ASAP KEMATIAN DI LANGIT IRAN

Asap kematian di langit Iran terus membumbung tinggi. Deraian air mata dan darah terus mengalir sampai jauh. Dunia diam dan membisu menyaksikannya dari jauh.

Asap kematian terus membumbung tinggi di langit Iran.

suaraperempuanpapua.com – PERANG bagai pentas seni. Masing–masing menunjukan kekhasan budayanya. Dalam kurun dua bulan ini, dunia membisu menyaksikan asap kematian bercampur air mata dan darah terus membumbung tinggi di langit Iran. Dunia kini semakin kejam! Tak lagi memandang manusia sebagai sesama yang diciptakan oleh satu Allah. Dunia memandang manusia lain sebagai musuh yang pantas dilenyapkan.

Hati nurani tak berfungsi. Otak dan rasionalitas mati. Kecerdasan yang Tuhan berikan hanya untuk berbuat kejahatan.

Tanah Iran seakan menjadi tanah kutukan. Saban hari bunyi letusan senapan terus terdengar di segala sudut kota. Setiap dentuman adalah nyawa manusia yang melayang. Pelaku dan motifnya sulit ditelusuri. Setiap pihak yang saling serang punya alasan masing–masing untuk membenarkan tindakkannya. Saling membunuh menjadi solusi di antara pihak yang bertikai.

Perang terkini antara Amerika dan Israel (AI) melawan Iran bukan sekedar incar stok uranium milik Iran, tapi ajang baku bunuh. Juga sebagai ajang unjuk kecanggihan teknologi mutakhir peralatan militer yang dimiliki AI yang diperlihatkan kepada negara–negara lain di dunia agar berminat membelanjakannya.

Daripada membuat pameran terbuka di pasar dengan biaya mahal? Lebih gampang dipraktekan langsung untuk menguji keampuhan dan kelemahan setiap jenis peralatan perang yang digunakan perang melawan Iran. Perang unjuk kecanggihan teknologi dengan biaya sangat mahal dengan mengorbankan ratusan ribu nyawa manusia cuma–cuma.

Di medan perang antara AI melawan Iran ini diperlihatkan ada: kapal laut, tank, mobil–mobil pengangkut peralatan berat perang, pesawat, dron, radar, rudal, senjata, peluru, bom, tentara, intelijen beserta keampuhan dan kelemahannya. Untuk isi bahan bakar pesawat jet tempur, tidak perlu mendarat di pom bensin. Cukup sambil terbang, pesawat tanki sandar dan langsung isi bahan bakar di atas langit. Hal yang tak mungkin di dunia penerbangan sipil.

Perang bukan sekedar ajang baku bunuh melepas kebencian, tapi juga adalah pasar terbuka bagi negara lain untuk melihat dan membelanjakan peralatan militer AI yang dipamerkan dalam perang Iran guna meningkatkan kekuatan militer dalam negeri peminat.

Karena itu, dalam perang selain ditunjukan keampuhan dan kelemahan dari setiap jenis peralatan, disertai juga dengan harga tiap jenis barang. Setali tiga uang. Sekali jalan meraih berbagai keuntungan: ekonomi, politik dan militer.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sepakat percepat akhiri perang melawan Iran. Ternyata, kondisinya semakin memburuk. Foto: globovision.com

Perang adalah ajang pamer kekuatan fisik dengan merendahkan dan meniadakan harkat, martabat dan eksistensi kemanusiaan. Di dunia ini, tak ada yang lebih kuat dan tak ada pula yang lebih tinggi untuk bisa saling meniadakan. Namun hanya karena demi gengsi diri, keangkuhan, dan kesombongan dari suatu negara dengan mengatasnamakan kemanusiaan, dengan mudah meniadakan hakekat dan eksistensi manusia lain.

Setiap manusia punya hak yang sama untuk hidup dengan bebas, aman dan damai di manapun di muka bumi ini. Tapi kenapa perang menjadi legitimasi tertinggi meniadakan eksistensi manusia lain dari muka bumi ini? Perang dengan alasan apapun adalah bencana kematian.

Pemicu perang hanya karena kerakusan, keangkuhan, kesombongan, kecurigaan, kebencian, kemarahan yang mematikan rasa dan hati nurani yang berujung pada peniadaan manusia lain. Apakah dengan membunuh persoalan akan selesai?

Perang terkini di awal 2026 yang sedang terjadi antara AI melawan Iran yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan, menimbulkan kerusakan luar biasa dan mengorbankan ratusan ribu nyawa manusia di Iran, dan juga di pihak Amerika dan Israel. Pemimpin negara tertinggi Iran hingga rakyat jelata menjadi korban terbunuh akibat serangan rudal AI. Amerikan dan Israel bangga, tapi Iran menangis.

Amerika dan Israel, termasuk Iran sendiri pun melebarkan ancaman ke negara–negara lain di Timur Tengah. Target Iran menyerang tetangganya pada basis–basis pertahanan militer Amerika di Timur Tengah. Sementara AI menyerang negara–negara tetangga Iran untuk mencegah pembalasan solidaritas sesama negara Timur Tengah kepada Amerika dan Israel yang lebih luas.

Israel selain menyerang Iran juga menyerang Libanon menyebabkan sebanyak 634 warga sipil, sebagian besar perempuan dan anak–anak tewas.

Presiden Amerika Donald Trump dalam perjalanan dengan Pesawat Air Force One menuju Miami mengatakan, Amerika menyerang Iran untuk mengincar stok uranium milik Iran yang menjadi bahan pembuat rudal/niklir balistik yang mematikan. Amerika bersama Israel baku dukung serang Iran untuk cegah Iran tidak buat nuklir balistik menggunakan uranium.

Amerika dan Israel bagai dua sejoli yang sedang kasmaran. Keduanya memiliki kesamaan hobi dan saling bergantung. Bagai dua sisi sekeping uang, sulit dipisahkan. AI merasa kekuatan yang dimilikinya tak tersaingi oleh negara mana pun di muka bumi ini.

Mereka pun menebar ancaman melalui pernyataan di media massa dan pamer kekuatan peralatan perang di Iran kepada siapa saja yang mau melawan.

Amerika dan Israel merasa punya kekuatan yang tak tertandingi secara: ekonomi, keuangan, teknologi, peralatan perang, strategi perang, kemampuan personil militer dan kekuatan intelijen yang terbaik yang tak dimiliki oleh negara mana pun di muka di dunia ini.

Korban nyawa manusia dan kerusakan berbagai fasilitas umum dan pribadi akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke di Iran. Foto: BBC News Indonesia

Karena itu, dengan percaya diri mereka mengancam negara manapun yang mau coba–coba membantu Iran menyerang AI. Jika ada yang membantu Iran? Itu sama dengan: Kematian Pasti!

Apakah korban nyawa manusia di Iran maupun di Amerika dan Israel akan meluluhkan hati nurani AI untuk menghentikan perang melawan Iran demi kemanusiaan? Kerakusan, kesombongan dan keangkuhan hanya mengorbankan eksistensi manusia lain. Seakan perang AI kepada Iran hanya memaksa dunia untuk nonton dari jauh asap kematian terus membumbung tinggi di langit Iran.

Iran pun tidak hanya membela diri menyerang AI, tapi juga menyerang negara–negara tetangganya yang menjadi basis pangkalan militer Amerika. AI perang melawan kelompok Hamas yang dianggap sebagai teroris paling jahat di dunia. Israel bertekad menghapus Hamas dari muka bumi.

Rusi dan Cina diam–diam hendak membantu Iran dengan kepentingannya masing–masing. Sebagai langkah awal, Rusia telah mengirim bantuan kemanusiaan ke Iran. Rusia ingin dron uranium Iran untuk kepentingan perangnya sendiri. Sementara Cina membutuhkan minyak Iran untuk kebutuhan dalam negerinya. Tak ada makan siang yang gratis!

Organisasi negara–negara di dunia: Perserikatan Bangsa–Bangsa serta komunitas negara–negara di Arab, Eropa, Asia dan Afrika diam menyaksikan asap kematian terus membumbung tinggi di langit Iran. Iran tak gentar, terus berjuang membela diri dan mengancam akan segera memisahkan kepala Donald Trump dari tubuhnya.

Allah memberi kekayaan alam dan kecerdasan manusia yang sama dan menempatkannya di atas tiap jengkal tanah di muka bumi ini untuk mengembangkan dan meneruskan kehidupannya. Tapi manusia tak pernah merasa cukup! dan selalu membuat perang merebut kekayaan milik orang lain di negeri lain.

Kini Iran, negeri kaya uranium dan minyak yang menjadi medan perang tiada akhir. Deraian air mata dan darah akan terus mengalir sampai jauh. Kapan asap kematian yang terus membumbung tinggi di langit Iran akan padam?

Paskalis Keagop