PAPUA PEDULI PALU

Dukungan materi dan doa dari Papua untuk korban bencana alam di Palu, Donggala dan Sigi terus mengalir sejak pasca kejadian hingga kini. Dukungan diberikan secara perorangan, kelompok, kelembagaan maupun oleh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Papua.

BANTUAN yang terkumpul dan dikirim tidak hanya berupa uang, tapi juga bahan makanan, pakaian, obat-obatan, tenaga medis, tenaga relawan dan barang kebutuhan lainnya dikirim ke sana untuk membantu korban gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Jumat, 28 September 2018 sekira pukul 18.30 petang lalu.

Gempa dan tsunami itu meluluhlantakan seluruh kehidupan di Palu, Donggala dan Sigi. Ribuan orang bersama harta bendanya hilang terkubur lumpur, ribuan orang ditemukan meninggal dan yang lainnya menderita luka berat dan ringan.

Bagi yang selamat, kehilangan harta benda dan tempat tinggal. Lokasi tempat tinggal mereka juga telah bergeser jauh beberapa kilometer dari tempat semula.   

Kerusakan berat dan banyak korban jiwa manusia akibat bencana alam yang dasyat itu menimbulkan simpati rakyat Indonesia dan internasional secara luas.

 Masyarakat dari berbagai kalangan menggelar aksi kemanusiaan dengan berbagai cara untuk mengumpulkan uang dan berbagai kebutuhan lainnya untuk memberi bantuan bagi korban bencana di Palu, Donggala dan Sigi.  

Kerusakan akibat gempa di Palu

Di Kabupaten Jayapura misalnya, AirNav Indonesia Cabang Sentani mengirim alat pemandu lalulintas udara atau Air Traffic Contoler (ATC) berupa Mobile Tower untuk dioperasikan di Bandar Udara Mutiara Palu. Mobile Tower merupakan perangkat khusus yang digunakan untuk membantu mengoptimalkan pelayanan lalulintas udara.

General Manajer AirNav Indonesia Cabang Sentani, Suwandi mengatakan pengiriman mobile tower dan teknisinya menggunakan kapal laut. Mobile Tower akan mulai efektif beroperasi pada Sabtu 6 Oktober hingga selesainya pembangunan tower ATC yang baru di Bandara Mutiara Palu.  

Kepolisian Sektor Sentani gelar aksi peduli korban bencana Palu, Donggala dan Sigi, pada Kamis 4 Oktober lalu. Kapolsek Sentani Kompol Hakim Sode mengatakan aksi itu dilakukan untuk membantu para korban gemba dan tsunami. Bantuan akan disalurkan melalui jalur Polri untuk diteruskan ke lokasi bencana di Sulawesi Tengah.

Pemerintah Provinsi bersama 29 kabupaten dan kota di Papua memberikan bantuan dana kemanusiaan bagi korban bencana alam sebesar 4 miliyar rupiah, serta seluruh masyarakat dan pemerintah daerah di Papua menyampaikan turut berduka cita dan keprihatinan yang mendalam bagi korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan Sigi.

Bencana alam yang terjadi di mana-mana saat ini, bisa terjadi di mana saja. “Bencana alam yang terjadi sekarang di Palu dan sekitarnya merupakan peringatan bagi kita semua untuk selalu waspada. Sebab bencana alama seperi itu bisa terjadi di mana saja”, pesan Gubernur Papua Lukas Enembe usai bertemu Presiden RI Joko Widodo di Istana Presiden di Bogor, Jumat 5 Oktober lalu.

Palang Merah Indonesia Kota Jayapura galang aksi kumpul dana dan kirim relawan ke lokasi bencana alam untuk membantu para korban. Aksi kumpul dana dipimpin langsung Wakil Walikota Jayapura Rustan Saru – yang juga Ketua PMI.

Ikatan Keluarga Toraja di Biak Numfor galang aksi kumpul dana bagi korban bencana di Palu, Donggala, dan Sigi dengan cara turun ke jalan dan mendatangi rumah-rumah tiap keluarga Toraja. Total dana yang terkumpul sebanyak sembilan juta rupiah.

Masyarakat dari berbagai kelompok, suku dan agama di Wamena Kabupaten Jayawijaya bersatu menyampaikan bela sungkawa nyalakan 1000 lilin dan berdoa bersama bagi korban bencana alam di Palu, Donggala dan Sigi, pada Sabtu, 6 Oktober di halaman kantor bupati Jayawijaya.

Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Kota Jayapura menggelar aksi kumpul dana kemanusiaan di beberapa titik jalan raya kota Jayapura selama tiga hari berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 68.402.000 untuk korban bencana alam di Palu, Donggala dan Sigi.   

Fridus, warga Sentani di Jayapura mengatakan jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta lebih, tapi bantuan berupa uang yang terkumpul hingga Minggu, 14 Oktober lalu sebanyak Rp 38 miliyar. “Jumlah ini tak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia. Belum semua penduduk merasa simpati dengan korban bencana di Palu, dan sekitarnya”.

Sekira 44 warga Papua yang menjadi korban bencana alam – yang mayoritas mahasiswa yang kuliah di berbagai perguruan tinggi di Palu juga telah dipulangkan oleh Pemerintah Provinsi Papua. Mereka berasal dari: Serui Kabupaten Kepulauan Yapen, Mimika, Nduga, Dogiyai, Jayapura, Teminabuan, Teluk Wondama, Maybrat, Fakfak, Sorong, Biak, Intan Jaya, Wamena, dan Lanni Jaya.

Masa tanggap darurat bencana telah diakhiri secara resmi pada 11 Oktober lalu, tapi pencarian korban di wilayah-wilayah terparah masih terus dilakukan menggunakan alat berat. Kerusakan terparah terjadi di wilayah Kabupaten Sigi meliputi: Tabo, Balaroa, Kota Palu, Jono Oge, Mpano, Sidera, Lolu, dan Biromaru.

Di wilayah itu tanahnya berlumpur pasca gempa yang menguburkan seluruh rumah penduduk beserta penghuninya, perkebunan, dan seluruh ternak bersama kandangnya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menerangkan kondisi pasca likuifaksi sangat menyulitkan pencarian. Tinggi lumpur diperkirakan sedalam tiga meter, seperti di wilayah Petobo. Luas wilayahnya yang berdampak mencapai 180 hektar. Petugas mencari korban pun hanya di timbunan lumpur yang semeter saja, atau dibawah reruntuhan rumah. 

“Daripada mengaduk-aduk lumpur setinggi tiga meter untuk mencari korban yang tidak tahu posisinya dimana. Saat likuifaksi rumah-rumah bergeser, bergerak hanyut sambil tenggelam”, jelas Nugroho.

 Di Petobo dan Balaroa diperkirakan masih ada sekira 5.000 korban yang belum ditemukan. Tapi jumlah ini belum pasti, masih akan didata ulang oleh BNPB untuk memastikan jumlah korban yang terkubur lumpur setinggi tiga meter. Untuk memaksimalkan pencarian korban, BNPB mengerahkan enam eskavator amphibi.

paskalis keagop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *