Membangun Kampung Adat Secara Swadaya

Pembentukan dan pengelolaan kampung adat di Kabupaten Jayapura dilakukan oleh masyarakat adat secara swadaya. Pemerintah hanya hadir dan memberi dukungan.  

.

Pengesahan Iwang dan Swen Samon jadi kampung adat oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw di Kampung Klaisu Distrik Gresi Selatan pada Senin 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

ATAS nama negara dan pemerintah Republik Indonesia, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw secara resmi mengesahkan dan mengakui Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat. Acara pengesahan dua kampung adat itu dilangsungkan di Kampung Klaisu Distrik Gresi Selatan pada, Senin 25 Juli lalu.

Suku Iwang dan Swen Samon memiliki sejarah sendiri dalam pengelolaan pemerintahan adat.   

Menurut ceritera masyarakat adat Demutru di wilayah Gresi Selatan, pemerintahan adat Suku Iwang dan Swen Samon sudah ada sebelum adanya pemerintahan modern di muka bumi ini.

Menurut mereka, awal pembentukan pemerintahan adat di wilayah itu bukan oleh manusia, melainkan oleh Sang Pencipta alam semesta sendiri, yang menyusun dan menyediakan tempat kemudian memberi kuasa kepada manusia di bumi untuk meneruskan pengelolaan tata pemerintahan untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Atas amanat Sang Pencipta itu pula, pemerintahan adat dikelola dari generasi ke generasi hingga kini.   

Pembacaan surat keputusan penetapan Kampung Iwang dan Swen Samin jadi kampung adat di Klaisu Distrik Gresi Selatan Kabupaten Jayapura. Senin, 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

Namun dalam perkembangan, nilai-nilai, aturan-aturan yang diterapkan selama itu dalam tata pengelolahan pemerintahan adat di Suku Iwang dan Swen Samon tergerus oleh masuknya budaya asing. Masuknya pemerintahan modern pun tidak pernah menghargai dan bahkan dengan serta-merta meniadakan eksistensi pemerintahan adat setempat selama puluhan tahun.

Sebagian masyarakat suku Iwang dan Swen Samon yang masih memegang teguh nilai-nilai adat merasa bahwa dunia ini hanya sama dengan lingkungan hidup di sekitar mereka. Ternyata dunia itu begitu luas dan berkembang sangat pesat. Kesadaran akan pentingnya pembangunan di bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial dan budaya pun muncul.

Akhirnya masyarakat adat Suku Iwang dan Swen Samon menyiapkan seluruh persyaratan secara swadaya untuk wilayah adat mereka ditetapkan menjadi sebuah kampung modern yang dikelola secara adat. Kepala pemerintahan adat atau kepala kampung adat dilantik oleh dikno atau ondoafi, tidak dilantik oleh bupati atau kepala distrik. Pemerintah hadir hanya menyaksikan dan memberi dukungan.  

Sebagai simbol ketertinggalan dan dimulainya pembangunan, acara pengesahan dan pengakuan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat serta pengambilan sumpah dan janji kepala kampung adat oleh dikno, diawali dengan pembukaan tempurung kelapa yang diletakkan terbalik di atas sebuah gundukkan tanah buatan di halaman Balai Kampung Persiapan Iwang oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw.

Tempurung kelapa yang diletakkan dengan posisi tertutup itu sebagai simbol bahwa masyarakat Suku Iwang dan Swen Samon di lembah Grime itu sangat tertinggal.

Kepala Kampung Iwang dilantik oleh Dikno Yonathan Wadi dan Kepala Kampung Swen Samon dilantik oleh Dikno Philipus Nasadit disaksikan oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw didampingi Ketua PKK Kabupaten Jayapura Magdalena Luturmas Awoitauw bersama Wakil Kapolres Jayapura, beberapa kepala SKPD, kepala Distrik Gresi Selatan serta para tokoh adat dan seluruh masyarakat Kampung Persiapan Iwang dan Swen Samon di Klaisu.   

Usai menyaksikan pelantikan Kepala Kampung Iwang dan Swen Samon oleh Dikno Yonathan Wadi dan Dikno Philipus Nasadit, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw mengatakan pengesahan dan pengakuan kampung adat ini merupakan inisiatif masyarakat sendiri.

Rencana acara pengesahan kedua kampung adat itu tertunda sebanyak dua kali dan baru bisa dilaksanakan pada Senin 25 Juli lalu. Penundaan itu terkait dengan penyesuaian waktu kerja pemerintah Kabupaten Jayapura.  

Selama persiapan, masyarakat Suku Iwang dan Swen Samon menggelar rapat-rapat secara rutin bersama para tokoh adat dan berkoordinasi dengan kampung-kampung tetangga untuk bagaimana acara penetapan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat bisa terwujud.

Inisiasi adat sebelum pengesahan Iwang dan Swen Samon jadi kampung adat di Distrik Gresi Selatan oleh Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, pada Senin, 25 Juli 2016. foto paskal keagop.

Masyarakat sangat senang dan antusias menyambut pengesahan dan pengakuan Iwang dan Swen Samon menjadi Kampung Adat. Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat yang ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan di halaman Balai Kampung Persiapan Iwang di Klaisu.

Tarian dan lagu-lagu adat mengiringi sepanjang acara pengesahan dan pengakuan kampung adat serta pengambilan sumpah dan janji dua kepala kampung oleh dikno Iwang dan dikno Swen Samon. Dalam acara itu Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dan dua tokoh masyarakat Klaisu diusung kelompok tarian adat keliling halaman Balai Kampung Persiapan Iwang.

Mathius Awoitauw mengatakan pengesahan dan pengakuan kampung adat merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat adat di wilayah adat Demutru Distrik Gresi Selatan, karena mereka bisa mendapatkan hak-haknya yang selama ini tidak pernah dihargai.

Kampung-kampung adat yang baru disahkan itu akan dikelola secara adat. Pengukuhan dan pengangkatan kepala kampung adat dilakukan sesuai dengan adat-istiadat Suku Iwang dan Swen Samon. Pemerintah datang menyaksikan saja dan memberikan pengakuan. Hal yang sama juga terjadi di beberapa kampung lain.

Bupati Jayapura berharap, pengelolaan kampung-kampung adat dilakukan secara adat oleh masyarakat adat Suku Iwang dan Swen Samon. Kampung adat memiliki sumberdaya yang cukup, sehingga pemerintah hanya hadir memberikan dukungan-dukungan seperlunya saja.

“Saya harap kampung-kampung adat ini dikelola secara swadaya dan diharapkan tampil dengan kekhasan budaya masing-masing. Mereka terbuka dan bersedia untuk menerima pembangunan agar tampil dalam pembangunan. Mudah-mudahan semangat ini terus kita dorong untuk menjadi kekuatan bagaimana persoalan percepatan pembangunan di tempat ini bisa teratasi”, harap Mathius Awoitauw di Klaisu.

paskalis keagop

Kabupaten Yalimo Berusia Sebelas Tahun

Kabupaten Yalimo merayakan ulang tahunnya yang ke-11 pada 21 Juni 2019 lalu. Ibadah syukur dirayakan dengan tema: “Dengan Semangat Hari Jadi yang ke–11 Tahun, Mari Kita Wujudkan Masyarakat Yalimo yang Mandiri, Berdaya Saing dan Sejahtera”.

PEMERINTAH dan masyarakat Kabupaten Yalimo bersuka cita merayakan hari ulang tahun ke sebelas Kabupaten Yalimo di aula kantor bupati lama di Elelim, pada Jumat 21 Juni 2019 lalu.

Seluruh masyarakat, para pejabat Muspida, aparatur sipil negara, kepolisian, TNI, pemuda, anak-anak sekolah, tokoh-tokoh masyarakat, pihak lembaga keagamaan, hadir merayakan ibadah syukur hari ulang tahun ke-11 Kabupaten Yalimo di Elelim.

 Ibadah syukur HUT Kabupaten Yalimo ke-11 tahun 2019 dirayakan dengan tema: “Dengan Semangat Hari Jadi yang ke–11 Tahun, Mari Kita Wujudkan Masyarakat Yalimo yang Mandiri, Berdaya Saing dan Sejahtera”, dan sub tema: “Melalui HUT Kabupaten Yalimo yang ke–11 Tahun, Mari Kita Bekerja Membangun Yalimo yang Lebih Baik”. Ibadah Syukur dipimpin oleh Pendeta Yahya Walianggen.

Bupati Yalimo, Lakius Peyon, dalam sambutan ibadah syukur menyampaikan banyak terima kasih kepada Tuhan karena perlindungan-Nyalah, sehingga kita boleh hadir bersama-sama untuk beribadah dalam kerangka merayakan HUT Kabupaten Yalimo yang ke 11. Karena Tuhan itu selalu baik. Tuhan sudah memberikan Kabupaten Yalimo mulai dari tahun 2008 sampai dengan hari ini. Tuhan sudah memberikan berkat terlalu banyak kepada kita semua.

Bupati Yalimo Lakius Peyon mengikuti ibadah syukuran HUT ke-11 Kabupaten Yalimo di Aula kantor bupati di Elelim pada 21 Juni 2019 lalu. foto humas setda yalimo.

“Saya perlu juga sampaikan bahwa pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif tahun 2019 sudah selesai. Jadi saya mengajak kita semua untuk dapat melupakan semua hal-hal yang sudah terjadi saat pemilihan. Mari, kita bangkit untuk kemajuan Kabupaten Yalimo.  Jangan ada permusuhan diantara sesama orang Yalimo. Mari kita bersatu demi kemajuan Kabupaten Yalimo”, ajak Bupati Yalimo.

Lakius Peyon juga menyampaikan kepada semua pihak bahwa kegiatan pembangunan akan tetap berjalan seperti biasa. Pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Yalimo akan jalan terus. “Jadi mari bekerja sesuai dengan program yang sudah ada”, tegas Bupati.

Logo Kabupaten Yalimo.

Ketua Panitia HUT ke-11 Kabupaten Yalimo, Yan Wandik mengatakan dalam kerangka perayaan HUT ini, diadakan beberapa kegiatan, diantaranya ibadah syukur, bakar batu dan pemotongan kue ulang tahun Kabupaten Yalimo.

“Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah hadir pada hari ini untuk menghadiri perayaan HUT Kabupaten Yalimo pada hari ini”. 

Perayaan ibadah syukur HUT ke-11 Kabupaten Yalimo itu dihadiri Bupati Yalimo, Lakius Peyon; Plt. Sekretaris Daerah Yalimo, Isak Yando; para kepala organisasi perangkat daerah, aparat sipil negara, masyarakat dan para undangan.

humas & protokol setda yalimo