ADAT MEMBANGUN DARI KAMPUNG

Deklarasi kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura telah memasuki tahun kelima. Ibadah syukur HUT kelima 2018 dirayakan di Lapangan Mandala Nimboran, pada Rabu 24 Oktober lalu.  

Tugu Koperasi Jawa Datum di Lapangan Mandala Nimboran

SEBELUM perayaan syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat di Lapangan Mandala Nimboran, panitia yang dibentuk pemerintah Kabupaten Jayapura memulainya dengan diskusi nasional di Hotel Alison Sentani pada Senin 22 Oktober lalu dengan menghadirkan perwakilan pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Papua, DPR Papua dan MRP, akademisi, lembaga swadaya masyarakat nasional dan daerah, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Samdana Institut, pemuda serta para tokoh adat dari sembilan dewan adat suku yang ada di Kabupaten Jayapura.

Diskusi nasional selama sehari dengan tema ‘Otoritas Masyarakat Adat dan Pembangunan Daerah’ dan sub tema ‘Adat Membangun dari Kampung’ itu menghasilkan rekomendasi yang ditujukan kepada presiden Republik Indonesia, gubernur Papua dan Papua Barat serta 42 bupati dan walikota di Tanah Papua.

Rekomendasi yang dihasilkan dalam diskusi nasional itu berkaitan dengan percepatan regulasi terkait dengan status masyarakat hukum adat, percepatan yang terkait dengan penyelenggaraan pembangunan, penyelenggaraan iven nasional, penyelenggaraan pemerintahan adat serta penyelenggaraan pemberdayaan ekonomi masyarakat adat, hak-hak ulayat, hak-hak ekonomi masyarakat adat dan peranserta masyarakat adat dalam pembangunan daerah maupun pembangunan nasional.

Hasil rekomendasi diskusi nasional itu kemudian dibacakan oleh Ketua DAS Kabupaten Jayapura Daniel Toto saat perayaan syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat di Lapangan Mandala Nimboran 24 Oktober lalu.

Selain diskusi nasional, digelar pula pameran pembangunan berbagai hasil karya masyarakat adat dari sembilan dewan adat suku pada Selasa 23 Oktober. Pameran dibuka Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro. Ada sekira 47 stand yang disiapkan panitia untuk memamerkan berbagai hasil karya masyarakat maupun oleh organisasi perangkat daerah Kabupaten Jayapura.

Pasar rakyat di Nimboran. foto diambil 24 Oktober 2018 oleh Paskal Keagop

Syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat 2018 dirayakan dengan tema ‘Adat Kuat, Ekonomi Meningkat, Jayapura Berkualitas’, dan sub tema ‘Membangun Produk Unggulan sebagai Strategi Pembangunan Wilayah’.   

Masyarakat dari DAS lain tak nampak. Hanya masyarakat Lembah Grime yang meramaikan syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat 2018 yang dimeriahkan oleh sekira 50 lebih kelompok seni dan tari-tarian adat selama dua hari.

Beberapa kampung di Lembah Grime yang mengisi stand selama syukuran ulang tahun kelima kebangkitan masyarakat adat diantaranya: Kampung Ungguyap, Distrik Nimbokrang, Ibub, Sanggar Ipad Nambluong.KI Yawa Datum, Sanggar Kampung Imestum Distrik Namblong, Kampung Adat Ketmung, Kampung Kuwase dan Kampung Sanggai Distrik Namblong. Masyarakat kampung dari Distrik Nimboran, Nimbokrang dan Namblong yang mendominasi stand, sementara masyarakat kampung dari distrik lain tak terlihat.

Pendeta Robby Depondoye yang memimpin ibadah syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat dalam bacaan Injil Yosua 1: 8 – 9 mengatakan hukum Tuhan hendaknya jadi landasan kehidupan masyarakat adat, dan jadi landasan penerapan hukum-hukum adat. Kualitas adat akan kuat tergantung pada kualitas penerapan hukum Tuhan. Hukum Tuhan harus direnungkan siang dan malam untuk melihat perjalanan hidup kita apakah hukum Tuhan dan hukum adat itu berjalan selaras atau tidak.

“Hak-hak kita, bumi dan air yang diberikan oleh Tuhan kepada kita harus dipertahankan, tidak untuk diperjualbelikan untuk alasan dan kepentingan apapun. Kalau tidak, kita akan kehilangan masa depan”, tegas Robby Depondoye.

Ibu-ibu jualan pinang pada perayaan ulang tahun masyarakat adat Kab Jayapura di Lapangan Mandala Nimboran, 24 Oktober 2018. Foto Paskal Keagop

Ketua Panitia HUT Kelima Kebangkitan Masyarakat Adat, yang juga Asisten I Setda  Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri dalam laporannya mengatakan tujuan syukuran lima tahun ini untuk: 1) Mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa Kabupaten Jayapura adalah Kabupaten yang dibangun di atas jati diri sesuai keaslian dan kearifan lokal yang diakui keberadaannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagaimana diatur dalam SK  Bupati Jayapura Nomor 319 tentang Pengakuan Masyarakat Adat Kabupaten Jayapura dan SK Bupati Jayapura Nomor 320 tentang Pembentukan Kampung-kampung Adat di Kabupaten Jayapura, serta ditetapkanya Perda Kabupaten Jayapura Nomor 8 tentang Kampung Adat.   

Kedua, pelaksanan HUT kelima kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura merupakan wujud dari implementasi peraturan perundang-undangan sebagaimana telah ditetapkan sembilan wilayah adat dan kampung-kampung adat yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan bupati Jayapura yang hingga saat ini telah ditetapkan dalam proses sebanyak 42 kampung adat di Kabupaten Jayapura.

Sementara dasar hukum perayaan hari ulang tahun kebangkitan masyarakat adat, adalah: 1) UUD 1954 Pasal 18 B. 2) Peraturan Mendagri RI Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan. 3) Peraturan Mendagri RI Nomor 52 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat-istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat. 4) Peraturan Bupati Jayapura Nomor 8 Tahun 2016 tentang Kampung Adat.

Kelima, Keputusan Bupati Jayapura Nomor 319 Tahun 2014 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. 6) Surat Keputusan Bupati Jayapura Nomor 320 Tahun 2014 tentang Pembentukan kampung-kampung adat di Kabupaten Jayapura. 7) Surat Keputusan Bupati Jayapura tentang Pembentukan Panitia 9 Hari Ulang Tahun Kebangkitan Adat Tahun 2018.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw dalam sambutan syukuran lima tahun kebangkitan masyarakat adat yang dipusatkan di Lembah Grime mengatakan kebangkitannya baru berusia lima tahun, tetapi adat sudah ada sebelum kita yang hadir hari ini lahir ke muka bumi. Adat sudah ada dan adatlah yang membentuk bangsa ini. Adatlah yang membentuk peradaban ini, adatlah yang berjuang untuk menghadirkan perubahan-perubahan di Tanah Papua. Ketika Injil disebarluaskan, adatlah yang berjuang mencari dan membawa masuk ke kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.

Pemerintah juga demikian. Adatlah yang pergi mencari guru-guru hadir di kampung-kampung supaya ada perubahan, ada kemajuan, supaya ada martabat kehidupan yang lebih baik ke depan. Adatlah yang memulai semua karya-karya besar ini.

“Oleh karena itu, perayaan kebangkitan adat di usia kelima hari ini untuk merefleksikan kembali bahwa mereka sangat berjasa untuk menghadirkan perubahan-perubahan yang luar biasa, yang kita nikmati sampai hari ini. Kita bisa cerdas karena kerja keras mereka menghadirkan guru-guru di kampung-kampung”, ujar Mathius Awoitauw di Lapangan Mandala Nimboran 24 Oktober lalu.

Deklarasi kebangkitan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura dilakukan pada 24 Oktober 2013 lalu dan tanggal itu telah ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura yang akan dirayakan tiap tahun pada 24 Oktober.

paskalis keagop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *