MERENCANAKAN GEOMETRI JALAN

Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pekerjaan Umum Yalimo,

Yan Ukago

Setelah Kabupaten Yalimo terbentuk, barulah pengerjaan jalan tembus ke Elelim digenjot.

KABUPATEN Yalimo dibentuk bersamaan dengan Kabupaten Mamberamo Tengah dan Lanny Jaya. Sewaktu masih di bawah Kabupaten Jayawijaya, wilayah ini hanya meliputi dua distrik, yakni Distrik Abenaho dan Apalapsili. Wilayah-wilayah lain di balik gunung masuk Kabupaten Yahukimo.

Tapi kemudian Kementerian Dalam Negeri mempersyaratkan bahwa untuk membentuk kabupaten baru wilayah-wilayah cakupan harus meliputi lima distrik. Maka di bentuk lagi distrik Welarek (ke arah Yahukimo), Elelim (menjadi ibu kota). Wilayahnya ini sebelumnya hutan tak berpenduduk, selain kelompok-kelompok suku yang mengungsi ke sini saat bencana Kurima dulu. Mereka dipindahkan ke ujung lapangan terbang. Mereka kemudian mengembangkan beberapa jenis tanaman, antara lain, durian, dengan bantuan bibit dari Kementerian Pertanian. Hasilnya cukup bagus, karena tanah di sini mendukung.

Kepala Dinas Penataan Ruang dan Pekerjaan Umum Kabupaten Yalimo, Yan Ukago menjelaskan peta jalan yang akan dibangun di Yalimo kepada Gabriel Maniagasi dari Tabloid Suara Perempuan Papua. foto Paskal Keagop.

Setelah Kabupaten Yalimo terbentuk, masalah berikut adalah distrik mana yang akan dipilih sebagai tempat kedudukan ibu kota? Ada yang usulkan Distrik Abenaho, ada yang Apalapsili, ada yang Welarek, ada pula yang mengajukan Distrik Benawa. Masing-masing dengan alasan dan pertimbangan sendiri.

Akhirnya, Distrik Elelim yang dipilih sebagai pusat ibu kota kabupaten.  Distrik ini berada di ketinggian 430 meter dari permukaan laut. Jaraknya dari Jayapura 455 kilometer. Elelim terletak di tengah Wemena-Jayapura yang berjarak 585 kilometer. Jarak Elelim-Wamena 130 kilometer. Sebelum pemekaran, belum ada jalan darat, perjalanan hanya dilakukan lewat udara.

Bandara perintis di Yalimo ada di Pasvalley, Apalapsili, Landikma, Welarek dan Elelim (sejak 1992), Benawa, Ubikisi (dibangun masyarakat secara swadaya).

Ini menunjukkan, distribusi barang dan jasa lebih banyak dilakukan melalui udara.  Tapi dari Wamena, tidak ada penerbangan tetap (terjadwal).

Kalau ada orang sakit yang hendak dibawa keluar untuk berobat, harus menyewa pesawat perintis. Biayanya sangat mahal. Jalan utama yang ada saat ini adalah Trans Papua. Sebelum Kabupaten Yalimo terbentuk, jalan darat hanya sampai di Abenaho. Jalan yang pernah dibuka, sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan. Karena ada lapangan terbang di Pasvalley, jalan darat sampai Abenaho bisa dipelihara. Penerbangan dari Wamena-Lanny Jaya atau Wamena-Karubaga dilakukan via Pasvalley.

Ruas Jalan Trans Irian antara Wamena dan Elelim yang belum diaspal. foto Paskal Keagop.

Setelah Kabupaten Yalimo terbentuk dan Elelim menjadi pusat ibu kota, barulah pengerjaan jalan tembus ke Elelim ditingkatkan, karena intensitas warga yang bepergian dan aktivitas ekonomi. Jalan diaspal, jembatan beton mulai digarap. Infrastruktur jalan mulai digenjot di era Bupat Er Dabi. Hingga sekarang, sekitar 80 persen jalan tembus Wamena-Elelim sudah rampung.

Sejumlah ruas jalan mulai dikerjakan sejak 2008. Antara lain, ke Apalapsili, Welarek.  Sekarang dituntaskan sisanya; rencana tahun ini (2018) diselesaikan.

Tapi, jalan tembus dari Elelim ke Benawa merupakan “proyek cepat” dari Presiden Joko Widodo (bagian dari jalan Trans Papua). Jalan ini sudah duji coba dengan kendaraan roda dua. Sebanyak 28 motor melintasinya. Namun, kendaraan lain belum. Mungkin Desember (2018), sudah bisa.

Jadi, ruas Jalan Trans Papua dari Elelim ke Benawa, diperluas. Ke Distrik Welarek, kurang-lebih, delapan kiometer sudah dicapai. Dibangun dari dua arah,  terus ke Apalapsili. Tinggal dua kilometer lagi. Tahun ini dibuka bagian ke Abenaho: ruas jalan nasional.

Satu wilayah datar yang cukup luas di sekitar Sungai Mamberamo, rencananya mau dikembangkan sebagai kawasan pertanian bersama potensi lainnya di situ. Pemerintah juga sedang membuka jalan dari Elelim. Sudah dapat empat kilometer, mungkin tahun ini dicapai dua kilometer lagi.

Program bupati yang baru (Lakius Peyon) adalah penerapan sistem kluster yang rencana dimulai akhir tahun ini. Bupati berencana mendaratkan alat-alat berat di sekitar 12 titik. Belajar dari Benawa, Pasvalley dan Elelim. Kalau ada alat-alat berat, masyarakat bisa menyewa untuk keperluan membangun kampung. Mereka bisa menyewa dengan dana kampung.

Diawasi Dinas Pekerjaan Umum (PU), program dari dana kampung yang terkait dengan infrastruktur bisa dikerjakan masyarakat sendiri dengan menyewa alat berat. Pemerintah siapkan bahan bakar. Ini salah satu yang akan masuk dalam Perda.

Dua kampung sudah menerapkan cara ini. Rencana mulai 2019, alat-alat berat didatangkan.

PU bertugas merencanakan geometri jalan. Kalau ada kampung yang mau melakukan itu, PU tinggal menghitung volume pekerjaan dan biaya. Hasilnya disampakan ke kampung bersangkutan. Biayanya lebih murah, sekitar 5 sampai 6 kali di bawah biaya pemerintah.

Kalau jalan, itu kan ada jalan nasional yang menghubungan satu provinsi dengan provinsi lainnya. Jalan nasional dibiayai oleh pemerintah pusat, seperti jalan dari Jayapura-Wamena (Trans Papua). Ada jalan provinsi yang menghubungkan satu kabupaten dengan kabupaten lain. Berikutnya, jalan kabupaten, yakni jalan dari satu distrik ke distrik dan antarkampung.

Jalan kampung inilah yang dibangun pemerintah kabupaten. Pemerintah kabupaten hanya menyiapkan alat-alat berat dan bahan bakar. Kalau ada kepala kampung yang berhasil membangun kampungnya dengan dana kampung, ia berhak mendapat penghargaan dari bupati. Misalnya, membikin kolam ikan dengan alat berat. Di daerah pegunungan, rata-rata harga sewa alat berat per hari Rp 14 juta. Untuk menggusur jalan, kalau di area yang bagus, alat berat bisa mencapai 150 meter per hari, sedangkan di area pegunungan hanya 60 meter. Kendala utama lainnya di sini adalah perlunya jembatan gantung untuk jalan-jalan kampung.

paskalis keagop, gabriel maniagasi, joost mirino, alfonsa wayap

SEPULUH TAHUN KABUPATEN YALIMO

Usia Kabupaten Yalimo telah memasuki 10 tahun. Syukuran ulang tahunnya dirayakan pada 21 Juni 2018 lalu di halaman kantor bupati di Elelim. Banyak tokoh dan masyarakat Yalimo hadir mengucap syukur kepada Sang Pencipta.   

Bupati Yalimo Lakius Peyon memimpin pemotongan kue usai ibadah syukuran ulang tahun ke-10 Kabupaten Yalimo, pada 21 Juni 2018 di Elelim. foto Paskal Keagop

TAK terasa, Kabupaten Yalimo telah berusia 10 tahun. Dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya melalui Udang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2008. Pemerintahan sementara mulai berjalan sejak 2008 hingga Juni 2010. Dan pemerintahan definitif terbentuk setelah terpilihnya anggota DPRD pertama melalui Pemilu legislatif 2009 serta terpilihnya bupati dan wakil bupati pertama dalam Pilkada Juli 2010.

Untuk pertama kalinya, rakyat Kabupaten Yalimo memilih secara langsung Er Dabi dan Arkelas Asso menjadi Bupati dan Wakil Bupati pertama dalam pemilihan kepala daerah yang digelar bulan Juli 2010. Pasangan bupati dan wakil bupati pertama itu dilantik oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu pada 11 Juni 2011 di Elelim untuk memimpin rakyat Yalimo selama lima tahun: 2011 – 2016.

Selain memiliki anggota DPRD, bupati dan wakil bupati, terbentuk juga 35 organisasi perangkat daerah dilengkapi dengan para pegawainya. Sekaligus dilakukan pembangunan kantor bupati, kantor-kantor OPD, kantor DPRD, dan perumahan pegawai. Kebutuhan operasional pemerintahan mulai diadakan secara bertahap selama 10 tahun.   

 Sejak 11 Juni 2011, rakyat Yalimo memiliki pemerintahan sendiri secara definitif, dan melepaskan ketergantungan pelayanan dari pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk selamanya.  

Banyak suka-duka yang dialami para tokoh intelektual dan masyarakat Yalimo untuk membentuk pemerintahan sendiri terpisah dari Jayawijaya sebagai Kabupaten induk.

Sebelum tahun 2008, Yalimo adalah sebuah wilayah terpencil yang masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Jayawijaya, dan dimekarkan menjadi kabupaten sendiri pada 2008. Dan hingga 21 Juni 2018 lalu, Kabupaten Yalimo berusia 10 tahun.

Kondisi pembangunan di wilayah Yalimo sebelum pemekaran sangat tertinggal. Tidak pernah ada perhatian sama sekali oleh pemerintah. Hanya ada dua gereja yang berperan dalam membangun masyarakat Yalimo hingga wilayah itu dimekarkan menjadi kabupaten sendiri terpisah dari Kabupaten Jayawijaya.

Yalimo berada di lembah gunung-gunung yang mengelilinginya. Wilayahnya terletak di antara empat Kabupaten: Jayawijaya, Yahukimo, Jayapura dan Mamberamo Tengah. Wilayah Suku Yali itu dibiarkan nyaris dipecah-pecah masuk ke dalam wilayah tiga kabupaten terdekat: Jayawijaya, Yahukimo dan Mamberamo Tengah. 

Tapi beberapa tokoh Suku Yali yang tersebar di Wamena, Jayapura dan Yahukimo bergerak cepat menyikapi situasi pemekaran daerah-daerah otonom baru dan menggelar rapat akbar bersama seluruh masyarakat Suku Yali, pada 18 Juni 2003.

Dalam rapat itu membahas satu agenda: “apakah masyarakat Yali terbagi masuk ke Kabupaten Jayawijaya, Yahukimo, dan Kabupaten Mamberamo Tengah ataukah membentuk kabupaten sendiri”. Gayung pun bersambut. Semua sepakat membentuk kabupaten sendiri!

Rapat akbar 18 Juni itu menjadi tonggak awal perjuangan pembentukan Yalimo menjadi daerah otonom baru terpisah dari kabupaten lain. Dalam rapat itu semua sepakat mengangkat Er Dabi menjadi Ketua Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Yalimo.

“Kalau kita tidak begitu, kita orang Yali akan tetap tertinggal dari suku-suku lain di Papua. Sebab pembangunan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Jayawijaya waktu itu tidak merata ke semua wilayah. Mereka hanya perhatikan wilayah-wilayah tertentu saja. Semenatara wilayah Suku Yali sama sekali tidak pernah diperhatikan”, ujar Er Dabi, Ketua Tim Sukses Pemekaran Kabupaten Yalimo yang diwawancarai Paskalis Keagop dari Tabloid Suara Perempuan Papua di Hamadi, Jayapura, Kamis, 23 Juni 2016 lalu.

Kini usia Yalimo menjadi kabupaten sudah 10 tahun, pada 21 Juni 2018. Terkait dengan itu, Tim Tabloid Suara Perempuan Papua turut menghadiri syukuran hari ulang tahun, sekaligus meliput pembangunan yang telah dicapai Pemerintah Kabupaten Yalimo sejak 21 Juni 2008 sampai 21 Juni 2018.

Memang usia 10 tahun itu masih terlalu muda untuk mengukur kemajuan pembangunan Yalimo di berbagai bidang. Tapi paling tidak dalam kurun 10 tahun itu sudah banyak hal mendasar yang telah diletakkan pemerintah Kabupaten Yalimo untuk membangun: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi, pemerintahan, sumberdaya manusia, dan lainnya.

Dalam kurun 10 tahun itu, sudah banyak anak Yali yang bersekolah di berbagai jenjang pendidikan tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Ada sebagian wilayah distrik dan kampung yang bisa dilalui dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Jalan Trans Papua dari Jayapura ke Elelim dan selanjutnya ke Wamena juga sudah terhubung, sehingga masyarakat mulai melintasi jalan itu dengan kendaraan roda empat.

Aparat sipil negara mengikuti upacara HUT ke-10 Kabupaten Yalimo di halaman kantor bupati Yalimo di Elelim, pada 21 Juni 2018. foto Paskal Keagop.

Pusat-pusat pelayanan kesehatan tersedia secara merata di distrik dan kampung. Rumah sakit daerah sedang dalam proses pembangunan. Pelayanan pemerintahan menjangkau ke lima distrik dan 300 kampung. Listrik milik penerangan listrik negara juga sudah menerangi Elelim, ibukota Kabupaten Yalimo. Pemerintah daerah juga mulai membuka pusat-pusat pembangunan di beberapa titik untuk mempercepat penerobosan isolasi antarkampung, distrik dan kabupaten.   

“Kabupaten Yalimo baru 10 tahun. Pembangunan di semua bidang kita sedang programkan dan kerjakan. Karena kabupaten baru jadi kita tidak bisa cepat maju karena masih banyak kendala. Tapi percayalah Yalimo akan lebih maju di waktu yang akan datang. Tapi kita harus bersyukur dengan apa yang telah kita capai dalam waktu 10 tahun ini”, ujar Kepala Bappeda Yalimo, Isak Yando, saat ditemui  di ruang kerjanya, Kamis 21 Juni 2018 lalu.

Ibadah syukuran sepuluh tahun Kabupaten Yalimo dirayakan dengan tema: “Bersatu Mewujudkan Yalimo yang Mandiri, Berdaya Saing dan Sejahtera”, dan sub tema: “Dengan HUT ke-10 Kita Menjalin Kekuatan dan Integritas yang Tinggi Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik”.

Perjalanan liputan Tim Tabloid Suara Perempuan Papua sebanyak empat wartawan dari Jayapura ke Yalimo dilakukan pada Selasa, 19 Juni melalui Wamena menumpang Pesawat Wings Air.

Dari Wamena perjalanan dilanjutkan ke Elelim menggunakan mobil melintasi Jalan Trans Irian sejauh 130 kilometer selama lima jam. Tiba di Elelim, ibukota Kabupaten Yalimo pukul 19.37 malam.

Jalan Trans Irian dari Jayapura ke Wamena berjarak 557 kilometer. Dari jarak itu, 416 kilometer sudah dibangun, dan masih tersisa 141 kilometer yang sedang dalam proses pengerjaan. Tapi kondisi jalan trans hingga November 2018, banyak orang pergi-pulang Jayapura-Wamena menggunakan kendaraan roda empat.

Pusat pemerintahan Kabupaten Yalimo, berada di kilometer 130 dari Wamena. Ruas jalan trans yang telah diaspal dari Wamena ke Elelim baru sampai di Kampung Pasfale, dan selanjutnya sampai di Elelim belum diaspal.

Begitupun ruas jalan dari Jayapura ke Elelim yang telah diaspal baru sampai di kilometer 230, dan selanjutnya sampai di Elelim belum diaspal.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengatakan Jalan Trans Irian Jayapura-Wamena akan selesai dibangun pada tahun 2019.

Liputan sepuluh tahun Yalimo selama tiga hari dan tim kembali ke Jayapura pada 23 Juni 2018 lalu.

paskalis keagop, gabriel maniagasi, joost mirino, alfonsa wayap