HAK-HAK MASYARAKAT PRIBUMI SEBAGIAN BESAR TELAH HABIS

Pendeta Robby Depondoye. foto Paskal Keagop

TANAH dan hutan adalah harta warisan leluhur yang harus dijaga untuk generasi yang akan datang. Berapa jumlah penduduk asli dan berapa luas tanah adat milik masyarakat asli Kabupaten Jayapura yang masih tersisa? “Masyarakat adat tidak pernah tahu. Kalau mereka tahu, pasti akan timbul rasa keprihatinan untuk masyarakat adat tidak menjual tanah-tanah mereka”.

Hal itu disampaikan Pendeta Robby Depondoye, yang memimpin ibadah syukur kelima kebangkitan masyarakat adat di Lapangan Mandala Nimboran, Rabu 24 Oktober 2018 lalu.

Apa makna perayaan lima tahun kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura? Berikut petikan wawancara Paskalis Keagop dari Tabloid Suara Perempuan Papua dengan Robby Depondoye usai ibadah syukuran.

Apa makna perayaan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat hari ini?

Makna kebangkitan masyarakat adat hari ini, pertama, kita patut mengakui bahwa dari sisi populasi masyarakat asli di Kabupaten Jayapura, jumlahnya berada di bawah dari setengah penduduk Kabupaten Jayapura, hanya sekira 44 persen.

Kedua, hak-hak masyarakat pribumi, masyarakat adat sebagian besar telah habis. Dusun-dusun sagu, dusun pinang, dusun kelapa sekarang telah berubah menjadi KPR-KPR.

Secara khusus di wilayah pusat pemerintahan Kabupaten Jayapura, lahannya semakin sempit. Itu realita yang terjadi sekarang. Pesan bupati tadi mengenai masyarakat adat tidak melepas tanah adat itu sangat penting.

Pesan itu adalah salah satu cara untuk melakukan tindakan penyelamatan. Itu adalah sebuah cara bagi masyarakat adat untuk bisa bangkit mengenal dirinya dan mengetahui keberadaannya.

Saya melihat selama ini, bagian ini sepertinya tidak diberitahukan secara jelas kepada komunitas masyarakat adat di Kabupaten Jayapura mengenai ada berapa banyak kamu, dan berapa banyak lahanmu yang sudah habis. Ini mereka belum tahu.

Kalau mereka tahu, pasti mereka punya keprihatinan. Dan pasti akan melakukan bagaimana cara untuk mempertahankan hak-hak mereka.  

Penyadaran-penyadaran semacam itu yang harus dibuat, supaya orang jangan karena sebuah kenikmatan sesaat mengorbankan hak warisan leluhur untuk anak generasi yang akan datang. 

Saya berharap melalui peringatan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat ini, adat-adat di setiap kampung, para pemangku adat akan memiliki rancangan, memiliki rencana penataan ruang adatnya, paling tidak hak-hak mereka, lingkungan mereka bisa menata dengan baik.

Mereka bisa menata mana lahan-lahan yang bisa disiapkan sebagai lahan pertanian bersama, mana lahan-lahan yang kedepan akan digunakan untuk membangun fasilitas umum, dengan demikian tanah tidak dijual sembarang. Dengan perencanaan seperti itu, mereka bisa memprediksikan bagaimana generasi 20 tahun mendatang akan ada dimana?

Saya harap HUT kelima kebangkitan masyarakat adat 2018 ini, ada sebuah kebangkitan kesadaran dari setiap anak adat berdasarkan berbagai kondisi kehidupan masyarakat asli di Kabupaten Jayapuara selama ini.

Bacaan yang diambil dalam ibadah syukuran hari ini, dasarnya apa?

Bacaan Injil diambil dari Yosua 1: 8–9. Ini adalah sebuah pesan yang disampaikan, sebuah peringatan Tuhan kepada Yosua sebagai pemimpin baru. Alasannya, arah pemimpin yang sekarang sebagai pemangku adat adalah generasi baru, generasi yang lama telah pergi.

Setiap generasi baru pasti selalu punya argumen dan statemen yang berbeda, yang kadang-kadang merombak apa yang telah ditetapkan oleh generasi terdahulu.

Kadang perjanjian yang dibuat dilanggar. Sehingga bagian ini mau mengingatkan bahwa, hukum Tuhan itu selalu diucapkan, menjadi bahan percakapkan, dia merenungkan itu, kemudian dia bertindak berdasarkan itu, maka dia pasti berhasil dan beruntung.

Kitab Yosua itu mau mengajak kembali masyarakat adat untuk melihat tatanan adat yang ada untuk bagaimana bisa dipertahankan, hukum-hukum adat yang ada itu bagaimana bisa ditegakkan. Karena hukum adat itu, pasti lahir dari kerjasama Tuhan dengan orang terdahulu melalui hati nurani.

Itu yang menjadi inspirasi mengapa bacaan Injil Yosua 1: 8-9 ini disampaikan pada ibadah syukur HUT kelima kebangkitan masyarakat adat hari ini. Supaya mereka mengingat bahwa mereka hanya meneruskan apa yang pernah diletakkan oleh generasi terdahulu, maka mereka tidak perlu merombak. Tapi hanya membenahi atau menyempurnakan apa yang kurang.

Tuhan punya hukum, dan masyarakat adat juga punya hukum sendiri, dan secara struktur, masyarakat adat menempatkan Tuhan berada pada posisi paling atas. Sehingga, apakah hukum Tuhan dan hukum adat selama ini berjalan beriringan?

Sesungguhnya hukum adat mengajarkan tentang bagaimana kerukunan hidup, juga mengajarkan tentang larangan-larangan yang ada di dalam hukum adat. Hukum adat sebenarnya relevan dengan hukum Tuhan.

Mengapa? karena dia mengajar tentang hal-hal yang positif dan baik. Sementara hal-hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan itu adalah bagian yang berhubungan dengan bagaimana bermusuhan dengan orang lain, bagaimana merugikan, itu juga menjadi bagian yang dilarang oleh hukum Tuhan, dan juga dilarang oleh hukum adat.

Tidak semua hukum adat itu selaras dengan hukum Tuhan. Hukum Tuhan adalah panglima, dan dia adalah terang, dia adalah cahaya, dan dia adalah korektor terhadap hukum adat.

Apa alasan HUT ke-5 masyarakat adat 2018 dirayakan di Nimboran?

Saya tidak tahu apa alasannya. Tapi saya melihat bahwa peradaban orang Tabi sejak 1924 itu dimulai dari Lembah Grime. Ketika orang-orang di sini sudah siap untuk mencari terang itu, ternyata para Zendeling datang, dan mereka memberi tempat, dan akhirnya berdirilah sekolah gadis, dan SGB (sekolah guru) di Nimboran.

Dari sinilah para Zendeling membagikan guru-guru ke seluruh wilayah Tanah Tabi. Bukan dari Jayapura, atau dulunya disebut Hollandia. Tidak. tapi dari Nimboran.

Maka tepat perayaan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat diadakan di Nimboran. Budaya Papua simbolnya 5. Di setiap kampung, di setiap rumpun wilayah pasti ada ondoafinya 5. Di setiap ondoafi pasti ada 5 kepala sukunya. Di setiap kepala suku pasti ada 5 orang aho-nya. Maka, 5 itu adalah angka sempurna dalam bilangan adat.

Dan karena itu, tepat Nimboran menjadi tempat perayaan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat. Nimboran di Lembah Grime adalah pusat peradaban orang Tabi.

Saya berharap dengan perayaan HUT kelima ini, akan menolong Nimboran untuk bangkit lagi menemukan kejayaan dan jati dirinya yang telah hilang dalam beberapa waktu ini.

Apa kaitan pesan Yosua 1: 8-9 dengan surat Pendeta Izak Samuel Kijne bagi masyarakat adat di Kabupaten Jayapura?

Surat Izak Samuel Kijne adalah sebuah catatan sejarah tentang bagaimana keadaan yang akan dialami oleh orang Papua, bahwa memang benar bahwa Papua sejak dahulu telah menjadi perempuan cantik, dia bukan hanya rebutan orang-orang tertentu, tapi Papua menjadi rebutan dunia.

Akibat dari perebutan Papua itu, maka terjadilah perjanjian-perjanjian yang pada akhirnya merugikan orang Papua sendiri. Itu adalah surat terakhir Izak yang dia tulis untuk orang Papua sebelum dia meninggalkan Papua.

Apa harapan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat hari ini?

Saya berharap lima tahun ke depan bahwa: 1) Pemerintah Kabupaten Jayapura dan pemerintah RI harus memberikan pengakuan terhadap berdirinya kampung-kampung adat untuk beroperasi. Legal standingnya harus dikeluarkan. Karena dengan itu adat di Papua bisa menjadi kuat.

Kedua, saya berharap pemerintah Provinsi Papua maupun pemerintah kabupaten dan kota di Tanah Papua harus serius memperjuangkan hak-hak komunitas masyarakat adat. 

Ketiga, saya berharap saudara-saudara lain dari luar yang datang ke Papua, tolong menjaga, menghormati hak kesulungan dari orang Papua sebagai anak negeri, dan marilah kita hidup bersama dengan baik. 4) Dengan kebangkitan masyarakat adat ini, anak-anak adat Papua mari melihat saudara-saudaramu dan memperlakukan mereka sebagai saudaramu sendiri.

Supaya mereka juga terlibat dalam pembangunan Tanah Papua sebagai bagian dari warga negara Republik Indonesia. Mereka pun menyumbangkan apapun yang ada pada mereka untuk kemajuan Tanah Papua. Sebab kita tidak pernah minta untuk menjadi orang Papua, kita sekarang sebagai orang Papua adalah anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa.

paskalis keagop

Fragmen Sanggar Honong

Diam….aku muak mendengar musikmu

Aku bosan mendengar nyanyianmu

Tidurlah….dan bermimpi….

Kelompok Tari Sanggar Honong Waena Pimpinan Theo Yepese yang menghibur masyarakat Lembah Grime saat perayaan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura di Lapangan Mandala Nimboran, pada 24 Oktober 2018. foto Paskal Keagop.

Ketika Gereja, hamba Tuhan, Firman Tuhan, dan agama mulai terasa tawar bagimu, ketahuilah bahwa kamu sedang mati temanku.

Ketika budaya, adat-istiadat, bahasa daerah mulai terasa kuno, ketinggalan zaman, kamu sedang mati kawan.

Ketika tanahmu diambil, hutanmu dieksploitasi, gunungmu ditambang sampai habis dan kamu merasa masa bodoh aah, kamu sedang mati kawan.

Yokari: kampung penuh semangat, tapi sayang tak dapat menentang gelombang kehidupan.

Yowari: kampung kehidupan, jauh di balik gunung suaranya kadang terdengar, kadang sayup-sayup.

Tepera Yewena Yosu: negeri berbatu-batu, tetapi sayang penuh dengan keluh kesah.

Moi: sesuai dengan namamu, engkau di belakang tetapi bukan terbelakang.

Imbi Numbai: kau bagaikan mercusuar bagi kapal-kapal di lautan, tapi bagaimana jika engkau tidak bercahaya.

Oktim: kau penjaga batas tanah ini, tapi kau sering pergi tanpa alasan yang tepat.

Elseng: kau di Selatan, semangatmu sering berapi-api, tapi panas juga tidak, dingin juga tidak.

Demutru: kau wajah dari lembah ini, bagaimana jika mukamu muram.

Phuyakha: yang berdiam di atas air, filosofi halei narei, budaya menjaga dan memelihara semangat melekat di jiwamu, tapi mengapa sering ada kesusahan.

Bangkitlah……….

Tanggalkan topeng kepura-puraan

Bukalah matamu dan hiduplah bukan untuk melakukan apapun,

tetapi lakukan sesuatu untuk kemanusiaanmu dan bagi surga kecil di negri ini

Murunglah seluruh alam

Bersatulah……

dan hidup untuk negeri ini

sampai ada perubahan.

Lembah Grime. Rabu, 24 Oktober 2018

Hari Kebangkitan Masyarakat Adat V Kabupaten Jayapura

paskalis keagop