suaraperempuanpapua.com – MENYUARAKAN kebenaran dan keadilan adalah tugas hakiki dari gereja. Bila tidak melakukannya, maka itu bukanlah gereja. Tetapi sebuah organisasi sosial semata. Coba simak peran dan tugas nabi di kitab Injil Perjanjian Lama. Nabi pemimpin umat, gembala jemaat dan menjadi penasehat istana raja.
Bila raja berbuat salah dan berlaku tidak adil, maka nabi akan memberikan peringatan dan nasihat agar raja tidak berbuat salah dan dosa lagi.
Dalam perspektif negara modern, maka negara kebangsaan juga tidak bisa lepas dari doktrin theokrasi. Walau negara modern memilih sekularisasi, artinya adanya pemisahan yang tegas antara gereja (agama) dengan pemerintah atau negara. Menjadi dua tugas yang berbeda untuk dilakukan.
Dalam perspektif gereja adalah pilar utama, yang penting manakala kita berbicara hakekat pelayanan dan kemakmuran umat melalui Injil yang dikabarkan oleh para Zendeling asal Jerman, Carl Ottow dan John Gatlob Geissler, peradaban manusia Papua dimulai.

Tugas gereja selain melayani kebutuhan spiritual, juga melayani kebutuhan segi pendidikan, kesehatan, pertukangan dan ekonomi melekat dalam tugas diakonal gereja.
Mengapa Membangun Rumah Kita menjadi agenda utama Sinode GKI periode sekarang? Semua ini tak lepas dari analisa dan pergumulan Sinode GKI melihat perjalanan GKI selama ini. Kita terlalu banyak larut dalam urusan politik, sehingga kurang memperhatikan sendi-sendi kehidupan umat.
Dengan Membangun Rumah Kita, maka kita memperkuat konsolidasi kita pada bidang pelayanan gereja, baik doktrin dan ajaran, strategi pelayanan, penataan aset danharta kekayaan gereja. Bagaimana pelayanan GKI menjadi efektif? Apa hambatan dan kekurangan kita? Segera ada solusi untuk perbaikan.
Tantangan kita yang utama adalah kemiskinan yang terdapat pada hampir seluruh jemaat asli yang tersebar di seluruh pesisir, lembah dan pegunungan. Mereka miskin secara ekonomi dan terstruktur. Tantangan berikut adalah kebodohan. Masih ada warga GKI yang terpencil dan jauh dari pusat klasis dan pemerintahan.
Bagaimana supaya mereka bisa melek huruf, bisa baca Alkitab, dan bisa baca buku pelajaran agar mereka menjadi pintar. Sebab orang pintar karena sekolah, sehingga mereka tidak gampang dibodohi. Kemiskinan struktural, karena mereka tidak punya saluran untuk bisa meningkatkan kemampuan usaha ekonominya. Mereka ada yang masih dengan pola hidup subsisten. Tapi banyak mulai masuk ke sektor pasar dan berproduksi.
Bagaimana mereka dibantu dengan modal dan pendidikan ketrampilan. Para pendeta dna majelis jemaat perlu memperhatikan kemajuan dan kemampuan ekonomi rumah tangga jemaat. Sebab, kemajuan jemaat sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuatan ekonomi rumah tangga tersebut.
Gerja Kristen Injili sebagai gereja yang mondial, karena dia lahir dan besar akibat pekerjaan zending. Zending bekerja secara kontinyu dengan semangat oikumene. Itu berarti GKI bekerja tak lepas dari tugas gereja secara global.
Segala isu menyangkut hak-hak azasi manusia, lingkungan hidup, ekonomi, politik dan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa akan yang terjadi kemudian? Setiap suara dan linangan air mata dan darah umat yang tumpah itu menjadi tugas nabiah GKI.
Mengapa umat kami ditindas, mengapa mereka diberondong peluru, mengapa pula mereka masih memberontak melawan penguasa negara. Apakah benar Tanah Papua adalah daerah taklukan, sehingga bedil lebih utama daripada rotan pengajaran dan kasih sayang GKI di depan karena dia yang mula-mula. Karena itu, dia selalu menanggung beban semua pihak dan orang yang datang mau cari makan dan adu nasib di sini.
Sebagai gereja yang visioner, maka GKI punya tanggung jawab untuk membaca tanda-tanda zaman. Tanda-tanda jaman adalah bagaimana GKI tetap menjadi sumber air bagi semua orang yang datang di Tanah Papua. Apa yang akan terjadi dengan GKI, kalau kita tidak mampu mengelola perubahan.
Perubahan terjadi seiring dengan kemajuan ilum pengetahuan dan teknologi. Maraknya perdagangan bebas, dan satu tata ekonomi baru, mendorong kita semua untuk siap dalam pasar bebas ASEAN dan Pasifik. Trend perubahan politik di Pasifik. Setelah United Liberation Movement for West Papua menjadi anggota observerdi Malanesian spardhead Group.
Tuntutan penentuan nasib sendiri yang diperjuangkan kelompok politik yang pro merdeka mulai mendapat tempat di luar negeri. Apa yang harus kita persiapkan kepada warga jemaat GKI agar mampu mengambil bagian dari kecenderungan global tersebut.
Ada tiga hal utama, pertama, perkuat iman kepercayaan dan budi pekerti. Kedua, belajar ilmu pengetahuan dan teknologi secara sungguh-sungguh dan kuasailah teknologi infomrasi. Ketiga, kuasailah bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya sebagai sarana komunikasi internasional dalam hubungan dengan tata ekonomi global. Maka tidak ada jalan lain, gereja sebagai ujung tombak orang asli Papua hendaknya tetap bersuara dan tetap bekerja sesuai tatanan dan koridornya.
Gereja Kristen Injili di Tanah Papua jika mau maju, hendaknay membuang jauh-jauh kecenderungan berpikir sempit dan bertindak dalam kotak-kotak kesukuan, fanatisme kedaerahan, yang berpikir hanya kelompoknyalah yang layak berkuasa, dan yang lain di luar dari itu tidak bisa, maka sebaiknya dihentikan saja kebiasaan itu. Sebab, tidak sesuai dengan era globalisasi dan kemajuan demokrasi bangsa-bangsa di dunia.
Mari kita bangun solidaritas bersama atas dasar senasib dan sepenanggungan untuk maju bersama. Kita mesti mendengar semboyan Paulus kepada warganya “hendaknya kita bertindak dengan semanta Ut Omnes Unum Sint”. Bagaimana supaya membina warganya untuk setia berdoa dan bekerja (ora et labora) sebagai etika dalam Protestan. Hanya dengan bekerja menghasilkan uang dan modal. Itulah yang merubah dunia.
Tetapi ingatlah bahwa janganlah menjadi orang upahan dan lembaga upahan. Tetapi hendaklah engkau menjadi dirimu sendiri, seperti nubuat Yesus, “ketoklah pintu, maka pintu akan dibukakan bagimu. Carilah kerajaan Allah, semuanya akan digenapi”.
Dengan demikian, tantangan dan perubahan yang akan dihadapi kelak oleh GKI, itu sangat ditentukan oleh bagaimana pemimpin gereja melihat kecenderungan global dan nasional, persiapkanlah warga gereja untuk merebut peluang yang ada, dengan tetap menjadi diirnya sendiri tanpa harus hanyut ikut arus samudera dunia.
Penulis adalah Sekretaris Penelitian dan Pengembangan Sinode GKI di Tanah Papua. Tinggal di Jayapura.
