MASYARAKAT TIDAK MELEPAS TANAH ADAT

“Di ulang tahun yang kelima ini, saya menghimbau kepada seluruh dewan adat suku harus ambil keputusan untuk tidak ada tanah yang dijual ke orang lain”, tegas Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw.

Tarian adat masyarakat Lembah Grime pada ulang tahun kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura, 24 Oktober 2018, Foto Paskal Keagop

DEKLARASI kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura telah memasuki tahun kelima pada 24 Oktober 2018 lalu. Ibadah syukurannya dipusatkan di Lapangan Mandala Nimboran.

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dalam sambutan ulang tahun kelima itu mengatakan orang-orang pribumi harus bangkit membangun masa depannya. Masyarakat adat yang punya tanah dan hutan, maka harus bangkit mengelola untuk menjadi kekuatan guna percepat kemajuan di tiap daerah dan kampung adat.

Dalam waktu dekat pemerintah Kabupaten Jayapura akan melakukan pemetaan wilayah-wilayah adat sampai ke kampung-kampung, ke setiap marga, klen di setiap kampung yang memiliki dusun-dusun berdasarkan asal-usul yang sesungguhnya.

Bupati dan Wakil Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dan Giri Wijayantoro bersama Sembilan Ketua Dewan Adat Suku di Lapangan Mandala Nimboran, 24 Oktober 2018. foto Paskal Keagop

“Dari sanalah kita akan memiliki kepastian kepemilikan terhadap kekayaan, modal yang besar, yaitu tanah dan hutan yang kita miliki. Tanah dan hutan adalah kekayaan besar yang dimiliki masyarakat adat sebagai modal utama untuk kita berbicara tentang pembangunan masa depan di daerah kita”, ujar Mathius.

 Pemetaan wilayah adat dilakukan untuk menata wilayah berdasarkan kepemilikan-kepemilikan yang jelas supaya ada kepastian hukum. Agar siapapun yang datang bisa bekerjasama dengan masyarakat adat yang memiliki hak ulayat.

Setelah pemetaan wilayah adat, hasilnya akan didaftarkan ke Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua dan BPN pusat, supaya negara memberikan pengakuan dengan legalitas yang resmi.

“Kalau sudah pemetaan dan status kepemilikannya sudah pasti, maka siapapun orang yang datang pasti akan mengakui dan menghargai keberadaan kita di atas tanah ulayat kita”, tegas Bupati Jayapura.

Karena tidak ada pembangunan yang bisa dilakukan bukan di atas tanah, semua pembangunan dilakukan di atas tanah. Tidak ada pembangunan yang dilakukan di udara, hanya pesawat yang terbang dari Sentani ke Jakarta..

Karena itu di ulang tahun yang kelima ini, Bupati Jayapura mengajak seluruh dewan adat suku bekerja keras untuk bersatu mempercepat pemetaan wilayah adat untuk kepentingan-kepentingan jangka panjang untuk anak cucu.

“Saya menghimbau kepada seluruh dewan adat suku di ulang tahun yang kelima ini, kalau bisa, kita harus ambil keputusan bahwa tidak ada tanah yang kita harus jual ke orang lain. Kecuali untuk fasilitas-fasilitas umum yang bekerjasama dengan pemerintah atau swasta yang direkomendasikan oleh pemerintah”.

Tema HUT kelima masyarakat adat Kabupaten Jayapura 2018, adalah Adat Kuat, Ekonomi Masyarakat Meningkat dan Jayapura Berkualitas. Itu artinya, tanah dan hutan yang dimiliki masyarakat adat harus berbuat untuk meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tidak efouria saja hari ini. Tapi hari ini kita bangkit untuk mengelola tanah dan hutan kita untuk kesejahteraan dan masa depan kita oleh kita sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi? Tidak ada lagi yang bisa kita harapkan. Jangan berharap orang lain akan membangun masa depan kita, harus kita sendiri yang membangun masa depan kita sendiri. Dan ini sesuai dengan nubutan Pdt. Izak Samuel Kijne, bahwa kita sendiri yang harus bangkit membangun masa depan kita sendiri”, ujar Bupati Jayapura Mathius Awoitauw.

Kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura baru berusia lima tahun, tetapi adat itu sudah ada sebelum kita yang ada hadir hari ini lahir ke muka bumi ini.

Adat sudah ada dan adatlah yang membentuk bangsa ini. Adatlah yang membentuk peradaban ini, adatlah yang berjuang untuk menghadirkan perubahan-perubahan di Tanah Papua, tetapi juga di dalam bangsa dan negara ini.

Ketika Injil disebarluaskan, adatlah yang berjuang mencari dan membawa masuk ke kampung-kampung di seluruh Tanah Papua. “Pemerintah juga demikian. Adatlah yang pergi mencari guru supaya ada guru hadir di kampung-kampung supaya ada perubahan, ada kemajuan, supaya ada martabat kehidupan yang lebih baik ke depan. Adatlah yang memulai semua karya-karya besar ini”, jelas Mathius di Nimboran.

Sementara, Pendeta Robby Depondoye yang memimpin ibadah syukur ulang tahun kelima kebangkitan masyarakat adat mengatakan hak-hak masyarakat pribumi sebagian besar telah habis. Dusun-dusun sagu, dusun pinang, dusun kelapa sekarang telah berubah menjadi KPR-KPR.

Di wilayah pusat pemerintahan Kabupaten Jayapura juga lahannya semakin sempit. Karena itu, pesan bupati untuk masyarakat adat tidak melepas tanah adat itu penting. Itu adalah cara untuk melakukan tindakan penyelamatan, dan itu juga sebuah cara bagi masyarakat adat untuk bangkit mengenal dirinya dan mengetahui keberadaannya.

“Saya melihat selama ini, bagian ini sepertinya diselubungkan, tidak diberitahukan secara jelas kepada komunitas masyarakat adat yang ada di Kabupaten Jayapura mengenai ada berapa banyak kamu, dan berapa banyak lahanmu yang sudah habis. Ini mereka belum tahu. Kalau mereka tahu, mereka pasti punya keprihatinan. Dan pasti akan melakukan bagaimana cara untuk mempertahankan hak-hak mereka”, ujar Pdt. Robby Depondoye usai memimpin ibadah.

Karena itu, penyadaran-penyadaran semacam itu harus dibuat, agar orang jangan karena sebuah kenikmatan sesaat mengorbankan hak yang merupakan warisan dari leluhur untuk anak generasi yang akan datang.

Asisten I Setda Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri, yang juga Ketua Panitia Pelaksana Syukuran HUT kelima masyarakat adat dalam sambutannya mengatakan tujuan peringatan HUT kebangkitan masyarakat adat 2018 ini untuk: 1) mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa Kabupaten Jayapura adalah Kabupaten yang dibangun di atas jati diri sesuai keaslian dan kearifan lokal yang diakui keberadaannya sesuai ketentuan praturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam SK Bupati Jayapura Nomor 319 tentang Pengakuan Masyarakat Adat Kabupaten Jayapura dan SK Bupati Jayapura Nomor 320 tentang Pembentukan Kampung-kampung Adat di Kabupaten Jayapura, serta ditetapkanya Perda Kabupaten Jayapura Nomor 8 tentang Kampung Adat.   

Kedua, pelaksanaan HUT ke-5 kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura merupakan wujud dari implementasi peraturan perundang-undangan sebagaimana telah ditetapkan 9 wilayah adat dan kampung-kampung adat yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan bupati Jayapura yang hingga saat ini telah ditetapkan dalam proses sebanyak 42 kampung adat di Kabupaten Jayapura.

Anak-anak sekolah dasar turut hadir meramaikan ulang tahun kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura di Lapangan Mandala Nimboran, 24 Oktober 2018. foto Paskal Keagop

Ibadah syukur HUT kelima kebangkitan masyarakat adat dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Papua, perwakilan Pangdam XVII Cenderawasih, anggota DPRD Papua, anggota MRP, 9 ketua Dewan Adat Suku, tokoh adat, Ketua TP-PKK Kabupaten Jayapura, Magdalena Luturmas dan TP-PKK distrik dan kampung, Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantor, Sekda Kabupaten Jayapura Yerri F. Dien, kepala-kepala organisasi perangkat daerah, unsur pimpinan distrik, kepala-kepala distrik, Danramil, Kapolsek dan seluruh unsur pimpinan dari seluruh distrik, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Samdana Institut, NGO dari Jakarta, Provinsi Papua dan MGO Kabupaten Jayapura, pemerhati budaya masyarakat di Papua serta masyarakat adat dari sembilan DAS di Kabupaten Jayapura.  

Ada sekira 50 kelompok tari yang turut ambil bagian dalam perayaan HUT kelima masyarakat adat serta ada sekira 47 stand pameran yang memamerkan berbagai hasil karya tangan masyarakat adat dari sembilan wilayah adat se-Kabupaten Jayapura.

Kelompok tari dan pameran pembangunan masyarakat adat sudah dimulai meramaikan ulang tahun sejak 23 Oktober hingga ditutup tanggal 24. Berbagai media massa di Jayapura hadir meliput acara syukuran kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura di Nimboran.

paskalis keagop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *