MENCARI KONSEP WILAYAH BEBAS KEKERASAN

Wilayah bebas kekerasan terhadap perempuan hingga kini masih dicari konsep dan kriterianya. Kini USAID Bersama dan beberapa LSM sedang mencoba hidupkan kembali nilai-nilai tradisi masyarakat Papua yang lebih memberikan perlindungan pada perempuan di Kabupaten Jayapura.

DESTI Murdijana dari USAID Bersama mengatakan sebetulnya, kalau orang mau bilang wilayah bebas kekerasan itu wujudnya seperti apa? itu belum jelas. Tapi itu harus bisa dimulai dari kampung yang bebas kekerasan. Tapi kampung di Kabupaten Jayapura juga bisa macam-macam. Karena ada yang sudah jadi kampung adat, dan ada yang belum.

“Tapi bisa jadi kampung adat yang ramah perempuan, dan kampung adat yang bebas kekerasan. Konsepnya, kita tetap menggunakan konsep kampung adat. Tetapi kita mencoba mengintegrasikan dengan tata cara, aturan-aturan, dan kebijakan-kebijakan kampung yang lebih memperhatikan perempuan dan anak-anak”. 

Selama dua tahun ini, USAID Bersama sudah bekerja di kampung-kampung di Kabupaten Jayapura yang akan berakhir pada 2021 mendatang. Dengan harapan nanti kampung-kampung ini bisa menjadi kampung percontohan wilayah bebas kekerasan, yang kemudian  bisa dikembangkan di kampung-kampung lain.

“Kami bisa berkontribusi dengan memberikan indikator-indikator kampung bebas kekerasan itu seperti apa? Maka Kabupaten Jayapura yang pertama dipilih oleh Komnas Perempuan untuk mengembangkan konsep wilayah bebas kekerasan. Dan konsep wilayah bebas kekerasan ini juga ditunggu indikatornya oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI”, ujar Desti.

Jika Kabupaten Jayapura berhasil menjadi wilayah bebas kekerasan, maka tingkat nasional akan belajar dari pengalaman-pengalaman di Kabupaten Jayapura untuk diujicobakan di kabupaten dan kota lain di Indonesia. Sebab sudah ada pengalaman yang bisa digali dari Kabupaten Jayapura, tinggal bagaimana tindaklanjutnya ke depan akan seperti apa?

USAID Bersama dan mitranya sudah mengidentifikasi bentuk-bentuk atau jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga yang paling banyak terjadi. “Walaupun tidak ada data, tapi dari pengamatan kita bisa lihat seperti itu”.

Program-program yang dibangun USAID Bersama dengan masyarakat di kampung-kampung lebih diarahkan untuk misalnya kalau ada kekerasan, orang selalu mengatakan itu laki-laki yang salah. Padahal belum tentu. Belum tentunya bukan karena apa, tapi karena tradisinya menempatkan laki-laki menjadi yang dianggap orang-orang yang tidak empati, tidak mau bekerja di rumah dan sebagainya.

“Ini yang kita ingin coba hidupkan kembali. Salah satu nilai penting dari bekerja di kampung buat kami adalah menghidupkan kembali tradisi-tradisi Papua yang lebih memberikan perlindungan pada perempuan”.

Kalau dibilang kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan itu pengaruh dari adat, ternyata tidak. Karena, ditemukan ada tata cara adat yang juga memberikan perlindungan pada perempuan. Hanya, dia tergeser dari pola hidup yang sekarang ada. “Misalnya pola hidup yang lebih materialistis, pola hidup yang kita lihat dari film, dari sinetron atau karena orang banyak pergi ke kota kemudian mereka melihat hidup sebagai orang kota harus seperti ini”.

Inilah yang mengurangi dan menghilangkan nilai-nilai asli orang Papua yang sebenarnya sangat menghargai harmonisasi, sangat menghargai perempuan dan juga sangat menghargai anak-anak. “Ini yang kita ingin hidupkan kembali. Bersama masyarakat kita menemukan kembali tata cara perlindungan terhadap perempuan dan anak-anak oleh adat”, ujar Desti Murdijana dari USAID Bersama saat ditemui wartawan di Aula Lantai 1 kantor bupati Jayapura, Gunung Merah Sentani, 25 Oktober 2018 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *