Surat untuk Orang Papua

Saya pulang dengan keyakinan bahwa, tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang memiliki kepentingan politik atas segala kekayaan dari hasil tanah itu.

Tetapi, mereka tidak akan membangun manusia Papua dengan kasih sayang. Sebab, kebenaran dari keadilan akan diputarbalikan.

Sebab banyak hal baru yang akan membuat orang Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan. Tetapi itu keinginan manusia.

(Izak S. Kijne)

PESAN HARI KEBANGKITAN MASYARAKAT ADAT

Ada dua pesan penting yang disampaikan Pendeta Robby Depondoye dan Theo Yepese pada syukuran ulang tahun kelima kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura, pada 24 Oktober 2018 di Lapangan Mandala Nimboran.

Pendeta Robby Depondoye dan Theo Yepese, yang membawakan acara pada ulang tahun kebangkitan masyarakat adat di Lapangan Mandala Nimboran, pada 24 Oktober 2018. foto Paskal Keagop.

BACAAN Injil yang dibawakan Pendeta Robby Depondoye dalam ibadah syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura, pada 24 Oktober 2018 di Lapangan Mandala Nimboran diambil dari Kitab Yosua 1: 8-9 “janganlah engku lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”.

Kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura adalah sebuah peristiwa penting atas hak kehidupan masyarakat asli Kabupaten Jayapura. “Masyarakat adat ada bukan atas kehendak kita, tapi atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa”, ujar Pendeta Robby Depondoye.

Masyarakat Lembah Grime memadati Lapangan Mandala Nimboran pada HUT kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura, 24 Oktober 2018. foto Paskal Keagop.

Diakhir kotbahnya, Robby Depondoye mengutip surat terakhir Pendeta Izak Samuel Kijne untuk orang Papua sebelum pulang ke negerinya.

Dan sebelum mengakhiri ibadah syukur, Pimpinan Sanggar Honong Waena Theo Yepese membawakan sebuah fragmen di tengah Lapangan Mandala Nimboran.  

paskalis keagop