Yalimo Waktu Dulu

Yalimo di waktu lalu adalah wilayah yang sangat terisolasi. Masyarakatnya hidup dalam kondisi miskin dan terbelakang. Tapi sekarang, semua orang Suku Yali bisa sekolah untuk membangun tanah leluhurnya.

SEBELUM dimekarkan menjadi kabupaten sendiri, Yalimo merupakan wilayah Kabupaten Jayawijaya, yang saat itu kondisi wilayahnya sangat terisolasi. Pembangunan di berbagai bidang di wilayah Suku Yali itu sangat tertinggal. Pembangunan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Jayawijaya waktu itu tidak sampai ke wilayah Suku Yali.

Ini disebabkan kondisi wilayah Kabupaten Jayawijaya yang sangat luas, letak geografis yang sulit, sumber dana yang terbatas, sarana dan prasarana transportasi tidak tersedia dan seluruhnya menggunakan pesawat udara, dan berbagai keterbatasan lainnya membuat pemerintah Kabupaten Jayawijaya waktu itu kesulitan melaksanakan pembangunan secara merata ke seluruh wilayahnya, termasuk wilayah Suku Yali – kini Kabupaten Yalimo.

Kabupaten Jayawijaya ditetapkan menjadi pusat pemerintahan bagi masyarakat di seluruh wilayah Pegunungan Papua oleh pemerintah Republik Indonesia melalui UU RI Nomor 12 Tahun 1969, pada 10 September, dengan wilayah meliputi: Baliem, Bokondini, Tiom dan Oksibil. Wilayah yang sangat luas dengan topografi bergunung-gunung dan bersalju abadi.

Berbagai keterbatasan yang dialami pemerintah Kabupaten Jayawijaya itu menyebabkan masyarakat Suku Yali hidup dalam kondisi miskin dan terbelakang. Kondisi pendidikan, kesehatan dan ekonomi sangat buruk. Tidak tersedianya sarana dan prasarana transportasi menambah masyarakat hidup dalam keterisolasian.

Kondisi pendidikan juga sangat memprihatinkan. Banyak anak usia sekolah tidak bisa mengenyam pendidikan menyebabkan banyak generasi Yali yang tidak tahu membaca, menulis dan berhitung.

Selama Yalimo masih menjadi wilayah Jayawijaya, tidak ada keterwakilan masyarakat Suku Yali di eksekutif maupun legislatif di Wamena, menyebabkan pembangunan berbagai aspek di wilayah Yalimo tidak pernah mendapat perhatian.

Sarana dan prasarana transportasi juga tidak tersedia. Untuk ke wilayah Yalimo hanya bisa menggunakan pesawat udara berbadan kecil. Untuk jalan darat, hanya dua distrik yang terhubung jalan darat, yaitu Distrik Abenaho dan Elelim. Namun kondisi jalannya sangat buruk, karena telah ditumbuhi pepohonan besar dan sudah kembali menjadi hutan.

Jarak badan jalan yang telah dibangun pemerintah pada masa Presiden RI Soeharto dari Wamena ke Pasfale sejauh 50 kilometer. Sementara jarak dari Wamena ke Elelim sejauh 130 kilo meter. Sehingga, masyarakat dari Wamena ke Pasfale menggunakan kendaraan, kemudian perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 80 kilometer dari Pasfale ke Elelim.

Jarak jauh dan terpencil ini membuat banyak petugas guru dan medis yang tidak mau bertugas di wilayah Yalimo saat masih menjadi wilayah Jayawijaya. Dari segi pembangunan infrastruktur benar-benar sangat tertinggal sebelum Yalimo jadi kabupaten.

Memang waktu itu ada sedikit pembangunan seperti ada seng, ada tukang bangunan lokal, ada petugas medis, guru-guru, tapi itu adalah orang-orang didikan misionaris. Mereka direkrut misionaris menjadi guru dan tenaga medis karena bisa membaca, menulis dan berhitung.

Sebelum bertugas, mereka dilatih untuk tahu nama-nama obat, bagaimana cara diagnosa dan bagaimana meracik obat, kemudian diangkat jadi petugas medis di Yalimo untuk melayani masyarakat. Perekrutan calon guru juga dengan cara demikian. Tetapi pelayanannya cuma berpusat di sekitar pusat-pusat kota distrik.

Program pendidikan bagi masyarakat terpencil di wilayah Yalimo pada masa 1980-an yang dilakukan oleh Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dan Gereja Jemaat Reformasi Papua melalui program pemberantasan buta huruf. Kemudian pada 1990-an mulai dibuka beberapa sekolah dasar. Dan memasuki tahun 2000-an dibuka SMP. Gereja Kristen Injili di Tanah Papua dan Gereja Jemaat Reformasi Papua berperan penting dalam pembangunan di Yalimo sebelum dimekarkan menjadi kabupaten berpisah dari Wamena.

Peran pemerintah memang ada waktu itu, tapi sedikit. Pemerintah hanya membangun gedung sekolah tanpa menyediakan tenaga pengajar, dan bangun gedung kantor distrik tapi tidak ada pegawai yang bertugas.

Waktu itu sekira 1980-an dan 1990-an walau jumlah tenaga pelayan medis dan guru sangat terbatas, tapi mereka bekerja sangat disiplin dan bekerja baik. Tapi memasuki tahun 2000-an semua keadaan jadi buruk. Banyak guru dan tenaga medis ditarik jadi pegawai perkantoran di kabupaten-kabupaten pemekaran. Ada juga pegawai yang lari tinggalkan pekerjaan dan pergi ke kota.

Orang Yali yang sudah menyelesaikan pendidikan SMP, SMA dan perguruan tinggi juga sulit terserap dalam lapangan kerja di Jayawijaya. Mereka susah menjadi PNS, anggota legislatif atau pekerjaan di bidang lain. Peluang kerja yang tersedia lebih didominasi suku lain.

Keadaan itu membuat beberapa tokoh intelektual, seperti Er Dabi, dan beberapa tokoh lainnya berkumpul dan mulai menggagas bagaimana wilayah Yalimo bisa dimekarkan menjadi kabupaten sendiri terlepas dari Jayawijaya. Ide pemekaran itu mulai diperjuangkan pada sekira tahun 2006 sampai 2007, dan akhirnya Yalimo berhasil dimekarkan menjadi kabupaten pada 2008.

Kabupaten Yalimo memiliki luas wilayah 3.568,52 kilo meter persegi atau 125.300 hektar. Wilayah pemerintahan Kabupaten Yalimo pada awal pemekaran meliputi lima distrik dan 26 kampung. Elelim merupakan distrik terluas dengan luas wilayah mencapai 1.099,17 kilometer persegi. Sedangkan distrik dengan wilayah tersempit adalah Apalapsili dengan luas wilayah 251,94 kilo meter persegi.

Kabupaten yang beribukota di Elelim ini berbatasan dengan Kabupaten Jayapura dan Sarmi di sebelah Utara. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Tengah.

Secara topofragi, wilayah Kabupaten Yalimo merupakan daerah pegunungan yang mempunyai bentuk topografi datar, landai, agak curam sampai sangat curam dengan tingkat kemiringan lereng yang bervariasi.

Jumlah penduduk Kabupaten Yalimo menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayawijaya pada 2009, sebanyak 76.594 Jiwa. Jumlah ini tersebar di lima distrik. Penduduk terbanyak berada di Distrik Abenaho, dengan jumlah 23.177 jiwa. Dan penduduk yang sedikit berada di Distrik Elelim yaitu 7.360 jiwa.

Jumlah Penduduk Perdistrik di
Kabupaten Yalimo

Nama Distrik Jumlah Penduduk Total
Laki-Laki Perempuan
1. Apalapsili 4.943 4.343 9.286
2. Elelim 3.821 3.539 7.360
3. Benawa 7.762 5.893 13.655
4. Welarek 12.726 10.390 23.116
5. Abenaho 12.292 10.885 23.177
J u m l a h 41.544 35.050 76.594
Sumber. BPS Kabupaten Jayawijaya. 2009.

Kabupaten Yalimo secara umum dihuni Suku Yali. Secara karakteristik kehidupan masyarakat Yali sama dengan kebudayaan masyarakat pegunungan pada umumnya, yaitu bercocok tanam umbi-umbian, sayur-sayuran, buah merah, beternak babi, kelinci dan bebek. Paskalis Keagop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *