Mengenal Alberth Yoku

ALBERTH Yoku, lahir di Pulende, 14 Maret 1964, anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Hendrik Y. Yoku dan ibu Elci P. Yoku. Ayahnya lulus Sekolah Rakyat dan diterima menjadi tentara Belanda. Sementara ibunya setelah lulus Sekolah Rakyat, menjadi ibu rumah tangga dan melayani jemaat di GKI Onomi Flafouw Sentani.

Tidak seperti kebanyakan anak yang mengikuti jejak orangtuanya. Walau ayahnya seorang tentara, Alberth tidak ikut masuk tentara, ia lebih memilih masuk sekolah calon pendeta.

Dalam keluarga pasangan Hendrik dan Elci, dikaruniai anak pertama sampai keempat, semuanya perempuan, sehingga mamanya tidak disukai dan martabatnya sebagai perempuan diremehkan dalam keluarga. Ia dianggap perempuan yang tidak berguna karena tidak bisa melahirkan anak laki-laki sebagai pewaris keluarga.

Pdt. Alberth Yoku bersama istri dan kedua anaknya di Mansinam

Dalam pergumulannya itu, Elci melahirkan seorang anak laki-laki. Tapi kondisinya sangat lemah dan denyut jantungnya tidak berdetak. Ia panik dan takut lalu membawa bayi laki-laki yang baru lahir itu ke bawah pohon pisang. Bayinya diletakan di atas daun pisang, lalu Elci berdoa.

Dalam doanya, Elci memohon dan berjanji kepada Tuhan jika anak ini hidup, ia akan mempersembahkannya untuk Tuhan. Usai berdoa, Elci kaget karena anaknya bergerak dan menangis.

Akhirnya, anak itu dibawa pulang ke rumah dan dirawatnya hingga tumbuh dengan sehat. Kehadiran anak laki-laki ini juga membuat ibunya sangat dihormati dalam rumah.

Doa ibunya ini terlihat dalam prestasi belajar Alberth saat masuk sekolah dasar hingga lulus SMA Negeri 1 Abepura. Nilai pelajarannya selalu baik. Terutama, nilai akhir pelajaran agama saat lulus SMA Negeri 1 Abepura, ia mendapat nilai 99. Sehingga gurunya menyarankan Alberth untuk melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teologia Isak Samuel Kijne Abepura.

Ia pun masuk sekolah itu pada 1984 dan lulus 1988. Setahun kemudian Alberth Yoku dilantik menjadi Vikaris 1989 dan ditugaskan melayani Jemaat Dabra Klasis GKI Mamberamo Apawer.

Pdt. Alberth Yoku bersama para pendeta peserta sidang Sinode GKI di Tanah Papua 2017 di Raja Ampat. Foto paskal keagop/tspp.

Alberth Yoku telah bertugas melayani warga GKI di wilayah Mamberamo selama delapan tahun, sejak 1989 – 1997. Selama bertugas di daerah terpencil ini, ia mengalami banyak tantangan yang membuatnya memahami persoalan GKI dengan sangat baik. Ia juga mempelajari berbagai peraturan gereja.  

Sinode GKI yang didirikan pada 26 Oktober 1956 itu memiliki tata tertib dan peraturan untuk bagaimana bisa melayani umatnya dengan baik. Semula dari Calon Pendeta kemudian dilantik menjadi Pendeta pada 1990. Jabatan pelayanannya pun mulai meningkat secara perlahan.

Diawali dengan menjadi vikaris, pendeta, pelayan jemaat, ketua klasis, sekretaris departemen sinode, wakil sekretaris BP Am sinode dan akhirnya menjadi Ketua BP Am Sinode GKI yang membawahi 53 klasis, lebih dari 1.327 jemaat dengan lebih dari 444.747 anggota jemaat di Tanah Papua.

Tidak semua pendeta mengalami nasib seperti yang dialami Alberth Yoku. Ia memulai dari bawah hingga mencapai puncak tertinggi di struktur lembaga gereja. 

Pada Sidang Sinode GKI tahun 2011 di Klasis Sentani, tak banyak peserta sidang yang mengira Alberth Yoku bisa terpilih menjadi Ketua Sinode. Dalam pra pencalonan, ia mendapat dukungan 94 suara dari total 225 suara yang harus dicapai seorang kandidat. Jumlah dukungan suara pada pra pencalonan itu mengantarkannya dengan mulus hingga terpilih jadi Ketua Sinode. Doa ibunya dibawah pohon pisang di jawab oleh Tuhan. “Anak ini akan saya persembahkan untuk Tuhan”.

Keluarga Hendrik Elci diberkati Tuhan, dari ketujuh anak mereka, enam diantaranya bekerja di ladang Tuhan, dan semuanya menjadi pemimpin di dalam GKI di Tanah Papua.

Selama 22 tahun bekerja sebagai Pendeta di daerah terpencil itu membuat Alberth Yoku memahami persoalan warga jemaat secara baik. Sehingga, setelah ditabis menjadi Ketua BP Am Sinode GKI pada 15 Januari 2012, ia menata secara periodik dan berjenjang secara organisasi, personalia, manajemen, keuangan, aset dan tata layanan bagi umat di dalam gereja.

Hal penting yang ia lakukan adalah menata sistem keuangan GKI yang selama itu bersifat desentralisasi menjadi sentralisasi agar kesejahteraan seluruh pegawai yang kerja di GKI bisa terjamin secara adil dan merata.

Sudah 29 tahun (1988 – 2017) mengabdi di GKI di Tanah Papua, sebagai Pendeta hingga menjadi Ketua Sinode GKI di Tanah Papua. Selepas jabatan Ketua Sinode, Alberth Yoku mulai menatap dunia lain, yakni dunia politik. “Saya berpikir sebagai anak adat, anak gereja dan anak pemerintah, saya punya hak politik untuk memilih dan dipilih. Jadi, ya apa salahnya saya masuk anggota DPR RI”?

Masuk ke dunia politik diawali dengan mendaftar sebagai Bakal Calon Gubernur Papua periode 2018 – 2023 di Partai Golongan Karya dan Partai Hati Nurani Rakyat dengan moto “Membangun di Atas Dasar yang Sudah Ada”. Tapi tak lolos.

Dan kini mendaftar jadi Calon Anggota DPR Republik Indonesia periode 2019 – 2024 di Partai Nasional Demokrat, dengan visi: “Saya Diutus Sebagai Hamba ke DPR RI untuk Berdoa bagi Kesejahteraan Bangsa dan Menjadi Duta Kerukunan”.

Visi itu akan menjadi warna politik dan pikiran-pikirannya dalam bekerja sebagai anggota DPR RI nanti. Kalau sudah duduk di DPR RI, “saya akan tetap berorientasi pada Papua. Bukan berorientasi provinsi, tapi berorientasi pada Tanah Papua. Saya akan bersatu dengan teman-teman yang akan muncul di DPR dan DPD RI dari Tanah Papua. Kita akan menjadi energi positif dan bersinergi bagi Tanah Papua”.  

Berdasarkan moto itu, “kita akan perjuangkan untuk pemeliharaan kerukunan keagamaan yang baik dan kebhinnekaan dengan tetap berpegang pada Mazmur 122, Mazmur 133, Roma 13 dan Yohanes 17: 21 tentang doa Yesus. Semua itu adalah bagaimana orang Kristen menjadi garam dan terang dunia di Republik Indonesia”, ujar Alberth Yoku saat ditemui di Sentani. Senin, 1 Oktober 2018 lalu.

ALBERTH  YOKU.

Tempat Lahir: Pulende, 14 Maret 1964

Orangtua:

Ayah, Hendrik Y. Yoku (alm)

Ibu, Elci  P. Yoku (alm).

Pasangan Hendrik dan Elci dikaruniai enam anak. Empat perempuan dan tiga laki-laki:

  • Estina  Yoku
  • Kornelia  Yoku (alm)
  • Rodelila  Yoku
  • Hortensi  Yoku
  • Adrian Yoku
  • Alberth Yoku
  • Yansen Yoku

Istri: Apriantje A. Domo

Anak 2 orang:

  • Angelo Yoku,
  • Christian Aan Yoku 

Pendidikan:

  • SD YPK Ifar Besar, lulus 1977
  • Sekolah Teknik Negeri Sentani, lulus 1980
  • SMA Negeri 1 Abepura, lulus 1984
  • STT GKI IS Kijne Abepura, lulus 1988

Pengalaman Organisasi:

  • Pimpin Delegasi Klasis Mamberamo Apawer ke Jerman, Belanda dan Swiss, 1992
  • Pimpin Delegasi yang sama, 2001
  • Pimpin Delegasi GKI ke Vanimo – PNG, 1998
  • Mengikuti Sidang Dewan Gereja Reformasi se–Dunia (WARD),  2010

Pengalaman Kerja:

  •  Vikaris di Jemaat Maranatha Dabra Klasis Mamberamo Apawer: 1989 – 1993
  •  Dikukuhkan jadi Pendeta: 1990
  •  Pendeta Jemaat GKI Efata Kasonaweja: 1993 – 1994
  •  Pendeta Jemaat GKI Paulus Kapeso: 1994 – 1997
  •  Ketua Klasis Mamberamo merangkap Pelayan Jemaat 1995 – 1997
  •  Sekretaris Departemen Pembinaan Jemaat Sinode GKI: 1998 – 2006
  •  Wakil Sekretaris BP Am Sinode GKI: 2006 – 2011
  •  Ketua BP Am Sinode GKI: 15 Januari 2012 – 15 Januari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *