Usia Gereja Katolik masuk di Papua Selatan sudah 120 tahun, tapi jumlah imam pribuminya baru 13 orang. Tapi dua imam sudah keluar. Minat generasi muda masuk seminari untuk menjadi imam sangat rendah.

suaraperempuanpapua.com – VIKARIS Jenderal Keuskupan Agung Merauke, Pastor RP Hendrikus Kariwop MSC, dalam sambutan acara ramah–Tamah usai misa perdana Pastor RP. Agustinus Nicolaus Yokit MSC dan Pastor RP. Yohanis Ngaga Mbira Lando MSC, di Gereja Katolik Paroki Sang Penebus Kampung Baru Merauke, pada 17 Februari 2026 lalu mengatakan bahwa, walau usia Gereja Katolik masuk di Papua Selatan sudah 120 tahun, sejak 1905 sampai 2025. Tapi jumlah imam pribumi sangat terbatas. Jumlahnya baru 13 imam. Tapi dua imam sudah keluar dan tersisa 11 imam. Dari jumlah yang ad aini, lima imam telah berusia di atas 60 tahun, dan enam imam lainnya di bawah 50 tahun.
Jarak usia pentabisan antara imam pribumi yang satu dengan imam pribumi lain yang baru ditahbis sangat berjauhan. Ini menandakan panggilan iman menjadi imam di Papua Selatan sudah tandus. Ada dua imam yang sudah keluar meninggalkan panggilannya.
Jika jumlah biarawan–biarawati pribumi di Papua Selatan sudah banyak, maka kalau kita berharap perlu adanya uskup pribumi di keuskupan agung Merauke? maka itu bisa kita harapkan, karena sumberdaya manusianya sudah siap. Kalau kita punya jumlah biarawan–biarawati tidak ada atau sangat kurang, maka jangan berharap uskup pribumi.
Lima imam senior di atas 60 tahun adalah Pastor Yohanis Kandam PR, Pastor Kaitanus Tarong MSC, Pastor Pius Mano PR, Pastor Felix Amias MSC, dan Pastor Hendrikus Kariwop MSC. “Umur saya pas 60 tahun pada tahun ini”.
Sementara enam imam muda di bawah 50 tahun adalah, Pastor Silvester, Pastor Samuel Yanem MSC, Pastor Simon Kaize MSC, Pastor Stevanus Mahuze, Pastor Yohanis Mangguwop PR di Keuskupan Jayapura, dan Pastor Agustinus Nicolaus Yokit MSC. Sedangkan dua imam yang sudah mengundurkan diri, adalah Marselus Keropalelop dan Laurenz Minipko.

Jadi hitungannya baru 11 imam orang asli Papua Selatan. Jarak waktu pentahbisan menjadi imam antara imam yang satu dengan imam yang lain sangat berjauhan. Jadi kalau kita hitung–hitung, baru 11 imam, “karena iman di Papua Selatan tandus.”
Setelah waktunya terlalu lama baru Agus Yokit ditahbiskan sekarang menjadi imam pada 31 Januari 2026 lalu. Jadi jaraknya jauh–jauh dan munculnya satu, bukan dua atau tiga orang. Kendatipun demikian, inilah panggilan yang kita harus syukuri bahwa ada imam pribumi setelah 120 tahun Gereja Katolik masuk di Papua Selatan.
Maka Pastor Agus memberi catatan dalam misa perdananya bahwa, umat dengan merayakan ini, hidup iman Kristiani itu harus dibangun. Saya dengan merayakan ini, anak–anak dari Papua Selatan seluruhnya, Marind, Auwuyu, Kimaam, Mappi/Yakhai, Muyu, Mandobo, semuanya dengan merayakan misa perdana ini tergerak hati untuk melengkapi yang kurang ini. Apalagi imam–imam yang umurnya sudah 60 tahun ke atas waktunya akan habis.
Dengan merayakan misa perdana ini, anak–anak muda, baik di Mindiptana, Tanah Merah, Asiki, Ulilin, dan hari ini di Kampung Baru Meruke anak–anak terpanggil untuk menjadi bagian dalam keselamatan Allah, supaya karya keselamatan yang sudah terjadi di atas Tanah Papua tidak hilang. Kalau tidak ada? punah. Jangan sampai Gereja Katolik tinggal nama, atau tinggal kenangan setelah 30 atau 40 tahun kemudian, karena tidak ada yang melanjutkan jadi tinggal nama. Karena itu, pentingnya keterlibatan anak–anak muda.
Pastor Paroki Katedral Santo Fransiskus Xaverius Merauke, RP Hendrikus Kariwop MSC juga menyampaikan terima kasih kepada kedua orangtua Agus Yokit dan John Lando, yang telah memberikan dan mendoakan untuk panggilan dan anak–anak mereka sudah berhasil menjadi imam. Tetapi orangtua harus selalu mendoakan panggilan iman ini agar panggilan menjadi imam muncul di Merauke, khusus orang asli Papua.
Kalu di wilayah Papua Selatan ini imamnya sudah banyak, baik imam diosis maupun imam religius, dan biarawan–biarawati juga sudah banyak, maka diantara itu ada yang dipanggil menjadi uskup? Itu baru benar. Kalau jumlah imam, biarawan–biarawati cuma sedikit? Jangan coba–coba berharap.

Pastor Hengki juga ucapkan terima kasih khusus kepada Pastor Agus Yokit dan Pastor John Lando yang baru ditahbis menjadi imam dan memimpin misa perdana, yang terpanggil yang rela siap sedia dijadikan imam untuk mewartakan kabar suka cita Allah.
Di saat yang sama sekarang ini juga para pemuda–pemudi di Papua Selatan, sangat berat untuk masuk seminari menjadi imam atau biarawan–biarawati. Karena diberi kemudahan–kemudahan, dan di situ dikasih keenakkan-keenakkan, sehingga tidak rela untuk ditinggalkan masuk menjadi imam dan biarawan–biarawati terlalu berat. “Tetapi kamu berdua, Agus dan John telah mengambil keputusan itu. Ini bukan keputusan kamu, tetapi keputusan Roh Allah”.
Pastor Hendrikus Kariwop MSC juga menyampaikan terima kasih kepada orangtua Agus Yokit dan John Lando, yang sudah merelakan anak–anak menjadi imam. Selain doa dan dukungan, Tuhan memanggil mereka.
Pastor Hengki juga berharap, dengan adanya acara yang meriah dari panitia dibantu keluarga, umat, dan masyarakat Papua yang dipersembahkan untuk Agus dan John pada misa yang pertama ini menjadi kesan yang bagus agar menjadi motivasi untuk setia pada panggilanmu.(*
Paskalis Keagop
