia secara merata membuat layanan pemeriksaan kesehatan reproduksi belum sepenuhnya mudah diakses masyarakat.

Menurut Tim Kerja Promosi Kesehatan, Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Dokter Soeradji Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah, kanker serviks pada perempuan umumnya disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: 1) Infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus ini menyebar melalui hubungan seksual, dan dapat menyebabkan perubahan sel abnormal di serviks yang beresiko berkembang menjadi kanker. 2) Pola hidup tidak sehat. Kebiasaan seperti merokok dapat meningkatkan resiko kanker serviks. Sebab, zat kimia dalam rokok dapat merusak sel–sel di serviks dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi HPV.

Tiga, Sistem kekebalan tubuh yang lema. Perempuan dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau mereka yang menjalani pengobatan imunosupresif, lebih rentan terhadap infeksi HPV dan perkembangan kanker serviks. 4) Hubungan seksual pada usia muda. Perempuan yang memulai aktifitas seksual pada usia muda memiliki resiko lebih tinggi terekna kanker serviks. Karena, serviks yang masih berkembang lebih rentan terhadap infeksi HPV. 5) Berganti-ganti pasangan seksual. Memiliki banyak pasangan seksual atau berhubungan badan dengan seseorang yang memiliki banyak pasangan seksual meningkatkan resiki terpapar HPV.

Desain Tim Kerja Promosi Kesehatan, Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah.

Keenam, penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka panjang. Penggunaan pilkabe dalam waktu lama dapat sedikit meningkatkan resiko kanker serviks. 7) Riwayat keluarga. Perempuan yang memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat kanker serviks juga beresiko lebih tinggi mengalami penyakit ini.

Karena itu, Dokter Erick Akwan menyarankan upaya pencegahan kanker serviks tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan medis, tapi juga perlu diimbangi dengan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Deteksi dini merupakan langkah paling efektif untuk menurunkan angka kematian akibat kanker serviks. Jika penyakit ini ditemukan pada tahap awal, peluang kesembuhan dapat mencapai lebih dari 90 persen.

Pemeriksaan Inspeksi Visual (IVA) yang tersedia di banyak Puskesmas dinilai dapat menjadi solusi karena relatif murah, sederhana, dan dapat menjangkau masyarakat luas. Pemeriksaan IVA, bahkan dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, seperti program kesehatan ibu dan anak maupun kegiatan penyuluhan kesehatan di kampung-kampung.

Selain itu, dukungan keluarga juga memegang peran penting. Dukungan dari suami dan keluarga dapat membantu mengurangi rasa takut maupun rasa malu yang sering menjadi penghalang bagi perempuan untuk memeriksakan diri. “Kesehatan perempuan sangat menentukan kekuatan sebuah keluarga. Perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu, tapi juga sebagai pengasuh dan pendidik pertama bagi anak-anak. Ketika perempuan sehat, keluarga menjadi lebih kuat dan masa depan masyarakat juga akan lebih baik,” ujar Dokter Erick Akwan.

Karena itu, Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K), menyarankan bahwa untuk meningkatkan kesadaran tentang deteksi dini kanker serviks bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga investasi bagi masa depan masyarakat di Papua yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam akses layanan kesehatan. Melalui edukasi yang tepat, pemerataan layanan kesehatan, serta dukungan keluarga dan masyarakat, diharapkan semakin banyak perempuan yang berani melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.

Paskalis Keagop/diolah dari berbagai sumber