26 April

Mungkin saudara pikir apa yang saya lakukan tolol, tapi saya akan lakukan apa yang saya pikirkan bagi masyarakat saya sebelum saya mati. (Arnold Clemens Ap)

TIDAK seperti di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini peringatan kematian budayawan Papua, Arnold Clemens Ap , 26 April, dilakukan bahkan secara terbuka melalui arak-arakan ke pemakaman umum Abepura, Jayapura (tempat peristirahatan terakhir Arnold A dan rekannya, Eduard Mofu). Tak banyak memang yang ikut memperingati. Boleh jadi, banyak yang sudah tak ingat lagi pada prahara budaya ini.
Namun, tampaknya, ini lantaran peringatan yang baru tahun ini diselenggarakan dadakan dan sangat minim pemakluman ke khalayak Papua. Kita baru mulai tahun ini, masih perlu sosialisasi,” komentar salah satu peserta saat hajatan dipusatkan di makam.

Tidak seperti iring-iringan massa pengantar jenazah Ap saat pemakamannya pada  28 tahun lampau. Yang diibaratkan seorang penulis dengan massa pengantar pejuang kulit hitam Amerika, Pendeta Martin Luther. Jenazah diantar dengan iringan lagu-lagu rohani. “Mirip negro-spirituals.”

Peringatan kematian Arnold Ap (termasuk Edu Mofu), 26 April 2012, dimulai dari halaman Museum Antropologi, Universitas Cenderawasih di Abepura mulai pukul 09.00. Dari sini, puluhan orang yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Papua (SKPHP), meliputi komponen, seperti BUK, Garda-P, TIKI, MPM Umel Mandiri, GMKI, Asrama STT GKI I.S. Kijne, ELSHAM Papua, KONTRAS Papua, Foker LSM, BEM UNCEN, Grup Eyuser, KORK dan simpatisan (juga wartawan yang meliput) berjalan kaki menuju makam Arnold Ap (dan Eduard Mofu) di Pemakaman Umum Abepura).

Usai prosesi di makam: penaburan bunga, pembacaan puisi dan siaran pers, peserta kembali lagi ke Museum untuk melakukan pentas seni lagu-lagu Mambesak.

Grup seni-budaya Mambesak yang didirikan Arnold Ap, dan kolega pada 1978, menjadi pelopor kebangkitan budaya Papua yang pada di masa itu sudah keteter mengangkat dominasi budaya luar. Tapi di era pemerintahan represif Soeharto, upaya menggali dan menghidupkan budaya lokal Papua justru membuat gamang penguasa militer. Seakan upaya itu menyemangati solidaritas kepapuaan dan condong mendukung gerakan Papua merdeka.

Arnold Ap dan rekan-rekan Grup Mambesak mengangkat dan mempertahankan budaya orang Papua pada masa Orde Baru yang bernuansa sangat militeristik, kata Ketua Panitia Peringatan. Di masa itu, berbagai pentas seni budaya, seperti musik, tari, mop, teater digiatkan dengan museum Antropologi Uncen sebagai pusatnya. Ap, saat dibunuh, adalah kepala museum tersebut.

Mambesak berhasil meletakkan landasan budaya melalui semangat Mambesak hingga ke seluruh pelosok Papua, sebab itu jasa para pahlawan Mambesak seharusnya menjadi momentum bagi orang Papua untuk memperingati sebagai hari kebesaran budaya, lanjut Lokbere.

Kematian Ap mematrikannya sebagai martir budaya Papua yang akan terus dikenang sepanjang massa.

Kamis, 24 Mei 2012 10:54
Ditulis oleh Joost W. M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *