Bakar Batu Warnai Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati

Pelantikan bupati dan wakil bupati dimeriahkan pesta rakyat bakar batu yang melibatkan masyarakat dari seluruh distrik di Kabupaten Yalimo.

Masyarakat secara gotong royong menyiapkan 100 lubang untuk barakpen pada acara pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon jadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016. foto paskal keaop.

JUMAT, 15 Juli 2016, sejak dini hari langit di kota Elelim, ibukota Kabupaten Yalimo diselimuti awan tebal, yang kemudian diikuti hujan rintik-rintik dan turun hujan deras. Tak lama kemudian hujan redah. Padahal sehari sebelumnya, langit llim sangat cerah. Tak ada awan tebal apalagi hitam.

Cuaca sangat cerah, sehingga puncak Gunung Sahyu yang menjadi simbol kebesaran Kabupaten Yalimo itu tampak dengan jelas keperkasaan dan ketangguhannya. Meski hari hujan, namun tidak mengurangi semangat masyarakat yang sudah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut acara pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo periode 2016 – 2021.

Demikian pula dengan pemerintah daerah Kabupaten Yalimo, juga terlihat sangat sibuk menyiapkan panggung kehormatan dan tenda-tenda untuk perayaan istimewa bagi orang nomor satu dan nomor dua daerah ini.

Hari itu, di alun-alun kota Elelim, bersebelahan dengan kantor bupati Yalimo, telah tergelar tumpukan batu sepanjang 70 meter, lengkap dengan kayu yang siap dibakar untuk keperluan acara bakar batu. Tumpukan batu ini dikerjakan beberapa hari sebelumnya oleh masyarakat secara bergotong royong.

Dicela tumpukan batu tersebut diselingi kayu bakar kering yang siap dijadikan pemicu untuk membakar batu yang nantinya akan digunakan sebagai media panas memasak makanan secara tradisional.

Pemerintah Kabupaten Yalimo menyembeli 270 ekor babi untuk acara pelantikan pasangan bupati dan wakil bupati Yalimo periode 2016 – 2021 di Elelim. foto paskal keagop.

Gaya dan cara memasak ala bakar batu ini memang menjadi sangat menarik, karena semua proses pengerjaannya dilakukan dalam kebersamaan. Nyaris tidak ditemukan proses pengerjaan bakar batu dilakukan seorang diri. Momentum bakar batu memang menjadi tradisi khusus dan khas di Tanah Papua, lebih khusus di daerah Pegunungan Papua.

Kebiasaan memasak dengan model “bakar batu” tidak hanya dikenal di daerah Pegunungan, tapi juga di daerah pesisir. Di pesisir utara Papua, khususnya di Kawasan Teluk Cenderawasih dikenal dengan sebutan Barapen. Istilahnya berbeda namun maknanya sama saja, yakni memasak makanan dengan cara memanfaatkan panas dari batu (steam).

Masyarakat di pantai utara menyebutnya “barapen”, namun di daerah pegunungan penyebutannya berbeda-beda. Misalnya, di Paniai disebut Gapiia, sedangkan di Lembah Baliem, Jayawijaya disebut Kit Oba Isogoa.

Apapun istilahnya, artinya sama yakni ada batu yang dibakar kemudian dimanfaatkan panasnya untuk mematangkan makanan. Seperti daging babi, sayuran dan umbi-umbian (betatas, dan kasbi).

Proses bakar batu di Yalimo, diawali dengan membakar batu yang telah ditumpuk sepanjang 70 meter itu sampai batu-batu itu menjadi panas dan terlihat memerah. Saking panasnya, batu-batu itu sampai meledak-ledak. Namun ledakan itu semakin memacu semangat mereka untuk melanjutkan proses memasak makanan secara massal.

Batu yang sudah panas kemudian diangkat menggunakan sebuah batang kayu yang dibelah ujungnya untuk dijadikan penjepit. Batu panas itu dijepit lalu diangkut ke lubang-lubang yang sudah disiapkan dengan dilapisi alang-alang dan daun pisang, yang di atasnya ditumpuk batu panas lagi.

Setelah itu ditutup dengan daun pisang lalu diletakkan daging babi yang sudah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Lalu ditutup lagi dengan sejumlah daun pisang dan dimasukkan batu panas. Di atas batu panas itu ditutup lagi dengan daun pisang. Setelah itu, dimasukkan sayur-sayuran, betatas, singkong (kasbi) dan lain-lain.

Setelah itu ditutup lagi dengan daun pisang lalu dimasukan batu panas dan ditutup dengan daun pisang dan alang-alang. Setelah itu dibiarkan selama kurang lebih 60 menit. Biasanya dibiarkan waktunya agak lama. Dengan panas dari batu yang ada membuat makanan akan matang secara alami.

Seorang warga dari Kampung Apalapsili Yunus, yang ditemui di lokasi bakar batu menjelaskan proses bakar batu dilakukan secara bersama-sama dengan semangat kekeluargaan, karena untuk mendapatkan alang-alang warga harus mengambilnya dari hutan di sekitar kota Elelim dengan beramai-ramai.

Alang-alang itu memiliki fungsi yang baik untuk mengantar panas atau menyerap panas dari batu yang dibakar dan dimasukkan ke dalam lubang di tanah bahkan alang-alang tersebut juga berfungsi menahan bau tanah pada makanan. Panas batu yang terserap itu membuat makanan terutama daging babi demikian empuk pada saat dikunyah.

Yapinus Deal, seorang mahasiswa yang ditemui di Elelim menjelaskan untuk ukuran bakar batu seperti ini pihak panitia mengorbankan sedikitnya 270 ekor babi. Babi sebanyak itu dipotong dan dibagi kepada seluruh masyarakat yang berdatangan dari seluruh distrik di Kabupaten Yalimo dan masyarakat lain yang datang dari Wamena, Lanny Jaya, Tolikara dan Mamberamo.

Pesta bakar batu ini melibatkan seluruh rakyat di Kabupaten Yalimo, sehingga momentum ini begitu menggairahkan warga. Mereka sangat antusias. Apalagi sehari sebelum acara pelantikan bupati dan wakil bupati, rakyat dari berbagai kampung di Yalimo sudah bergerak memasuki ibukota Kabupaten Yalimo, Elelim dengan berjalan kaki.

Tak peduli hujan ataupun panas, mereka tetap antusias memadati halaman kantor bupati Yalimo untuk menyaksikan Er Dabi dan Lakiyus Peyon dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo yang baru periode 2016 – 2021 oleh Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe.

Meski bakar batu menjadi momentum yang menggairahkan masyarakat, namun dalam event adat ini dapat kita pelajari nilai-nilai kehidupan seperti yang dijelaskan Wakil Bupati Yalimo, Lakiyus Peyon, di Elelim bahwa: 1) Bakar batu ini menjadi alat pemersatu seluruh warga masyarakat. 2) pada acara bakar batu kita bisa mempelajari nilai-nilai demokrasi seperti transparansi (keterbukaan).

Artinya, semua yang dilakukan terbuka di depan umum. Semua warga masyarakat mengetahui tujuan dan apa yang sedang dilakukan. Tidak ada yang disembunyikan. Jadi bakar batu mendorong mewujudkan sikap keterbukaan dari masyarakat. Akuntabilitas, maksudnya dalam momentum ini semua orang menunjukkan tanggung jawabnya terhadap apa yang dikerjakannya.

Perempuan lebih berperan dalam acara bakar batu menyambut pelantikan Er Dabi dan Lakius Peyon jadi Bupati dan Wakil Bupati Yalimo oleh Gubernur Papua Lukas Enembe di Elelim pada Jumat 15 Juli 2016 lalu. foto paskal keagop.

“Makanya kita dapat menyaksikan bagaimana warga mengambil tanggung jawabnya masing-masing dalam menyukseskan acara bakar batu ini. Ada yang susun batu, ada yang gali lubang, ada yang ambil alang-alang, ada yang panah babi, ada yang potong daging, ada yang mengatur sayuran dan umbi-umbian dan lain sebagainya”, jelas Lakius Peyon.

Nilai kerjasama. Acara bakar batu membutuhkan kerjasama untuk menyelesaikan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari awal sampai pada proses makan bersama. Semuanya membutuhkan kerjasama.

Nilai penerimaan. Dalam acara bakar batu, tidak ada penolakkan, yang ada adalah penerimaan. Satu dengan yang lain saling menerima dan makan sama-sama.

Nilai keadilan.Dalam penyajian makanan dalam acara bakar batu ini,semua orang akan makan makanan yang sama, semua orang merasakan hal yang sama, dan menikmati apa yang ada secara bersama-sama. Tidak ada perbedaan. Apalagi diskriminasi.

Nilai kejujuran.Dalamacara bakar batu, tidak ada kemunafikan, kabualan (kebohongan). Semuanya terbuka dan jujur. Misalnya, jumlah babi yang dipanah untuk dimakan bersama semuanya diumumkan secara terbuka, sehingga masyarakat yang hadir mengetahuinya.

Semangat Kebersamaan, acara bakar batu mempunyai keunikan yakni semangat kebersamaan. Pada acara ini, masyarakat sangat bersemangat, namun mereka tetap dalam kebersamaan.

Ketiga, bakar batu menjadi media yang baik untuk menyampaikan pesan-pesan moral dan pembangunan. Tentu saja jika hal ini dapat dikelola untuk tujuan yang mulia.

gabriel  maniagasi (elelim)

Membangun Kampung Adat Secara Swadaya

Pembentukan dan pengelolaan kampung adat di Kabupaten Jayapura dilakukan oleh masyarakat adat secara swadaya. Pemerintah hanya hadir dan memberi dukungan.  

.

Pengesahan Iwang dan Swen Samon jadi kampung adat oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw di Kampung Klaisu Distrik Gresi Selatan pada Senin 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

ATAS nama negara dan pemerintah Republik Indonesia, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw secara resmi mengesahkan dan mengakui Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat. Acara pengesahan dua kampung adat itu dilangsungkan di Kampung Klaisu Distrik Gresi Selatan pada, Senin 25 Juli lalu.

Suku Iwang dan Swen Samon memiliki sejarah sendiri dalam pengelolaan pemerintahan adat.   

Menurut ceritera masyarakat adat Demutru di wilayah Gresi Selatan, pemerintahan adat Suku Iwang dan Swen Samon sudah ada sebelum adanya pemerintahan modern di muka bumi ini.

Menurut mereka, awal pembentukan pemerintahan adat di wilayah itu bukan oleh manusia, melainkan oleh Sang Pencipta alam semesta sendiri, yang menyusun dan menyediakan tempat kemudian memberi kuasa kepada manusia di bumi untuk meneruskan pengelolaan tata pemerintahan untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Atas amanat Sang Pencipta itu pula, pemerintahan adat dikelola dari generasi ke generasi hingga kini.   

Pembacaan surat keputusan penetapan Kampung Iwang dan Swen Samin jadi kampung adat di Klaisu Distrik Gresi Selatan Kabupaten Jayapura. Senin, 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

Namun dalam perkembangan, nilai-nilai, aturan-aturan yang diterapkan selama itu dalam tata pengelolahan pemerintahan adat di Suku Iwang dan Swen Samon tergerus oleh masuknya budaya asing. Masuknya pemerintahan modern pun tidak pernah menghargai dan bahkan dengan serta-merta meniadakan eksistensi pemerintahan adat setempat selama puluhan tahun.

Sebagian masyarakat suku Iwang dan Swen Samon yang masih memegang teguh nilai-nilai adat merasa bahwa dunia ini hanya sama dengan lingkungan hidup di sekitar mereka. Ternyata dunia itu begitu luas dan berkembang sangat pesat. Kesadaran akan pentingnya pembangunan di bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan budaya pun muncul.

Akhirnya masyarakat adat Suku Iwang dan Swen Samon menyiapkan seluruh persyaratan secara swadaya untuk wilayah adat mereka ditetapkan menjadi sebuah kampung modern yang dikelola secara adat. Kepala pemerintahan adat atau kepala kampung adat dilantik oleh dikno atau ondoafi, tidak dilantik oleh bupati atau kepala distrik. Pemerintah hadir hanya menyaksikan dan memberi dukungan.  

Sebagai simbol ketertinggalan dan dimulainya pembangunan, acara pengesahan dan pengakuan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat serta pengambilan sumpah dan janji kepala kampung adat oleh dikno, diawali dengan pembukaan tempurung kelapa yang diletakkan terbalik di atas sebuah gundukkan tanah buatan di halaman Balai Kampung Persiapan Iwang oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw.

Tempurung kelapa yang diletakkan dengan posisi tertutup itu sebagai simbol bahwa masyarakat Suku Iwang dan Swen Samon di lembah Grime itu sangat tertinggal.

Kepala Kampung Iwang dilantik oleh Dikno Yonathan Wadi dan Kepala Kampung Swen Samon dilantik oleh Dikno Philipus Nasadit disaksikan oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw didampingi Ketua PKK Kabupaten Jayapura Magdalena Luturmas Awoitauw bersama Wakil Kapolres Jayapura, beberapa kepala SKPD, kepala Distrik Gresi Selatan serta para tokoh adat dan seluruh masyarakat Kampung Persiapan Iwang dan Swen Samon di Klaisu.   

Usai menyaksikan pelantikan Kepala Kampung Iwang dan Swen Samon oleh Dikno Yonathan Wadi dan Dikno Philipus Nasadit, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengatakan pengesahan dan pengakuan kampung adat ini merupakan inisiatif masyarakat sendiri.

Rencana acara pengesahan kedua kampung adat itu tertunda sebanyak dua kali dan baru bisa dilaksanakan pada Senin 25 Juli lalu. Penundaan itu terkait dengan penyesuaian waktu kerja pemerintah Kabupaten Jayapura.  

Selama persiapan, masyarakat Suku Iwang dan Swen Samon menggelar rapat-rapat secara rutin bersama para tokoh adat dan berkoordinasi dengan kampung-kampung tetangga untuk bagaimana acara penetapan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat bisa terwujud.

Inisiasi adat sebelum pengesahan Iwang dan Swen Samon jadi kampung adat di Distrik Gresi Selatan oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, pada Senin, 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

Masyarakat sangat senang dan antusias menyambut pengesahan dan pengakuan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat. Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat yang ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan di halaman Balai Kampung Persiapan Iwang di Klaisu.

Tarian dan lagu-lagu adat mengiringi sepanjang acara pengesahan dan pengakuan kampung adat serta pengambilan sumpah dan janji dua kepala kampung oleh dikno Iwang dan dikno Swen Samon. Dalam acara itu Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dan dua tokoh masyarakat Klaisu diusung kelompok tarian adat keliling halaman Balai Kampung Persiapan Iwang.

Mathius Awoitauw mengatakan pengesahan dan pengakuan kampung adat merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat adat di wilayah adat Demutru Distrik Gresi Selatan, karena mereka bisa mendapatkan hak-haknya yang selama ini tidak pernah dihargai.

Kampung-kampung adat yang baru disahkan itu akan dikelola secara adat. Pengukuhan dan pengangkatan kepala kampung adat dilakukan sesuai dengan adat-istiadat Suku Iwang dan Swen Samon. Pemerintah datang menyaksikan saja dan memberikan pengakuan. Hal yang sama juga terjadi di beberapa kampung lain.

Bupati Jayapura berharap, pengelolaan kampung-kampung adat dilakukan secara adat oleh masyarakat adat Suku Iwang dan Swen Samon. Kampung adat memiliki sumberdaya yang cukup, sehingga pemerintah hanya hadir memberikan dukungan-dukungan seperlunya saja.

“Saya harap kampung-kampung adat ini dikelola secara swadaya dan diharapkan tampil dengan kekhasan budaya masing-masing. Mereka terbuka dan bersedia untuk menerima pembangunan agar tampil dalam pembangunan. Mudah-mudahan semangat ini terus kita dorong untuk menjadi kekuatan bagaimana persoalan percepatan pembangunan di tempat ini bisa teratasi”, harap Mathius Awoitauw di Klaisu.

paskalis keagop