Wakil Bupati Yalimo 2016 – 2021

Lakius Peyon

Lakius Peyon

Setamat SMP, keinginan Lakius Peyon untuk melanjutkan ke SLTA tidak mulus. Ia ditolak dari satu SMA ke SMK lain sebanyak enam kali karena tidak punya pakaian seragam dan sepatu sekolah.

LAKIUS Peyon. Menurut ijasah sekolah, Lakius Peyon lahir 16 Maret 1977 dari ayah Wengkelen Palu Pilili Peyon dan ibu, Wayahe Aliknoedi Kampung Panal. Pasangan Palu dan Wayahe dikaruniai empat anak yang diberkati Tuhan. Walau pasangan ini hidup di kampung terpencil di celah gunung, tapi keempat anak mereka telah mengenyam pendidikan tinggi dan berbakti untuk nusa dan bangsa.

Anak pertama, Ibrahim Peyon, dosen Antropologi Universitas Cenderawasih Jayapura yang kini sedang kuliah doktor di Jerman. Anak kedua, Lakius Peyon, lulus Sarjana Pariwisata Universitas Udayana Bali dan terjun ke politik menjadi anggota DPRD Yalimo selama dua periode dan kini terpilih jadi Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021. Anak ketiga, Ruth Peyon, guru SMP Yalimo. Anak keempat, Marinus Peyon sedang kuliah di Jakarta.

Setelah lulus SD Inpres Pontenikma pada 1992, Lakius melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP YPK Betlehem Wamena dan lulus pada 1995.

Dari SMP, Lakius melanjutkan ke SMA Negeri 1Wamena tapi sekolah cuma beberapa hari dan dikeluarkan karena tidak punya sepatu sekolah. Sehingga ia pindah masuk SMA PGRI Wamena sekolah tidak sampai hitungan bulan dikeluarkan karena tidak punya seragam sekolah. Lalu ia pindah masuk SMK Pariwisata Wamena, sekolah di situ hanya sampai kelas dua dan sekolah itu ditutup. Akhirnya pindah ke SMU YPPK Santo Thomas Wamena, sekolah di sini juga hanya dua bulan. Lalu pindah lagi masuk ke SMU YPK Wamena, juga sekolah cuma sebulan, pindah masuk ke SMK Yapis Wamena dan lulus pada 1998.

Dari SMK Yapis Wamena, Lakius Peyon berangkat ke Jayapura mendaftar kuliah di Jurusan Akutansi Sekolah Tinggi Ekonomi Ottow dan Geissler Kotajara Dalam, Jayapura, tapi cuma sebentar dan ia pindah mendaftar kuliah di Akademi Pariwisata 45 Jayapura. Lakius pindah dari STIE ke Akparis karena dia dengar kuliah di STIE itu wisudanya lama.

Di Akademi Pariwisata 45 Jayapura, Lakius dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa, tapi kuliahnya tidak lancar karena sibuk dengan berbagai aktivitas organisasi di kampus. Sehingga, ia keluar dan hendak pergi kuliah di Brisbane Australia, karena dia sudah diterima di universitas di sana. Tetapi sampai di Jakarta kandas berangkat ke Brisbane karena suatu hal. Akhirnya, ia mendaftar kuliah di Universitas Kristen Indonesia Jakarta. Waktu daftar masuk, pihak universitas menerimanya bukan di semester empat tapi diturunkan ke semester dua.

Kebijakan itu membuat Lakius tidak mau lanjutkan kuliah di UKI Jakarta, dan pergi ke Denpasar mendaftar di Universitas Udayana Bali. Di Udayana, dia kuliah di semester lima Jurusan Pariwisata sampai tamat.

Setelah meraih gelar sarjana pariwisata dari Universitas Udayana Bali, Lakius pulang ke Papua dan melamar jadi wartawan surat kabar mingguan Tabloid Suara Perempuan Papua di Jayapura pada 2004. Sembari bekerja sebagai wartawan, Lakius juga aktif dalam berbagai program kegiatan lembaga swadaya masyarakat di Papua. Ia juga menjadi relawan Program UNDP di Jayawijaya.

Pada 2008, suamidari Sonya SilkaGomboitu terjun ke dunia politik menjadi Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Partai Kedaulatan dan pada Pemilu Legislatif 2009 partai Kedaulatan mendapat satu kursi, sehingga ia menjadi anggota DPRD Yalimo periode 2009 – 2014. Di lembaga legislatif ini, Lakius dipercaya memegang jabatan Ketua Komisi C, yang menangani bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Ini adalah anggota DPRD periode pertama Yalimo menjadi kabupaten definitif pada 2008.

Pada periode berikut, Partai Kedaulatan tidak memenuhi syarat menjadi peserta Pemilu Legislatif 2014, sehingga Lakius pindah menjadi Ketua DPC Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Yalimo. Melalui partai ini, ia mencalonkan diri menjadi anggota dewan pada Pemilu Legislatif 2014 dan terpilih untuk kedua kalinya jadi anggota DPRD Yalimo periode 2014 – 2019.

Pada Pemilu 2014, PKPI menjadi partai pemenang ketiga di Yalimo. Partai perolehan kursi terbanyak pertama adalah Partai Demokrat dengan enam kursi. Disusul Partai Amanat Nasional mendapat tiga kursi. Sedangkan Partai Gerindra, PKPI dan satu partai lainnya mendapat dua kursi. PKPI menjadi pemenang ketiga pada Pemilu 2014 di Yalimo karena mendapat dukungan suara terbanyak dibanding dua partai lainnya yang sama-sama mendapat dua kursi di DPRD.

Sesuai undang-undang, partai perolehan suara terbanyak jadi pimpinan dewan. Maka secara otomatis, Partai Demokrat yang jadi ketua DPRD. PAN mendapat jatah wakil ketua satu dan Lakius dari PKPI mendapat jatah Wakil Ketua Dua.

Namun jabatan ini hanya dipegangnya selama beberapa bulan, dan ia mencalonkan diri menjadi Wakil Bupati Yalimo berdampingan dengan Calon Bupati, Er Dabi.

Jabatan Wakil Ketua Dua DPRD dilepas Lakius karena ada pencarian calon wakil bupati oleh Er Dabi yang jadi Calon Bupati. Lakius keluar dari keanggotaan DPRD, karena: ia maju jadi calon bupati atas dukungan masyarakat dan dukungan partai politik. Waktupencalonan kepala daerah, Er Dabi yang saat itu Bupati, membuka peluang bagi siapa saja boleh masuk jadi calon wakil bupati mendampingi dirinya, tapi dengan catatan harus didukung oleh partai politik.

Syarat ini dipenuhi Lakius. Dia didukung Partai PKPI dua kursi, Partai PAN tiga kursi, dan Partai Gerindra dua kursi. “Jadi saya sudah didukung oleh tiga partai yang punya tujuh kursi di DPRD. Berdasarkan itu,Pa Bupati terima saya jadi calon wakil bupati”, ujarnya.

Di Yalimo ada tiga pasangan calon yang tampil dalam Pemilu kepala daerah serentak pada 9 Desember 2015 lalu. Sesuai hasil pemungutan suara, pasangan Er Dabi dan Lakius Peyon mendapat dukungan dari rakyat sebanyak 44.005 suara sah. Perolehan suara terbanyak itu sekaligus mengantar keduanya menjadi Bupati dan Wakil Bupati untuk membangun Yalimo selama lima tahun mendatang.

Alasan lain Lakius jadi Calon Wakil Bupati adalah berdasarkan pembagian wilayah adat di Yalimo, dia mewakili masyarakat Welarek, Apalapsili, Benawa dan sekitarnya. Secara politik wilayah itu kurang punya wakil di eksekutif dan legislatif di Yalimo.

“Yang kita bisa masuk hanya jabatan-jabatan politik, sementara di eksekutif tidak punya. Sehingga harus ada kita punya orang di pemerintahan,supaya setidaknya bisa memperjuangkan berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah itu. Seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, transportasi dll. Itu yang jadi alasan masyarakat minta saya masuk eksekutif supaya bisa punya akses di pemerintahan. Saya punya tugas adalah bagaimana supaya seluruh wilayah di Yalimo ini diperhatikan sama. Tidak boleh ada wilayah yang tidak diperhatikan. Tapi semua wilayah harus mendapat perhatian yang sama”, ujar Lakius Peyon, yang akhirnya berhasil terpilih menjadi Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 melalui Pemilu kepala daerah serentak pada 9 Desember 2015. Selamat mengabdi untuk rakyat Suku Yali.∎ Paskalis Keagop

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *