DUKUN ASMAT TRAGEDI MISI KEMANUSIAAN INDONESIA

Ini adalah judul buku yang mencatat mengenai berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat Asmat. Buku ini juga mencatat, perilaku hidup sehat yang sangat rendah serta pandangan masyarakat tentang sakit akibat penyakit yang kerap dikaitkan dengan budaya. Itu menjadi tantangan pembangunan kesehatan di Kabupaten Asmat.

DUKUN Asmat, Tragedi Misi Kemanusiaan Indonesia. merupakan buku pertama yang khusus mengenai kondisi kesehatan di Kabupaten Asmat yang ditulis oleh seorang wartawan freelance, bernama Willem Bobi. Dalam kurun kurang dari empat tahun ia pernah menjadi kontributor berita di Tabloid Suara Perempuan Papua, yang kadang dikirimnya dari Kabupaten Mimika, Paniai, Deiyai, Dogiayai, Nabire dan Asmat.

Selain itu, dia juga menjadi freelance di beberapa media massa di Mimika, Nabire dan Jayapura, seperti surat kabar Jubi cetak dan online serta Papua Post Nabire. Berita-berita yang lebih dominan ditulis Willem Bobi, adalah persoalan kesehatan, pendidikan, perempuan, lingkungan hidup serta sedikit berita politik dan hukum.

Penulisan buku dukun Asmat, berawal dari rasa simpati penulis terhadap para dukun di Asmat yang walau memiliki pengetahuan dan ketrampilan seadanya, tapi mereka melayani sesama yang sakit dengan setia dan tulus hati tanpa menerima imbalan. Kalau pun ada, tak sebanding dengan jasanya. Kadang hanya menerima ucapan terima kasih atau rokok segulung.

Namun masyarakat di Asmat lebih percaya datang berobat di dukun ketimbang berobat ke rumah sakit. “Masyarakat tidak percaya rumah sakit, karena cara pelayanan petugas kurang bagus. Perilaku petugas medis yang kasar, tidak ramah dan obat yang masyarakat bawa minum juga tidak bisa sembuh. Itu yang masyarakat di Asmat lebih percaya dukun”, tulis Bobi dalam bukunya.

Jumlah Hal lain yang juga menjadi dasar penulisan buku ini adalah kalau dinas kesehatan bersama mitranya ingin membahas program pembangunan kesehatan di Asmat, mereka pergi bicara di hotel-hotel mewah di Merauke, Jayapura atau bahkan di luar Papua dengan menghabiskan biaya sangat mahal. Tapi hasilnya kadang kurang jelas di lapangan.

Willem Bobi dalam bukunya mengatakan, Dinas Kesehatan juga mengalami banyak kendala dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di Asmat. Jumlah tenaga dokter, perawat, bidan dan mantri sangat terbatas, secara geografis juga sangat sulit, masyarakat asli hidup terpencar di wilayah-wilayah yang hanya bisa dijangkau dengan transportasi laut seperti sampan, speedboat dan perahu jonson, keadaan cuaca ombak laut juga sulit diprediksi. Salah hitung ombak, nyawa bisa melayang cuma-cuma. Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan medis juga belum secara memadai.

Jumlah tenaga medis yang ada terbatas, tapi mereka jadi pekerja proyek di dinas kesehatan, dampaknya konsentrasi lebih terpusat ke proyek daripada semangat melayani masyarakat menurun.

Kondisi-kondisi ini juga membuat walaupun dana yang dialokasikan untuk pembangunan kesehatan mencapai ratusan miliyar, sama saja pelayanan kesehatan tidak bisa maksimal untuk menjangau seluruh masyarakat di wilayah Kabupaten Asmat.

tenaga medis misalnya, hingga 2010 lalu terdapat 350 tenaga medis dan nonmedis di Kabupaten Asmat. Terdiri dari: dokter 11 orang, dengan spesialisasi 8 dokter umum, seorang dokter ahli bedah, dan lainnya dokter ahli kandungan, ditambah dengan 20 perawat, 15 bidan, farmasi, apoteker, dan tenaga nonmedis.

Dalam kerangka penyusunan rencana dan strategi pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan Asmat bekerja sama dengan tiga mahasiswa program doktor dari Universitas Diponegoro Semarang melakukan penelitian berbasis lingkungan dan wilayah selama empat bulan pada Januari – April 2008.

Hal-hal yang diteliti adalah kondisi geografis, karakteristik wilayah dan lingkungan, karakteristik penduduk, pola perilaku masyarakat, penerapan norma pelayanan kesehatan masyarakat, dan etika dalam manajemen pelayanan kesehatan masyarakat. Dari hasil penelitian itu, ditemukan 13 jenis penyakit dominan yang diderita anak-anak usia nol sampai empat tahun maupun yang diderita orang dewasa. Jumlahnya yang sangat fantastis.

Buku dukun Asmat terdapat 686 halaman yang terbagi kedalam tujuh bagian, yang membahas mengenai: 1) Kondisi lingkungan hidup dan kelangkaan air bersih. 2) Kondisi kesehatan dan berbagai penyakit yang diderita masyarakat. 3) Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan masyarakat, seperti gedung, obat-obatan, peralatan pelayanan medis.

Empat: Ketersediaan sumberdaya manusia tenaga medis, seperti: dokter, perawat, mantri, bidan dan tenaga nonmedis. 5) Bagaimana perilaku tenaga medis melayani pasien yang datang ke Pustu, Puskesmas dan RSU. 6) Kenapa masyarakat lebih percaya berobat ke dukun, ketimbang ke pusat pelayanan kesehatan yang disediakan pemerintah?

Penulis menyajikan informasi tentang kondisi kesehatan di Kabupaten Asmat secara lengkap. Bagi pengambil kebijakan, aktivis kesehatan, peneliti, mahasiswa yang menekuni ilmu kesehatan bisa gunakan buku Dukun Asmat. Tragedi Misi Kemanusiaan Indonesia sebagai referensi. Bisa dibeli di toko-toko buku yang tersebar di Jayapura.• Paskalis keagop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *